Home Seni Budaya Pementasan Tari Dasa Warsa BS Condroradono, Membuat Kagum Penonton

Pementasan Tari Dasa Warsa BS Condroradono, Membuat Kagum Penonton

537
0
Tari Kenyo Turangga Muda karya Dr. Kuswarsyanto, MHum, sebagai pembuka Pentas Seni Jeron Beteng, Sabtu (28/9/219), di Plaza Ngasem Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Pementasan tujuh tarian karya Almarhum Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Condoradono atau akrab disapa dengan nama Soenartomo dan putranya Dr. Kuswarsantyo, M.Hum, Sabtu (28/9/2019) malam, membuat kagum ratusan penonton yang memadati Plaza Ngasem, Jalan Polowijan, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Tampak hadir, Wakil Walikota Kota Yogyakarta Drs. Heroe Poerwadi MA, KPH. Notonegoro, Kapolsek Kraton Kompol Etty Haryanti, S.I.Kom, Camat Kraton Drs. S. Widodo Mujiyatno, dan lurah se Kecamatan Kraton, Yogyakarta.

Perhelatan seni tersebut dalam rangka Pentas Seni Kawasan Jeron Beteng yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakata bekerja sama dengan Pengetan (Ulang Tahun) 10 tahun Bale Seni Condroradono. Bale Seni (BS) Condroradono adalah wadah untuk pelestarian dan pengembangan seni budaya tradisi, serta wadah untuk kajian budaya bagi masyarakat/ komunitas seni secara terbuka. BS Condroradono berdiri dan diresmikan oleh Sri Sultan HB X, pada tanggal 19 Oktober 2009.

“Tujuan didirikannya BS Condroradono, memberikan apresiasi kepada anak dan ramaja tentang keragaman budaya tradisi. Memberikan ruan untuk berekspresi bagi generasi muda. Dan wadah dialog untuk pengembangan wawasan seni budaya. Selain memperkenalkan tari tradisi dengan orientasi variatif, yakni klasik, pengembangan, dan kreasi. Juga aktivitas pengembangan desain produk batik,” papar Dra. Kusminari, MPh selaku Ketua Panitia.

Wakil Walikota Kota Yogyakarta Drs. Heroe Poerwadi MA dalam sambutannya, mengatakan, bahwa potensi yang dimiliki Kota Yogyakarta dalam mendukung pariwisata dan menjadi aset utama adalah seni dan budaya. Sehingga keberadaan bale seni yang tumbuh adalah sejalan dengan program-program dari Pemerintah Kota Yogyakarta, terutama program Gandeng Gendong dan Gandes Luwes.

“Dengan program Gandeng Gendong, misalnya antar bale seni, kampung atau kampus, serta korporasi dapat berkolaborasi dalam penjelenggaraan pementasan di mana pun tempatnya guna mendukung pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta. Termasuk dalam program Gandes Luwes, yang lebih pada budaya,” kata Heroe.

Lanjut Heroe, Pemkot Yogyakarta sedang berupaya mengatur agar setiap bangunan mengacu pada arsitektur yang mencerminkan budaya Jawa, khususnya Yogyakarta. Juga penerapan dalam kurikulum di sekolah dengan berbasis pada budaya, termasuk pemakaian bahasa Jawa Kromo pada hari terntu dan kewajiban murid SD dan SMP dalam penguasaan tari klasik.

Sementara itu, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, menambahkan, sebagai sebuah organisasi BS Condroradono sudah berusia 10 tahun adalah usia yang cukup dewasa. Karena banyak organisasi yang tumbuh tidak sampai lima tahun sudah bubar. Dalam usia sepuluh tahun untuk berpikir ulang untuk kedepannya dalam melakukan inovasi.

“Ini sebenarnya tantangan karena banyak penggiat – penggiat klasik terbentur dalam berinovasi karena harus mengikuti pakem. Hal ini menjadikan dilema semua penggiat klasik, ini terjadi di seluruh dunia juga begitu. Di luar negeri penggiat klasik bisa berkembang dan bisa diterima oleh umum, ketika bisa menemukan slahnya, kapan berkarya sesuai pakem dan kapan bisa berinovasi. Dan berharap BS Condroradono dapat lebih mengembangkan inovasi-inovasi baru pada kesenian tradisional. Kedua, untuk memikirkan bagaimana mencoba menggunakan wahana-wahana kebudayaan dan kesenian tradisional sebagai sarana pendidikan pembentukan karakter sebagaimmana pesan Sultan HB X,” tutur Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Kridha Mardawa Keraton Yogyakarta.

Penyelenggaraan pementasan tari dipandu oleh MC, Uni Yutha dan Tere “Sothil” yang pembawaannya cukup renyah, sehingga acara malam itu bertambah meriah, membuat penonton tidak beranjak dari tempat duduknya. Bahkan semakin malam penonton yang hadir semakin banyak, meluber di halaman Plaza Ngasem. Sebagai penampil pertama, adalah Tari Kenyo Turangga Muda, Karya : Dr. Kuswarsantyo, M.Hum. Tari dengan koreografi pendek ini diciptakan dalam rangka memeriahkan meraih rekor MURI Njathil bersma Rektor UNY, tanggal 2 Mei 2019, di Lapangan Hoki UNY.

Berikutnya, Tari Golek Ayun-ayun oleh Kelompok Ibu-ibu Pandhemen Beksa. Tari karya KRT. Sasmintadipuro ini sangat popular di kalangan masyarakat karena sering ditampilkan sebagai welcome dance (tari selamat datang). Tari yang ditafsirkan tidak hanya menggambarkan gerak gerik remaja putri, namun juga menggambarkan ungkapan rasa syukur dan harapan ke depan yang lebih baik.

Sebagai karya ikonik KRT. Condroradono (Soenartomo), ditarikan secara medley yaitu Tari Klana Raja yang diciptakan tahun 1972, kemudia disambung dengan Tari Topeng Condroradono. Tari yang diciptakan untuk bahan ajar di SMKI Yogyakarta ini dibuat lebih sederhana dan mudah. Untuk  mahargya menyambut HUT ke 10 Bale Seni Condroradono, Dr. Kuswarsantyo, M.Hum menciptakan Tari Sekar Puja Nirmala yang ditarikan oleh 9 penari remaja putri.

Tari Jathilan tidak harus identik dengan ndadi atau kesurupan (trance), maka munculah ide Dr. Kuswarsantyo, MHum untuk menciptakan jathilan edukasi berdasarkan nilai religious, Tari Jathilan Religius Anak-anak “Raden Patah” berupa tarian dari nukilan cerita epik Raden Patah dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Sebagai penutup pagelaran Pengetan 10 tahu BS Condroradono ada dua tarian karya Dr. Kuswarsantyo yang tidak kalah menariknya, yaitu Tari Srimpen Turangga Manis. Tarian ini merupakan dekonstuksi tarian jathilan yang berima cepat dibuat menjadi lembut dan gemulai, dengan mengambil spirit tari Srimpi. Dan sebagai penutup Sendratari “Lawung Kumpeni”, tarian yang menggambarkan peperangan antara Pangeran Mangkubumi (HB I) dengan para Kumpeni dari Belanda. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here