Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePolitikPancasila Harus Dijadikan Kurikulum Hidup Keluarga dan Masyarakat

Pancasila Harus Dijadikan Kurikulum Hidup Keluarga dan Masyarakat

BERNASNEWS.COM — Nilai-nilai dasar Pancasila perlu diketahui, dipahami dan dihayati dalam hidup berkeluarga sebagai tempat persemaian pendidikan pertama. Dan jadikan Pancasila sebagai kurikulum hidup keluarga dan masyarakat, bukan sekadar bahan indoktrinasi.

Hal itu disampaikan Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto Pr, Vikjen Keuskupan Agung Semarang, dalam Seminar Kebangsaan yang diadakan oleh Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) DPD DIY bekerjasama dengan Komisi Kerasulan Mahasiswa (Kokerma) Kevikepan DIY di Pendopo Margasiswa, Komisi Kerasulan Mahasiswa, Jalan Dr Wahidin Yogyakarta, Sabtu (31/8/2019).

Seminar yang dibuka oleh Lurah Kalurahan Klitren Ahmad Zainuri dan didampingi Moderator (Kokerma) Romo Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur SJ ini menampilkan pembicara dari lintas agama/iman yakni Herry Zudianto (ICMI DIY), Gregorius Sri Nur Hartanto (ISKA DIY), AA Alit Merthayasa (IHDI), Bramantya (Buddha), Bambang Praswanto (PIKI DIY), WS Aji Chandra (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia/MATAKIN) dan Halili (UNY-Setara Institute) serta Romo Yohanes Rasul Edy Purwanto Pr (Vikjen Keuskupan Agung Semarang).

Peserta menyimak materi yang dismpaikan pembicara dalam seminar kebangsaan yang diadakan ISKA DPD DIY di di Pendopo Margasiswa, Komisi Kerasulan Mahasiswa, Jalan Dr Wahidin Yogyakarta, Sabtu (31/8/2019). Foto : CB Islmulyadi

WS Aji Chandra dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia/MATAKIN) Solo mengatakan bahwa Pancasila seharusnya sudah ampuh. Dan Pancasila perlu dipraktikkan tanpa paksaan, karena nilai-nilai Pancasila terealisasi dengan sendirinya. Pada kesempatan itu, WS Aji Chandra pun memperkenalkan salam sapa menurut umat Khonghucu dan beberapa filosofi yang dipahami umat Konghucu.

Sementara Herry Zudianto dari ICMI DIY yang juga mantan Walikota Yogyakarta mengingatkan bahwa meskipun kita berbeda-beda agama, kita ditakdirkan untuk hidup bersama. Karena itu, kita harus saling menyatu dan saling membantu.

“Inilah kehendak Tuhan. Saya kira ini harus kita pahami sebelum membicarakan Pancasila sehingga bukan keimanan yang kita bicarakan dalam diskursus ini tetapi akhlak dan kemanusiaan. Bukan agamamu apa, agamaku apa,” tutur Herry Zudianto.

Seminar kebangsaan yang diadakan ISKA DPD DIY, Sabtu (31/8/2019). Foto. CB Ismulyadi

Romo Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur SJ mengatakan, untuk membangun kesatuan, maka kita perlu membangun imajinasi positif yang menyatukan seluruh komponen yang berbeda-beda.

Ketua ISKA DPD DIY Joko Wicoyo mengatakan, seminar kebangsaan ini merupakan realisasi rangkaian program ISKA DPD DIY. Sebelumnya, ISKA DIY pernah menyelenggarakan extension course kebangsaan. Melalui kegiatan ini, ISKA DPD DIY dan Komisi Kerasulan Mahasiswa (Kokerma) Kevikepan DIY mengajak para peserta untuk membangun komitmen dan menjalin sinergi menawarkan gagasan untuk Indonesia yang maju dan bermartabat menyongsong tahun emas HUT ke-100 Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar nilai-nilai dan norma dasar Pancasila. Joko Wicoyo berharap agar setelah seminar kebangsaan ini, ada seminar berikutnya yang diprakarsai oleh ICMI, PIKI, para cendekiawan Hindu, Buddha dan Konghucu.

Alit Mertayasa saat menyampaikan materi pada seminar kebangsaan, Sabtu (31/8/2019). Foto : CB Ismulyadi

Seminar Kebangsaan dengan tema Memperkuat Pancasila sebagai Dasar Falsafah Negara dan Ideologi Bangsa Melalui Revitalisasi Nilai-Nilai Dasar Pancasila sebagai Norma Dasar Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara ini dihadiri antara lain dari para pengurus/anggota organisasi massa Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Ikatan Sarjana Katolik (DPD maupun cabang), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI), Ikatan Cendekiawan Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu, para mahasiswa, Kementrian Agama DIY dan Kabupaten, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), Forum Relawan Demokrasi (FOREDER), Gemayomi (Gerakan Masyarakat Indonesia Melawan Intoleransi), Srikandi Lintas Iman (Srili), Muslimat NU, Aisiyah dan para mahasiswa.

Sementara AA Alit Merthayasa mengatakan bahwa dalam Agam Hidun ada yang disebut Tat Twam Asi yakni kemampuan melakukan kebajikan kepada orang lain, seperti engkau inginkan mereka perbuat bagi dirimu. “Siklus kehidupan dan ekosistem manusia-tumbuhan-hewan tetap harus dijaga secara seimbang. Kita perlu menggunakan segala sesuatu secukupnya dan memelihara bumi,” tutur Alit Merthayasa. (CB Ismulyadi, Anggota ISKA DPD DIY)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments