Paus Fransiskus dan Religiusitas Inklusif

    417
    0
    Ben Senang Galus, penulis buku "Kosmopolitanisme Satu Negeri Satu Jiwa", tinggal di Yogyakarta)

    BERNASNEWS.COM – Semenjak diangkat Paus Fransiskus menjadi Paus, 19 Maret 2013, salah satu visinya yang mendalam bagi komunitas agama-agama ialah mengenai perdamaian dunia. Paus tak lelah memperjuangKan perdamaian dunia bagi negara-negara yang sering berkonflik, terutama negara-negara di Timur Tengah.

    Harian Kompas, 18 Maret 2021, mengutip pernyataan Paus Fransiskus ketika mengunjungi Myanmar 2017 mengatakan, ”Darah tidak menyelesaikan apa pun dan karena itu dialog harus dikedepankan”. Berkenaan dengan kondisi terakhir Myanmar, Paus Fransiskus menyatakan, “BahKan saya siap berlutut di jalan-jalan Myanmar dan mengatakan hentikan kekerasan”.

    Seorang teman Muslim melalui Whatsapp kepada saya, 15 Maret 2021, mengatakan “Dialah barangkali pemimpin modern umat Katolik yang mencurahkan banyak energinya untuk memberi semangat kepada semua orang dari kalangan agama apa pun untuk membangun dunia dalam perdamaian. Visi perdamaian Paus Fransiskus mengikuti jejak pendahulunya Paus Yohanes Paulus II yang selalu memperjuangkan kehidupan yang berkesataran, berkeadilan, hospitalitas, dan bebas konflik.”

    Visi Paus Fransiskus memiliki relevansi yang kuat dengan situasi dunia saat ini yang tidak pernah sepi dari penindasan dan konflik. Yang memprihatinkan konflik bersumber salah satunya dari agama, yang justru sering dijadikan sebagai sumber dan bahan dialog oleh Paus Fransiskus.

    Dialog antaragama atau antariman sebagai salah satu jalan menciptakan perdamaian di dunia yang tidak henti-hentinya digagas oleh Paus Fransikus, hendaknya menjadi bagian dari praksis iman kaum beragama di tengah-tengah kemajemukan yang berpotensi menimbulkan konflik. Salah satu ruang sosial sebagai praksis iman untuk mengelola kemajemukan adalah pendidikan sebab beragam konflik sering muncul antara lain yang dipicu oleh perbedaan agama.

    Dalam tataran teoritik selalu dikatakan agama sebagai unsur sosial dengan tingkat sensitivitas yang tinggi. A Mukti Ali (1976), mengatakan, “tidak ada tema pembicaraan yang paling menggugah emosional selain tema agama. Ranah pembicaraan agama dapat melampaui ranah budaya, etnis, bahasa, dan lain sebagainya. Apabila, misalnya, etnis, bahasa, dan budaya, memiliki keterbatasan hanya dalam konteks kelompok tertentu yang secara kebetulan disatukan dengan latar belakang etnis, budaya, dan bahasa tertentu. Tapi, tidak dengan agama. Agama bisa merangkul perbedaan budaya, bahasa, dan etnis. Sehingga jika ada persoalan sosial seperti konflik yang dipicu oleh agama, maka dengan begitu cepatnya mendatangkan respons dari pihak yang memiliki kesamaan agama dengan pihak yang terlibat dalam konflik secara langsung, meskipun dari sisi budaya berbeda”.

    Sepanjang dekade ini peristiwa konflik sosial bernuansakan perbedaan agama semakin menajam di Indonesia. Dalam bentuk konflik realistik, selalu muncul ke permukaan (ingat peristiwa Baksos umat katolik Gereja St Paulus, Pringgolayan, peristiwa kekerasan Gereja Lidvina, Yogyakarta, peristiwa pemotongan salib di kuburan (semuanya di Yogyakarta) sampai pengeboman Gereja Santa Maria di Surabaya.

    Masing-masing komunitas agama sebenarnya sedang terjadi apa yang disebut dengan konflik autistik. Konflik autistik sebatas perbedaan dan kesalahpahaman di level pemahaman dan sikap. Sewaktu-waktu konflik autistik bisa berubah menjadi konflik realistik jika ada pemicunya. Perbedaan antara konflik realistik dan konflik autistik terletak pada artikulasinya. Dalam konflik realistik, pihak-pihak yang saling bertentangan sudah berhadapan, dan bahkan menggunakan cara-cara kekerasan fisik. Tentu tidak mudah mengeliminasi konflik autistik.

    Sebagai bagian dari pembentuk identitas manusia sebagaimana halnya etnis, budaya, dan bahasa, agama menempati posisi yang paling sublim dalam kehidupan manusia. Agama patut ditempatkan dalam posisi yang demikian karena salah satu bagian fundamental dalam cara mengada (mode of existence) manusia adalah, pencarian terhadap agama. Bahwa agama menjadi bagian penting dalam cara manusia mengada, bisa dibuktikan dari objek yang paling banyak dicari oleh manusia sepanjang hayatnya.     

    Agamalah yang paling banyak dicari. Proses pencarian manusia terhadap agama adalah kelanjutan belaka dari karakter manusia yang sejatinya merupakan makhluk religius. Dari sudut pandang kajian keislaman, agama pertama-tama diposisikan sebagai fitrah majbulah. Maksudnya, dalam diri manusia terdapat potensi beragama, sehingga manusia dalam pandangan Islam mudah menerima agama.

    Misteri yang Menggetarkan

    Tidak perlu dipersoalkan wujud eksoteris agama yang dipeluk manusia. Sebab apa pun wujudnya, penemuan dan penerimaan manusia terhadap agama pasti berawal dari kenyataan “misteri yang menggentarkan” (mysterium tremendum), dan “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinans).

    Dalam semua agama yang dipeluk manusia, baik yang melalui proses budaya maupun wahyu, bisa dipastikan terobsesi dengan kedua hal tersebut. Hal itulah yang membuat manusia memandang agama sebagai sesuatu yang demikian bermakna, tidak saja bagi dirinya sebagai makhluk pribadi, tetapi juga bagi kehidupan kolektifnya dengan komunitas manusia lainnya. Berikutnya, agama secara sosiologis menjadi identitas kelompok yang sulit dihilangkan.

    Ada kecenderungan yang sulit dihilangkan dalam kehidupan manusia secara berkelompok. Yaitu, manusia selalu mengidentifikasi dirinya dengan agama kelompoknya. Kecenderungan lain setelah agama mengalami eksternalisasi dan objektivikasi sebagai realitas kelompok, pada masing-masing anggota kelompok selalu menjaga eksistensi kelompoknya terutama jika ada penetrasi dari kelompok lain. Selalu saja muncul kecurigaan atau prasangka terhadap kelompok lain.

    Dan, tidak bisa dipungkiri, agama merupakan salah satu bagian dari prasangka. Prasangka itu, misalnya, tampak pada penilaian subjektif bahwa agama lain sebagai ancaman. Phobia terhadap keberadaan kelompok agama lain pun bersemai. Semua prasangka itu muncul dari pemahaman subjektif, tanpa perlu melakukan pemahaman secara fenomenologis. Meminjam ungkapan Walter Lippman: We do not first see, and then define, we define first and then see. Nah, konflik realistik dalam kehidupan agama bermula dari situasi pemahaman seperti ini.

    Salah satu institusi sosial penting dan strategis guna menanamkan konstruksi yang lebih bersimpati dan berempati terhadap keberadaan agama lain adalah pendidikan. Kita tentu sangat bergembira dengan munculnya usaha-usaha konstruktif untuk semakin mendekatkan jarak sosial (social distance) antarkelompok agama. Kegiatan dialog lintas agama sebagai salah usaha yang konstruktif tersebut, perkembangannya cukup menggembirakan belakangan ini. Tetapi tetap saja ada kritik terhadap usaha tersebut. Efek yang ditimbulkan dari kegiatan dialog lintas agama hanya terbatas pada kalangan tertentu, yaitu kalangan elitenya saja. Seringkali pula tema-tema yang didialogkan kurang sistematis. Sudah saatnya institusi pendidikan dimanfaatkan sebagai tempat persemaian untuk menumbuhkan sikap egaliter terhadap keberadaan agama lain.

    Dalam institusi yang memang sudah teruji ini, perlu dikembangkan pembelajaran agama bercorak multikultural yang dimulai sejak anak dini usia. Sejatinya, pendidikan sendiri seperti dikatakan oleh Donna M Gollnick dan Philip C Chinn dalam bukunya, Multicultural Education in a Pluralistic Society (2002), merupakan kegiatan yang bercorak multikultural mengingat beragamnya latar belakang warga belajar.

    Di beberapa negara maju seperti USA, pendidikan multikultural telah dijadikan sebagai strategi dalam menanamkan sikap egaliter terhadap keberadaan kelompok lain. Ini agak berbeda dengan praktik pendidikan di tempat kita. Istilah multikulturalisme sendiri baru berkembang dalam satu dasawarsa terakhir ini. Sedangkan di Barat, konsep multikulturalisme telah berkembang pada 1920-an.

    Ruang kita amat terbatas untuk mendiskusikan pengertian multikulturalisme yang memang sangat beragam. Penulis mencukupkan pada pengertian dari Watson (2000) bahwa, multikulturalisme merupakan suatu ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Tekanan multikulturalisme dalam definisi Watson terhadap penghargaan dan kesetaraan di tengah-tengah keragaman, bisa kita transfer ke dalam pembelajaran agama di sekolah. Maka gagasan pembelajaran agama bercorak multikultural, bisa dipahami sebagai suatu proses penyadaran terhadap adanya keanekaragaman agama serta kesediaan memberlakukan setiap agama secara egaliter.

    Dalam pembelajaran agama bercorak multikultural, seluruh warga belajar diajak menghayati secara fenomenologis keragaman agama di luar agama yang dipeluknya. Dalam rangka itu, para warga belajar diberi penguatan agar bisa mentransformasikan pengalaman agamanya yang subjektif, ke pengalaman agama yang disebut Hasan Askari (1991) dengan subjektivitas ganda (double-subjectivism).

    Dalam subjektivitas ganda, pengalaman masing-masing pribadi coba didialogkan untuk bersama-sama mencari titik temu (modus vivendi). Tentu saja, pembelajaran agama yang diharapkan bisa mendorong tumbuhnya pengalaman subjektivitas ganda, harus bertitik tumpu pada landasan teologi dan filsafat tentang kesetaraan agama.

    Kita tentu bisa berharap, jika pendidikan bisa digarap serius sebagai media untuk menumbuhkan sikap egaliter terhadap semua agama, maka keragaman agama bukan lagi sebagai ancaman, tetapi sebagai sumber perdamaian sebagaimana ditekankan oleh mendiang Sri Paus Yohanes Paulus II dan Paus Fransikus. (Ben Senang Galus, penulis buku Kosmopolitanis Satu Negeri Satu Jiwa, tinggal di Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here