Home News Pembangunan Bedah Menoreh Harus Mempunyai Visi Kerakyatan

Pembangunan Bedah Menoreh Harus Mempunyai Visi Kerakyatan

644
0
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo Pancar Topodriyo SE (kanan) saat menghadiri acara launching Bank Sampah di Dusun Paingan, Kulon Progo, Sabtu (19/9/2020),Acara launching Bank Sampah di Dusun Paingan, Kulon Progo pada, Sabtu (19/9/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Pembangunan Bedah Menoreh di Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pemerataan pembangunan dan mendorong ekonomi masyarakat Kulon Progo sesuai dengan konstitusi UUD 1945. Pembangunan Bedah Menoreh harus melalui tiga poros, yakni poros selatan, poros tengah dan poros utara.

Menurut Pancar Topodriyo SE, Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo, dalam acara launching Bank Sampah di Dusun Paingan, Kulon Progo, Sabtu (19/9/2020), untuk menuju Candi Borobudur, Kabupten Magelang melalui kawasan Bukit Menoreh antara lain Kapanewon (kecamatan) Temon, Kokap, Girimulyo, Samiggaluh Kalibawang (poros tengah) dan Candi Borobudur Magelang (poros utara). Sementara poros selatan Bandara Internasional Yogyakarta ata YIA (Yogyakarta Internasional Airport) menyambungkan tengah dan utara.

Pancar Topodriyo SE, Anggota DPRD Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo. Foto : Istimewa

Tiga poros ini harus diusulkan sesuai dengan rencana pengembangan wisata dari YIA sampai kawasan KSPN Borobudur. Diharapkan jalur Bedah Menoreh ini mengakses obyek wisata yang berada di Kulon Progo seperti Sermo, Kalibiru, Pule Payung, Kebun Teh Nglinggo, Puncak Suroloyo dan jalur wisata lainnya yang berada di Kabupaten Kulon Progo dan menyambung di Kabupaten Magelang yang merupakan poros utara.

Untuk itu, menurut Anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo dari Fraksi PDI Perjuangan ini, Kulon Progo harus menyiapkan konsep pengembangan wisata menuju poros jalur tengah atau konsep segitiga emas yaitu Mikro, Mezo dan Makro

Segitiga Mikro, menurut Pancar Topodriyo, bagaimana pengembangan kawasan Menoreh yang dilalui jalur jalan Bedah Menoreh harus mendapatkan multiplier effect atau efek ganda dan meningkatkan PAD dari sektor wisata.

Pancar Topodriyo SE, Anggota DPRD Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo. Foto : Istimewa

Sementara Mezo yaitu peningkatan pengembangan kawasan Menoreh yang on access obyek wisata perbukitan Menoreh. Dan Mikro adalah bagaimana pengembangan lebih luas meliputi antar daerah antar kabupaten seperti Purworjo dan Magelang.

“Antar kabupaten ini harus bisa bekerjasama bersinergi mewujudkan jalur jalan Bedah Menoreh menuju magnet besar KSPN Candi Borobudu. Hal ini harus bisa menjadi pesan positif kemajuan wisata di kawasan Kabupaten Kulon Progo yang merupakan kawasan konsentrasi antara Kulonprogo dan Kabupaten Magelang, yang kemudian menjadikan pengembangan sektor ekonomi yang luas seperti penginapan, homestay ataupun hotel yang berada di kawasan wisata Kulon Progo,” kata Pancar Topodriyo.

Tak kalah penting adalah pasar rakyat juga harus diberikan fasilitas akses jalan yang baik agar perekonomian di sekitar kawasan juga bergeliat. Pembangunan trase tol Solo-Jogja-YIA yang merupakan jalan bebas hambatan harus memperhatikan aspek pertumbuhan ekonomi wilayah.

“Jangan sampai pembangunan trase tol ini akan merugikan dan mematikan perekonomian warga sekitar. Dan kalau pun sudah jelas detail engenering design jalur trase tol yang dilewati, maka pemkab dalam hal ini Dinas terkait segera melaksanakan sosialisasi dengan rigid kepada masyarakat yang dilalui jalur tol tersebut agar warga masyarakat segera berkonsultasi dan berkordinasi untuk meminimalkan dampak permasalahan karena berkait dengan pembebasan lahan,” kata Pancar Topodriyo. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here