Panggil Aku Biarawati, Panggilan Dari Perbukitan Menoreh Kulon Progo

    1405
    0
    Sr. M. Agatahanita Triyani OSF, Mahasiswa Manajemen ASMI Santa Maria, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

    BERNASNEWS.COM — Panggilan menjadi Imam dan Biarawan-Biarawati menjadi sesuatu yang khas dari Gereja Katolik. Pada awalnya saya juga tidak tahu tentang panggilan itu apa. Sehingga saya sampai lulus SLTA (th 1995) dan bekerja  juga belum tertarik untuk menjadi Suster (Biarawati). Saya berasal dari perbukitan Menoreh tepatnya di dusun Tetes, Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY.

    Saya berasal dari  keluarga petani yang sederhana . Orang tua saya Bapak  Antonius Kamijan Widiyanto ( alm) dan Ibu Maria Magdalena Ginem (alm). Saya anak ketiga dari 4 bersaudara dan saya anak putri sendiri.  Kakak dan adik sudah berkeluarga dan tidak lagi tinggal di kampung halaman lagi. Mereka tinggal ditempat mereka mencari nafkah sehari-hari. 

    Masa kecil saya hidup dengan bersusah payah, yaitu harus membantu orang tua mencari makan ternak, mencari dan memetik hasil kebun untuk dibawa ke pasar. Misalnya, singkong , kunyit, kapulogo dan harus digendong membawa ke pasarnya dengan melewati jalan setapak.

    Tranportasi belum banyak dan belum sampai di kampung, sehingga  harus jalan kaki. Sepatupun harus dihemat, setiap berangkat sekolah sepatu belum dipakai artinya berangkat tanpa alas kaki, baru kalau sampai di seberang sungai dan sudah dekat jalan besar baru sepatu dipakai. Tempat sekolah dan pasar kebetulan jalannya satu arah sehingga pada saat ada jadwal pasaran, maka berangkat sekolah sambil membantu orang tua membawa hasil kebun untuk dijual.

    Pada saat musim  kemarau selain mencari makan ternak juga harus mencari air untuk kebutuhan sehari-hari, sebab di desa saya, saat musim kemarau kami kekeringan.  Pada waktu kecilku belum ada tangki air maupun PAM. Biasanya mencari air bersama-sama tetangga karena tempatnya jauh dan jalan menurun dan berbatu, kalau pulang jalanya naik. Meskipun sudah mandi ya harus berkeringat lagi. Kebiasaan yang tak kalah penting, yaitu keteladanan orang tua yang selalu menekankan  hidup beriman dengan tekun berdoa, ramah, suka memberi dan terbuka, penuh persaudaraan. Kendatipun orang tua hanya petani yang sederhana, penghasilannya tidak banyak namun tetap  sayang pada keluarga terutama  anak-anaknya diberi kesempatan untuk mengalami pendidikan sampai SLTA.  

    Kerinduan anak desa yaitu setelah selesai sekolah ingin langsung kerja agar mendapatkan uang. Sayapun begitu, setelah selesai sekolah langsung meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di Semarang. Pada awalnya saya  diberi tahu oleh ibu saya untuk datang ke Biara OSF Boro, Kulon Progo menemui salah satu suster untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan. Maka saya bertemu dengan Sr. Yosea, OSF dan ditanya kepingin kerja di pabrik atau di biara? Saya memilih untuk bekerja di biara. Saya juga tidak menanyakan pekerjaannya apa, yang penting bekerja. Akhirrnya  saya diberitahu kalau kerjanya di Biara Suster OSF jalan Pemuda 159, Semarang, Jawa Tengah. Tanpa pikir panjang saya menerima pekerjaan itu, dan siap berangkat meskipun hanya berbekal  uang sedikit dan pakaian yang terbatas, maklum orang kampung pakaianya sederhana dan diantar oleh Sr. Yosea OSF, sekali lagi maklum orang kampung tidak tahu kota Semarang.

    Panggilan itu mesteri. Mengapa saya katakan mesteri karena kapan saja Tuhan menghendaki, maka terjadilah panggilan apabila ditanggapi oleh yang terpanggil. Pengalaman saya terpanggil setelah saya bekerja  di Biara Suster OSF. Mulai tertarik  dengan  kebiasaan cara hidup para suster yang teratur. Setiap pagi sudah mendengarkan suara merdu para suster berdoa. Serta kebersamaan saat makan, rekreasi, berdoa. Maka mulailah tertarik  untuk masuk menjadi Suster.

    Alasan saya masuk menjadi suster sangat sederhana, awalnya karena di kampung saya belum  ada yang menjadi suster (Iman dan Biarawan/ti) kalau bukan saya, siapa lagi? Juga ingin melayani Tuhan.  Kemudian saya mulai mengikuti proses untuk masuk menjadi suster, yaitu tahap masa Aspiran selama +   2  tahun. Saya masuk Kongregasi OSF Semarang (th 1998).  Postulan 2 Tahun, Novis 2 Tahun, kemudian  masa Yunior 5 Tahun, setelah itu menyerahkan diri secara total kepada  Kongregasi dengan mengikrarkan kaul seumur hidup (Th 2007).

    Bertitik tolak dari keluarga yang menanamkan / mengajarkan untuk bertekun dalam doa, Tuhan memilih saya untuk menjadi abdiNya lewat Kongregasi Suster-suster OSF Semarang. Pengalaman dari keluarga yang hidup sederhana, tekun kerja, harus bersusah payah, ternyata mendidik saya untuk bisa mandiri dan bersikap dewasa. Kongregasi Suster-suster OSF Semarang berasal dari Heythuysen,Belanda. Sekarang pusat Jenderalat berada di Roma, Itali.

    Sementara Kongregasi OSF berada di berbagai negara, antara lain di Belanda, Jerman, Polandia, Brazil, Amerika, Tanzania, Indonesia dan Dili. Di Indonesia Kongregasi OSF Semarang berada berbagai Keuskupan yaitu Semarang, Jakarta, Bogor, Denpasar, Padang, Ende, Maumere, Weetebula, Atambua, Kupang, Sorong, Tanjung Selor, dan Manado.

    Mengapa memilih OSF?

    Saya mengenal dan sudah tinggal bersama para Suster OSF selama saya bekerja, maka saya memutuskan untuk memilih OSF. Setelah saya masuk dan terlibat di OSF saya bersyukur sebab Tuhan telah menyertai perjalan saya hidup panggilan dalam biara. Dengan berbekal dari pengalaman-pengalaman di keluarga kemudian pendidikan di Postulat, Noviciat dan masa Yunior serta pengalaman hidup dalam karya, hidup bersama di komunitas serta menghidupi semangat Ibu Magdalena dan St. Fransiskus Asisi,  semakin membulatkan tekat saya untuk terus melanjutkan penjuangan menanggapi panggilan Tuhan

    Mengapa masih bertahan hidup di biara?  Kesetiaan terus dibangun, tidak lain dari komunitas di mana saya diutus atau ditugaskan. Di komunitas  terdapat perbedaan mulai dari budaya, suku, kepribadian. Dalam hidup di biara tidak pernah lepas dari masalah, konflik, dan juga pengalaman kesepian.

    Dengan perbedaan itulah saya terus ditempa untuk berjuang  menghadapi kesulitan, yang muncul dengan sikap kerendahan hati, terbuka, mengampuni dan terbuka dengan sesama anggota komunitas. Mereka sangat terbuka untuk membantu, memberika spirit dan tidak pernah membiarkan saya sendirian. Itulah indahnya hidup dalam biara, suka duka selalu ada dan mewarnai lembaran sejarah panggilanku.

    Karya pelayanan para Suster OSF yaitu, Pendidikan dari Paud/ Taman Kanak-kanan sampai Perguruan Tinggi, kesehatan, sosial, pastoral. Saat ini Konggregasi OSF berusia 186 tahun, tepatnya  pada tanggal 10 Mei 2021. Saya sejak mulai dari Postulan, Novisiat, Yunior kerap diserahi tugas di bagian dapur. Meskipun saya tidak ada pendidikan untuk memasak, namum karena tekun memasak maka saya dapat belajar banyak. Sehingga karya saya selalu yang berhubungan dengan dapur.

    Seperti pesan dari Ibu Magdalena Ibu Pendiri:”Dibiara sama sekali tidaklah penting karya apa yang dilaksanakan. Ketaatan mengangkat semua pekerjaan manjadi sederajat. Oleh karena ketaatan pekerjaan yang paling hina dan paling kecil menjadi setara dengan yang paling mulia dan paling unggul menurut pandangan Tuhan”. Membuat saya setia dengan melakasanakan tugas perutusan dengan penuh tanggungjawab dan berusaha menyelesaikan dengan baik. Karya pelayanan saya yang paling lama yaitu di dapur Novisiat SJ,Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah.  Karya di tempat yang lain, yaitu kerjasama dengan Tarekat lain. Karya perutusan di tempat tarekat lain harus bisa membawa nama baik dan menjaga relasi dengan baik.

    Setelah berkarya yang cukup lama, kemudian mendapatkan tugas perutusan yang baru yaitu untuk studi di ASMI Santa Maria Yogyakarta.  Memang menjadi pergulatan saya karena sudah lama tidak terlibat di dunia pendidikan, sekarang harus belajar. Namun saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengalami kesegaran kembali dalam ilmu pengetahuan agar tidak ketinggalan zaman. Semoga saya dapat menyelasaikan tugas studi ini dengan baik.

    Bagi kaum muda-mudi  yang masih lajang, saya mengajak silahkan untuk menanggapi panggilan Tuhan dengan masuk biara. Jagan takut, Tuhan akan menyelenggarakan “Deus Providebit”. Tidak ada kata terlambat meskipun sudah bekerja dan sudah berpendidikan tinggi. Namun semua itu kita serahkan kepada Tuhan, pasti Tuhan melimpahkan berkat yang melimpah. Jangan takut kalau tidak bisa dekat orang tua dan sanak saudara. Namun justru di biara kesempatan untuk membahagiakan orangtua dan merawat orang tua.

    Karena saya sudah mengalami dan saya sungguh bersyukur, lewat tembok biara saya justru bisa dekat dengan orang tua dan dapat memberikan perhatiaan di saat mereka akan mengahkiri peziarahan hidup mereka. Terimakasih Bapak,  Ibu, Kakak dan Adik serta sanak saudara dan teman-teman yang terus menurus mendukung pilihan hidup saya lewat doa, perhatian, bantuan yang sangat saya butuhkan sehingga semua  menjadi  lancar. Semoga semua kebaikan yang boleh saya terima, Tuhan berkenan memberikan berkat yang melimpah. Terimakasih. (Sr. M. Agatahanita Triyani OSF, Mahasiswa Manajemen ASMI Santa Maria, Yogyakarta)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here