Home Opini Pariwisata Indonesia Pasca Covid-19 dan Strategi New Normal

Pariwisata Indonesia Pasca Covid-19 dan Strategi New Normal

1745
0
Dr Jumadi SE MM, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram dan Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia Wilayah DIY)

BERNASNEWS.COM – Pandemi Covid-19 berdampak terhadap semua industri di Indonesia bahkan dunia, termasuk industri pariwisata. Dampak Covid-19 terhadap pariwisata sangat banyak karena industri pariwisata di Indonesia mempunyai keterkaitan dengan industri yang lain yaitu perhotelan, tranportasi, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terutama yang menghasilkan condera mata dan kuliner, restoran, biro perjalanan wisata dan pemandu wisata.

Nilai kerugian akibat Covid-19 tentu saja jika dinilai dengan rupiah secara nasional sangat besar. Namun kita hendaknya tidak hanya sebatas menghitung dan mengkaji dampaknya, namun diperlukan langkah-langkah konkrit dalam menyelamatkan industri yang menjadi tulang punggung banyak orang ini.

Dalam menyelamatkan industri pariwisata di Indonesia pasca Covid-19, diperlukan strategi, menurut hemat saya penanganan pariwsata di Indonesia dapat dilakukan dengan tiga strategi. Strategi jangka pendek. Strategi jangka ini dapat dilakukan melalui beberapa hal, antara lain pemerintah dengan kebijakan-kebijakannya dapat memberikan dukungan terhadap industri pariwisata di Indonesia terutama dukungan finansial atau stimulus terhadap biaya operasional, membuat SOP mitigasi bencara pariwisata termasuk wabah Covid-19 dengan membuat protocol kesehatan erutama di era new normal, menguatkan informasi terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan destinasi, penguatan destination management organization (DMO) terutama terhadap pengelolaan desa wisata, memperbaiki proses operasi pengelolaan destinasi pariwisata mulai dari mengelola informasi sampai dengan melakukan umpan balik dari para wisatawan, melakukan inovasi produk dengan membuat program digital tourism dan memperbaiki rantai nilai yaitu bagaimana mengelola pelanggan internal (karyawan supaya puas) dan menjadi loyal sehingga dapat memberikan layanan terbaik kepada wisatawan yang pada akhirnya wisatawan puas dan menjadi loyal.

Strategi jangka menengah. Strategi jangka menengah melalui strategy penthahelik yang merupakan strategi kolaborasi antara Academic, Business, Government, Costumer and Media (ABGCM). Penerapan startegi ini akan optimal apabila masing-masing mempunyai peran yang berimbang di bidangnya masing-masing sehingga dapat berkolaborasi dengan baik dan menghasilkan kekuatan yang luar biasa.

Perguruan tinggi mempunyai peran dalam mencetak SDM dan melakukan riset untuk menjawab kebutuhan industri bidang pariwisata terutama membuat program studi pengelolaan destinasi pariwisata dan Business melakukan aktivitas yang berorientasi untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata.

Sementara pemerintah mempunyai peran dalam membuat kebijakan terutama dalam roadmap pengembangan industri pariwisata. Untuk lebih efektf dan efisien maka di era digital ini maka idelanya menggandeng media untuk sosialisasi terhadap kebijakan dan terutama yang terkait dengan industri pariwisata serta penguatan program promosi pariwisata. Dan yang tidak kalah penting adalah melibatkan pelanggan atau komunitas dalam mengembangkan pariwisita di Indonesia.

Dan strategi jangka panjang. Strategi ini dapat dilakukan dengan mendesain siistem manajemen operasi (operation management system) industri pariwisata. Dalam operation management system di industri pariwisata perlu memperhatikan beberapa elemen penting yaitu input, process, output dan outcome.

Dari sisi input yang perlu diperhatikan adalah pembenahan kualitas destinasi, kualitas sumberdaya manusia dengan menerapkan standar kompetensi dalam industri pariwisata dan penyediaan fasilitas pendukung yang memadahi yang memenuhi standar keamanan dan kenyamanan.

Dari sisi proses yang perlu diperhatikan adalah; dukungan kebijakan pemerintah terhadap industri pariwisata, kualiatas layanan internal yang baik (fasilitas bagi para pekerja), kualitas layanan eksternal yang baik (penyediaan fasilitas untuk wisatawan), perbaikan program pemasaran yang terintengrasi dengan melibatan stakeholders.

Setelah proses tersebut dilakukan maka output-nya adalah kepuasan dan loyalitas wisatawan sehingga outcome yang diharapakan adalah kunjungan kembali wisatawan dengan membawa rupiah yang lebih banyak. Untuk memperoleh outcome yang optimal tentu saja harus didukung oleh penerapan manajemen yang baik dengan pendekatan total quality management. (Dr Jumadi SE MM, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram dan Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia Wilayah DIY)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here