Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePasutri Suminah dan Suyono, 22 Tahun Tekuni Kuliner Tradisional Kue Serabi

Pasutri Suminah dan Suyono, 22 Tahun Tekuni Kuliner Tradisional Kue Serabi

bernasnews.com — Bicara kuliner tradisional Nusantara tidak akan pernah habisnya, ada ribuan jenis makanan maupun panganan. Bahkan bisa jadi nama sama di suatu daerah tapi bahan untuk membuatnya berbeda, belum lagi menyoal varian yang aneka ragam.

Salah satu dari kekayaan kuliner itu adalah kue serabi. Kue berbahan utama tepung beras ini pun juga banyak macam, serta banyak varian cita rasanya dari cita rasa tradisional hingga kekinian, seperti rasa coklat, strawberry, keju, dan sebagainya.

Suasana lapak atau kios Kue Serabi Bu Suminah, di Dusun Kanutan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Minggu (12/6/2022) pagi. Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.com.

Di Kabupaten Bantul, DIY tepatnya di Dusun Kanutan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan (Kapanewon) Bambanglipuro, ada pasangan suami istri (pasutri), A. Suyono dan Suminah yang masih melestarikan kue tradisional serabi, dengan cara benar-benar masih tradisional.

Pemilik lapak ‘Kue Serabi Bu Suminah’ itu, dari penyediaan bahan, pengolahan dan peralatan memasaknya pun tetap mempertahankan cara-cara memasak jaman leluhurnya. Dan itulah sebenarnya kunci yang membedakan cita rasa dengan kue serabi lainnya.

Antonius Suyono sebagai ‘chef’ kue serabi yang memasaknya benar-benar secara tradisional, Minggu (12/6/2022). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnews.com

“Dari pemilihan kelapa untuk membuat santan kami parut secara manual pakai tangan. Sedangkan tepung beras kami gilingkan, kami mengandalkan tepung beras buatan sendiri bukan buatan pabrik,” terang Suyono pada bernasnews.com, Minggu (12/6/2022).

Dikatakan, bahwa usaha kuliner tradisional kue serabi dilakoninya selama 22 tahun, sejak tahun 2000. Bukak setiap hari Minggu – Jumat (Sabtu libur), Pukul 08:00 – 14:00 WIB. “Setiap hari kami hanya menghabiskan 3 kilogram tepung beras. Karena tenaga terbatas dikerjakan sendiri, tiga anak sudah mentas (berkeluarga) dan menetap di Semarang, Jakarta dan Lampung”, imbuh Suminah.

Seno dan Sinta pasturi muda penghobi kuliner dan taouring asal Kota Yogyakarta menikmati serabi kocor dengan piring pincuk dari daun pisang. (Tedy Kartyadi/ bernasnews.com)

Melihat cara memasak kue serambi juga menjadi sebuah hiburan tersendiri, wajan kecil dan tungkunya dari gerabah. Sementara bahan bakarnya dari sabut kelapa kering dan ranting-ranting yang masih banyak tersedia di sekitarnya.

Selain bisa dibawa pulang, kue serabi Bu Suminah juga bisa dikudap langsung di tempat, dengan pincuk daun pisan sebagai piringnya. Ada dua varian kue serabi, kue serabi manis gula Jawa dan kue serabi gurih yang disantap dengan semacam kuah manis, sering disebut serabi kocor. Pingin mencoba dan mencari? Silakan tanya mbah googel, walaupun usia sepuh, ternyata pasangan pembuat serabi itu juga gaul medsos. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments