Saturday, May 21, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniPelayanan Prima Seorang Barista

Pelayanan Prima Seorang Barista

bernasnews.com — Barista, sebuah profesi baru yang banyak diminati anak muda 5 tahun terakhir ini sejak diputarnya film Filosofi Kopi yang sukses hingga dibuat dan diluncurkan seri Filosofi Kopi 2 medio 2017. Sukses menjadi seorang barista bukan hanya mengindikasikan ketrampilannya sebagai peramu/peracik kopi dengan berbagai variasi rasa, teknik maupun tampilan sajiannya.

Ada yang lebih mendasar bagi seoran Barista yaitu, sikap dan perilaku mereka yang bisa menumbuhkan suasana gembira, nyaman,dan menyenangkan bagi orang yang datang berkunjung untuk menikmati kopi yang disajikannya. Keterampilan bisa diraih melalui pelatihan-pelatihan maupun belajar mandiri melalui youtube serta jam terbang mereka sebagai seorang barista.

Keterampilan seorang barista perlu dilengkapi dengan sikap dan perilaku tertentu yang menjadi kekuatan bisnis jasa, yaitu pelayanan prima. Nah apa itu pelayanan prima dan bagaimana membentuk karakter seseorang untuk bisa memberi pelayanan prima, saya coba ilustrasikan dalam tulisan ini.
Sebuah obrolan ringan yang terjadi medio 2017 di sebuah warung kopi diawali dengan kalimat sederhana: “ Kita bisa memberi permen kalau kita punya permen”. Benar nggak ya pernyataan tersebut? Mereka yang saya ajak ngobrol menjawabnya benar. Siapakah mereka? mereka adalah para karyawan baru yang bekerja part time di warung kopi tempat obrolan terjadi.

Mereka masih mahasiswa dan beberapa baru saja lulus ujian skripsi, pengalaman kerja relatif belum ada tetapi pengalaman berorganisasi di kampus rata-rata mereka punya. Mereka adalah generasi milenial yang menurut penelitian hanya bertahan 7 bulan jika bekerja di perusahaan sejenis minimarket, warung kopi maupun usaha-usaha kecil sekelasnya.

Sebuah warung kopi sesungguhnya bukan hanya menjual kopi dan makanan pelengkapnya, tetapi lebih pada menjual suasana dan kenyamanan. Jadi pelayanan yang prima menjadi salah satu kunci sukses bisnis ini disamping kuatnya jaringan wifi yang disediakan, serta penataan ruangan maupun tempat parkir.

Secangkir kopi tetap hanya secangkir kopi tanpa kisah dan atraksi dalam proses pembuatannya. Maka peran seorang barista menjadi penting. Secangkir kopi dengan berbagai kisah dan atraksinya juga tidak akan memberi kesan jika cara menawarkan dan menyajikannya biasa saja. Peran seorang pramusaji menjadi ujung tombak terbentuknya perasaan nyaman dan betah para pelanggan untuk tetap datang dan datang lagi.

Lalu, apa hubungannya dengan pernyataan tentang permen tadi? Sebuah konsep pelayanan prima yang sederhana mulai diperkenalkan melalui pernyataan tadi. Kita bisa memberi permen jika kita punya permen. Kita bisa memberi kebahagiaan ketika kita memiliki kebahagiaan. Kita bisa memberi kenyamanan jika kita juga merasa nyaman. Kita bisa memberi semangat ketika kita sendiri memiliki semangat. Jadi itulah yang dibutuhkan seorang barista dan pramusaji untuk bisa menyediakan secangkir kopi sekaligus memberi perasaaan nyaman, semangat dan syukur-syukur mendatangkan kebahagiaan.

Modal bekerja mereka sebagai karyawan warung kopi adalah semangat, kegembiraan , rendah hati dan ketulusan melayani. Sangat mengharukan melihat seorang anak muda masa kini menyajikan kopi dengan sikap yang santun (badan sedikit membunguk, tangan kiri diletakkan di siku kanan lalu menyerahkan pesanan). Indah sekali. Saya yakin mereka tidak pernah melakukannya di rumah. Tetapi tuntutan pekerjaan membawa mereka untuk bersikap seperti itu.

Pelayanan prima butuh ketulusan, kegembiraan, semangat dan kerendahan hati, semuanya modal yang penting bagi kehidupan bermasyarakat dan bekerja dimanapun kelak mereka berada. Karyawan melayani pemimpin, pemimpin melayani pelanggan, pelanggan melayani sesama pelanggan teman ngobrolnya.

Semakin tinggi jabatan seseorang dalam sebuah struktur organisasi maupun perusahaan, maka semakin banyak orang yang harus dilayani. Orang nomor satu di Indonesia mesti punya kesadaran bahwa dirinya melayani 270 juta rakyatnya. Kalau sampai di pemikiran dan kesadaran saja tidak ada, jangan harap realisasinya. Maka tidaklah mengherankan jika ada seorang guru yang memberi contoh mencuci kaki murid-muridnya untuk menunjukkan betapa pentingnya semangat melayani dan rendah hati.

Masa muda adalah masa untuk mengumpulkan aset berharga dalam hidup. Bukan hanya harta benda, keilmuan, dan ketrampilan tetapi terlebih adalah sikap dan perilaku. Bermodal sikap dan perilaku yang baik dan benar maka harta benda akan datang mengikutinya. Membentuk sikap dan perilaku membutuhkan waktu yang relatif panjang. Butuh ketemu konteks (bekerja sebagai barista, pramusaji) untuk melatih dan membiasakannya supaya menjadi milik dan membentuk kepribadian diri.

Sebagai penutup, nampaknya perlu disadari bahwa panggilan hidup sebagai manusia adalah menjadi pembelajar. Seorang pembelajar yang sukses mesti punya sikap rendah hati (kosongkan cangkir), kesombongan akan membuat cangkir kita selalu penuh dan tak bisa lagi diisi dengan ilmu apapun oleh siapapun.

Ketulusan dan kegembiraan menjadi pelengkap seorang pembelajar untuk menjalani prosesnya dengan nyaman sehingga hasilnya optimal dan akhirnya hasil belajarnya bisa diberikan kepada orang lain. (Diah Utari BR, Dosen Manajemene FE Universitas Sanata Dharma)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments