Home Opini Pandemi COVID-19 Memicu Naiknya Tenaga Kerja Informal

Pandemi COVID-19 Memicu Naiknya Tenaga Kerja Informal

593
0
Ir Laeli Sugiyono MSi, Statistisi Ahli Madya pada BPS Provinsi Jawa Tengah.

BERNASNEWS.COM – Sudah hampir satu tahun pandemi Covid-19 menerpa Indonesia sejak diumumkan kasus Covid-19 pertama kali Maret 2020. Hal ini memicu merebaknya fenomena tenaga kerja informal, lantaran kondisi perekonomian Indonesia memburuk dan memasuki era resesi ekonomi yang dicirikan dengan pertumbuhan ekonomi terkontraksi.

Konsekuensinya telah menekan tingkat kesempatan kerja terutama sektor formal. Pakar ekonomi mengungkapkan bahwa kesempatan kerja sektor formal dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: upah, pertumbuhan ekonomi, produktivitas, investasi dan inflasi.

Dampak pandemi sangat dimungkinkan tenaga kerja sektor formal bermigrasi ke sektor informal yang disebabkan pemutusan hubungan kerja.

Yang dimaksud dengan sektor informal adalah sektor yang tidak terorganisasi (unorganized), tidak teratur (unregulated) dan kebanyakan legal tetapi tidak terdaftar (unregistered). Di NSB (Negara-negara Sedang Berkembang), sekitar 30-70 persen populasi tenaga kerja di perkotaan bekerja di sektor informal.

Boleh jadi sektor informal menjadi penyelamat ekonomi nasional dalam situasi krisis. Namun, krisis ekonomi biasanya berdampak pada lonjakan jumlah pekerja informal. Oleh karena itu, kebijakan pemulihan ekonomi dinilai perlu memberi perhatian dan dukungan lebih pada sektor informal.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase pekerja informal meningkat menjadi 60,47 persen pada Agustus 2020 dari 55,88 persen year-on-year akibat pandemi Covid-19. Peningkatan pekerja informal lebih banyak didorong oleh pertumbuhan pekerja keluarga yang tak dibayar (2,8 persen), diikuti oleh berusaha dibantu buruh tidak tetap (0,92 persen), dan pekerja bebas di pertanian (0,51 persen).

Sebaliknya, pekerja formal selama Covid-19 turun 4,59 persen menjadi 39,53 persen dari sebelumnya 44,12 persen pada Agustus 2019. “Perubahan status pekerja utama tentu berpengaruh kepada persentase pekerja formal dan informal,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, Kamis (5/11/2020).

Sementara itu, jumlah pekerja penuh turun 9,46 juta orang menjadi 82,02 juta orang. Sebaliknya, jumlah pekerja paruh waktu dan setengah penganggur naik masing-masing 4,32 juta orang dan 4,83 juta orang.“Pandemi Covid membawa dampak luar biasa kepada tenaga kerja dimana pekerja penuh turun, tidak penuh naik,” jelasnya.

Namun, sebagian penduduk yang bekerja sekitar 82,02 juta orang atau 63,85 persen masih merupakan pekerja penuh waktu. Pandemi ini bedampak negatif dan positif bagi pekerja informal. Dampak negatif bagi pekerja informal yang tetap bekerja ditengah pandemi Covid-19 adalah berkurangnya pendapatan secara signifikan, terlebih untuk pedagang kecil mereka harus mengeluarkan modal seperti biasa namun keuntungan yang didapat menurun drastis bahkan merugi hingga mengalami kebangkrutan.

Stigma negatif juga diterima para pekerja informal dari konsumen ataupun orang-orang sekitar yang kedudukannya lebih tinggi, yang menganggap mereka adalah penyebar virus. Dampak positif yang dirasakan oleh pekerja informal disaat pandemi Covid-19 hampir tidak ada namun tanpa disadari dibalik pandemi ada hal positif , dirasakan atau tidak seperti halnya pekerja informal lebih melek terhadap teknologi digital, lebih memprioritaskan kebersihan dan kesehatan dibanding pekerjaan, dan lebih mementingkan pengelolaan kehidupan untuk ke depan.

Pengalaman tentang dampak positif dan negatifpekerja informal yang bekerja ditengah pandemi Covid-19 mencerminkan karakteristik (1) Pekerja informal merasa perekonomiannya terpuruk dan merasa terancam keberlangsungan hidupnya dan (2) pekerja informal yang berusaha mencari peluang dari keterbatasan ditengah pandemi Covid-19.

Karakteristik pekerja informal yang merasa terpuruk dan merasa terancam keberlangsungan hidupnya cenderung berpenghasilan sangat rendah, tidak mengenyam pendidikan, dan bekerja serabutan. Sementara untuk pekerja informal yang berusaha mencari peluang dari keterbatasan cenderung senang bersosialisasi, memiliki penghasilan sedikit lebih baik dan mengenyam pendidikan formal.

Pada hari-hari yang penuh tidak ketidakpastian ini, yang tidak kalah penting adalah menjaga kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah mampu mengatasi pandemi ini.

Pandemi harus segera dikendalikan agar tak menimbulkan masalah sosial ekonomi. Presiden AS Harry S Truman mengatakan, resesi adalah ketika tetangga kita kehilangan pekerjaan. Namun, resesi akan menjadi depresi jika kita sendiri kehilangan pekerjaan. (Ir Laeli Sugiyono MSi, Statistisi Ahli Madya pada BPS Provinsi Jawa Tengah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here