Home Ekonomi Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Membawa Optimisme Perekonomian Indonesia

Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Membawa Optimisme Perekonomian Indonesia

151
0
Webinar Seri #2 yang diselenggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PSEP) Universitas Trilogi bertema Refleksi Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Subiakto Tjakrawerdaya, Rabu (11/8/2021). Foto: Hasil Tangkap Layar

BERNASNEWS.COM — Pemikiran Almarhum Prof Subiakto di dalam buku Sistem Ekonomi Pancasila membawa optimisme dan sudah komprehensif untuk mengenalkan sistem ekonomi Pancasila kepada pembaca baik yang berbasis ekonomi maupun non ekonomi. Buku ini memberikan kontribusi yang tidak kecil dalam mewujudkan perekonomian nasional yang dibangun berbasis nilai yang hidup dan berkembang di bumi nusantara.

Hal itu disampaikan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, Mec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai narasumber dalam Webinar Seri #2 yang diselenggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PSEP) Universitas Trilogi bekerjasama dengan penerbit Rajagrafindo. Webinar bertema Refleksi Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Subiakto Tjakrawerdaya tersebut juga menghadirkan narasumber lain yakni Prof. Dr. Haryono Suyono, Menko Kesra dan Taskin 1998; Dr. Fuad Bawazier, Menteri Keuangan 1998.

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, Mec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai narasumber dalam Webinar Seri #2 yang diselenggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PSEP) Universitas Trilogi. (Foto: Hasil Tangkapan Layar)

“Jika melihat pemikiran almarhum Subiakto, maka tidak cukup hanya dari buku Sistem Ekonomi Pancasila saja, beliau juga menyampaikan pemikirannya melalui seminar, pidato, dan buku lain seperti buku Koperasi Indonesia yang terbit pada tahun 2014,” papar Prof. Edy, Rabu (11/8/2021).

Menurut Guru Besar Ilmu Ekonomi itu, didalam buku Koperasi Indonesia, pemikiran Prof Subiakto tidak terhenti hanya pada wacana saja tentang koperasi, namun juga berlanjut dalam diskursus menyangkut ekonomi Pancasila.

Diskursus tentang sistem ekonomi Pancasila, lanjut Prof. Edy, sudah lama muncul dalam blantika intelektual Indonesia. Walaupun berbagai upaya membumikan ekonomi Pancasila dilakukan, namun masih jauh dari mewujud. Sistem ekonomi Pancasila belum terimplementasi sebagai rujukan bagi pengambil kebijakan sosial dan ekonomi dan tanah air.

“Sulit untuk mengharapkan pattern of thinking, pattern of feeling, dan pattern of action berbasis nilai pancasila jika secara normatif dan aplikatif tidak dikenalkan sungguh-sungguh tentang Ekonomi Pancasila,” tegas Prof. Edy. Buku ini sudah kongkrit memformulasikan ciri ciri ekonomi pancasila yang cukup memberi warna sesuai londisi faktual dan nilai panutan Indonesia.

Dr. Fuad Bawazier, Menteri Keuangan 1998 sebagai narasumber dalam Webinar Seri #2 yang diselenggarakan Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PSEP) Universitas Trilogi. (Foto: Hasil Tangkapan Layar)

Sementara itu, Prof. Haryono mengungkapkan, ekonomi kerakyatan yang dituju negeri ini harus memiliki cakupan luas dan tidak hanya model. Perlu strategi komunikasi yang kuat karena harus sejajar dengan ekonomi yang berkembang terdahulu.

“Mudah-mudahan dengan dikeluarkannya baru terkait ekonomi Pancasila ini akan memberikan penyegaran gagasan kita untuk mengkombinasikan ekonomi dengan cakupan luas dengan keluarga di desa, pelaku usaha, dan usaha rumahan lainnya. Ini adalah kegiatan ekonomi mikro yang dilakukan keluarga sebagai awal dari kegiatan bersama masyarakat luas dengan prinsip pelakunya banyak orang dengan tetap melestarikan gotong-royong,” terangnya.

Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh Dr. Fuad, bahwa buku Sistem Ekonomi Pancasila sangat komprehensif, isinya lengkap, pendekatannya ilmiah yang mudah dipahami. Menariknya buku ini juga memuat sejarah perjalanan pemikiran sistem ekonomi Pancasila dari tokoh selain pendiri bangsa, sehingga buku ini perlu dijadikan text book resmi yang saat ini sudah dimulai oleh Universitas Trilogi.

“Sekarang ini ekonomi berjalan tanpa ruh ideologi Pancasila karena terlalu pragmatis. Tidak adanya tujuan, GBHN,  dan ideologi maka Indonesia jelas akan terombang-ambing,” ungkap Dr. Fuad. (nu/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here