Home Pendidikan PCM Karya Mahasiswa UNY, Alat Untuk Menimalisasi Kecelakaan Kerja

PCM Karya Mahasiswa UNY, Alat Untuk Menimalisasi Kecelakaan Kerja

115
0
Proses merangkai komponen untuk membuat alat keselamatan pekerja konstruksi menggunakan Portable Construction Maps (PCM) berdasarkan posisi lokasi dengan sidik jari. (Foto: Kiriman Humas UNY)

BERNASNEWS.COM — Selama ini langkah yang digunakan untuk melakukan pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dalam suatu proyek, yaitu dengan memberikan tanda pada lokasi berbahaya atau membatasinya dengan garis kuning.

Berdasarkan fakta inilah sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merancang alat keselamatan pekerja konstruksi menggunakan Portable Construction Maps (PCM) berdasarkan posisi lokasi dengan sidik jari. Mereka adalah Annurdin Rasyid, Ahsan Firdaus dan Dwi Setiawan prodi pendidikan teknik informatika, serta Hajidah Salsabilla Allissa Fitri prodi pendidikan kimia.

Mahasiswa UNY terdiri Annurdin Rasyid, Ahsan Firdaus dan Dwi Setiawan prodi pendidikan teknik informatika, serta Hajidah Salsabilla Allissa Fitri prodi pendidikan kimia sebagai perancang alat keselamatan pekerja konstruksi menggunakan Portable Construction Maps (PCM). Foto: Kiriman Humas UNY.

Karya ini berhasil meraih dana Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta tahun 2021.

Annurdin Rasyid menjelaskan, bahwa mereka merancang sistem manajemen pekerja konstruksi berbasis peta indoor atau indoor positioning system. PCM memiliki fokus untuk meningkatkan keamanan konstruksi.

“Prinsip kerja PCM menggantikan GPS dengan Beacon Bluetooth yang terpasang pada masing-masing lantai bangungan konstruksi untuk mendapatkan lokasi pekerja yang telah menggunakan Bluetooth Id Card,katanya.

Lanjut Annurdin, algoritma yang dipakai dalam menentukan keakuratan lokasi pekerja yaitu menggunakan Location Fingerprint Positioning (LFP) atau posisi lokasi dengan sidik jari. Produk ini meliputi Locator Node sebagai Beacon Bluetooth yang memindai pekerja. “Sementara Local Server yang mengolah data dari Locator Node menggunakan LFP, dan aplikasi web serta android untuk melakukan monitoring pekerja secara realtime,” ungkapnya.

Prototype alat PCM karya mahasiswa UNY yang berhasil meraih dana Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta tahun 2021. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Hajidah Salsabilla Allissa Fitri menambahkan, untuk Indoor Positioning System (IPS) atau Sistem Penentuan Posisi dalam Ruangan adalah jaringan perangkat yang digunakan untuk menemukan orang atau objek di mana GPS dan teknologi satelit lainnya tidak memiliki ketepatan atau kegagalan seluruhnya, seperti di dalam gedung bertingkat, bandara, gang, garasi parkir, dan lokasi bawah tanah.

“Sedangkan untuk pengiriman data digunakan WorkerTag yang dibuat seperti ID card atau tanda pengenal agar mudah dibawa pekerja dan tidak mengganggu mobilitas,” ungkap Hajidah.

Dikatakan,pada bagian depan WorkerTag terdapat QR code id pekerja dan identitas pekerja. Bagian belakang digunakan sebagai wadah untuk ESP32, buzzer, LED, dan baterai yang telah disatukan sedemikian rupa.

Sementara itu, Ahsan Firdaus menjelaskan PCM merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk memantau dan memberikan laporan mengenai lokasi kegiatan pekerja konstruksi. “Dalam menentukan lokasi pekerja, PCM menggunakan konsep Bluetooth Beacon Server Side dan Cloud Computing Google Cloud Platform,kata Ahsan.

Suasana konsultasi dan diskusi bersama dosen pembimbing. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Pekerja diharuskan mengenakan sebuah iBeacon Card berupa WorkerTag. PCM akan menggunakan iBeacon Card sebagai passive receiver bluetooth karena bentuknya yang seperti kartu dan bisa dijadikan kartu identitas pekerja. Cara kerja sistemnya yaitu memasang node pada masing-masing lantai sebagai langkah awal.

Setelah itu, terang Ahsan, unggah denah lantai pada web dan pasang node sesuai lokasi aslinya. Kemudian dilakukan kalibrasi lokasi menggunakan WorkerTag pada beberapa lokasi. Pekerja yang mengenakan WorkerTag akan diidentifikasi oleh node pada masing-masing lantai.

Local Server akan menerima data dari seluruh node dan menentukan lokasi pekerja berdasarkan besaran sinyal yang diterima dari WorkerTag. Lokasi masing-masing pekerja akan muncul kedalam web dashboard untuk selanjutnya bisa diawasi oleh admin,” bebernya.

Selain itu, imbuh Ahsan Firdaus, admin dapat menambahkan lokasi berbahaya dalam peta untuk memberikan agar sistem dapat memberikan tanda peringatan ke pekerja yang berada pada lokasi bahaya secara otomatis melalui lampu dan suara. (*/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here