Home Opini Pandemi Ekonomi dan Empati

Pandemi Ekonomi dan Empati

130
0
Ferrynela Purbo Laksono, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Pandemi telah memberikan dampak di seluruh belahan dunia. Musuh yang tidak kasat mata ini telah menjadi momok yang menakutkan.  Bahkan sekarang Covid-19 berdampak pada berbagai bidang. Tidak hanya bidang kesehatan namun juga sosial dan ekonomi.

Pendemi telah mengganggu kebiasaan-kebiasaan, budaya dan nilai dalam masyarakat Indonesia. Indonesia secara umum mempunyai budaya dengan masyarakatnya yang komunal. Artinya, lebih suka berkumpul, bertemu dengan kerabat, sanak saudara, dan kolega. Bahkan terdapat peribahasa Jawa mangan ora mangan kumpul. Kita Akan lebih puas jika bisa bertemu dan bertatap muka secara langsung, sekedar bertegur sapa, dan berbincang. Pertemuan secara fisik pun sekarang harus dibatasi

Pemerintah telah memberlakukan PPKM Darurat baru-baru ini. Penerapan PPKM Darurat mengingatkan kita pada awal-awal pandemi masuk di Indonesia. Sebagian masyarakat merasa galau. Pergerakan manusia kembali dibatasi. Terlebih ketika mendengar pemberitaan tingkat terpapar virus kembali melonjak. Di lingkungan dekat sekitar tetangga mulai ada yang harus menjalankan isolasi mandiri dirumah. Hal ini diperburuk dengan banyak terdengar kabar kematian.  Beban mental dan perasaan karena ketakutan tertular virus membuat kita menjadi bertindak diluar nalar.. Bahkan sempat terjadi panic buying untuk beberapa produk.

Kekhawatiran Sektor Ekonomi

Ekonomi menjadi sektor yang paling kentara terdampak pandemi. Sejak awal, secara ekonomi mengalami dampak dengan pelambatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2020 2,97 persem. Kuartal II ditahun 2020 sebesar -5,32 persen, kuartal III 2020 pertumbuhan -3,49 persen, Triwulan ke IV tahun 2020 -2,97 persen.

Data ini mengindikasikan bahwa pandemi telah memukul ekonomi dengan begitu tajam. Meski begitu, perbaikan-perbaikan telah membuahkan hasil yang positif namun belum cukup baik untuk mendongkrak ekonomi.

Kondisi Ekonomi ditahun 2021 mulai menunjukan tren positif, terlihat dari data yang diumumkan BPS pada kuartal I tahun 2021 menunjukan -0,75 persen. Hanya perlu dicatat pertengahan tahun kasus konfirmasi melonjak kembali. Varian baru dari virus membuat keadaan semakin tidak mengenakan. Mulai muncul kekhawatiran akan tren ekonomi yang merosot kembali

Pemerintah tentu mempunyai perhatian terhadap potensi persoalan ini. Tidak hanya pemerintah saja tapi juga mulai dari pengusaha, maupun pekerja. Pengusaha baik Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) maupun usaha besar. Pekerja mulai kuatir kehilangan pekerjaan karena pekerjaanya/ usaha mengalami kesulitan.

Pemerintah telah menggelontorkan bantuan dengan berbagai skema. Bantuan sosial dengan memberikan bahan kebutuhan pokok, maupun berupa uang tunai untuk masyarakat yang terdampak, bahkan sekarang telah sampai pada bantuan untuk UMKM. Sebagian masyarakat mempertanyakan efektifitas bantuan yang telah diberikan. Upaya tersebut tentu bertujuan baik dengan membantu masyarakat kecil yang terdampak.

Empati Kolektif

Masyarakat kita mempunyai karakter suka berinteraksi secara sosial. Gotong royong merupakan salah satu nilai yang kuat. Untuk itulah maka nilai ini bisa meningkatkan kebersamaan kita dalam mengatasi krisis pandemi. Perlu adanya gerakan kolektif untuk membangun empati bersama.

Masyarakat menjadi support system bagi komunitasnya. Mereka yang harus dikarantina membutuhkan dukungan untuk mampu bertahan. Alih-alih mengucilkan, akan lebih baik jika memberikan dukungan logistik, moral dan psikologis.

Begitu juga dengan mereka yang terdapak ekonomi dan harus kehilangan pekerjaan. Mereka juga harus mampu bertahan dengan memenuhi segala kebutuhanya. Tingkat pengangguran meningkat di tahun 2021. Data BPS menunjukan penganguran pada Februari 2021 meningkat 26,28 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebeumnya. Hal ini menunjukan masyarakat mengalami kesulitan dalam mencari pendapatan.

Pemerintah telah berupaya dengan sekuat tenaga, hanya sebagai sebuah catatan, Pemerintah mempunyai keterbatasan. Anggaran yang dicanangkan baik melalui APBN maupun APBD tentu terbatas. Perlu adanya sokongan dari masyarakat yang lebih luas untuk bersama-sama keluar dari kesulitan ekonomi.

Masyarakat yang kehilangan pekerjaan, mulai berbisnis untuk bertahan. Usaha-usaha baru mulai bermunculan dari olahan makanan, mulai memproduksi mode fesen yang mengikuti standar protokol bagi masyarakat. Gotong royong dan empati dapat ditumbuhkan untuk membantu mereka yang mencoba bertahan hidup.

Gerakan ini dimulai dari komunitas terkecil untuk bergerak bagi mereka yang sedang merintis bisnis. Mereka yang mampu membantu yang kurang mampu. Mereka yang mempunyai penghasilan cukup membantu dengan membeli barang dijual oleh para pengusaha baru.

Selain itu dari sisi pengusaha baru ini perlu untuk memperkenalkan produknya. Tanpa kegiatan marketing tidak banyak orang yang mengenal produk yang ditawarkan. Para pengusaha baru ini mulai memanfaatkan cara-cara baru untuk mempertemukan penjual dan pembeli. Dengan bantuan daring melalui sosial media, market place, dan juga bantuan dari orang terdekat.

Penutup

Semua elemen harus bergerak secara kolektif. Kolaborasi menjadi kunci guna melawan pandemi. Pemerintah mempunyai peran untuk mengkampanyekan kegiatan untuk membeli barang bagi para pengusaha muda ini.

Selain itu bisa menjadi inisiator untuk mengajak semua elemen masyarakat, media termasuk penggiat media sosial, akademisi dan juga aktivis gerakan masyarakat. Di sinilah akan tercipta ekosistem untuk mengajak semua komponen bergerak. Langkah ini dilakukan agar dapat menciptakan gerakan simultan, tidak bergerak sendiri-sendiri. (Ferrynela Purbo Laksono, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here