Home Seni Budaya Pameran “Terpenjara”, Sebuah Perjalanan untuk Kembali Pulang

Pameran “Terpenjara”, Sebuah Perjalanan untuk Kembali Pulang

789
0
Miftah Rizaq (ketiga dari kanan), sedang memberikan penjelasan tentang lukisannya yang berjudul "TERPENJARA" dalam pameran tunggal yang digelar di Galeri dan Kafe Tiga Roepa Yogyakarta, Sabtu (29/8/202). Pameran akan berlangsung hingga 13 September 2020. Foto : Maria Vita Puji

BERNASNEWS.COM – Miftah Rizaq, seorang seniman yang kini menekuni seni abstrak, menyelenggarakan pameran tunggal karya-karya terbarunya. Karya-karya Miftah yang khusus dipersiapkan pada pameran tunggal, digelar di Galeri dan Kafe Tiga Roepa Yogyakarta, pada 29 Agustus-13 September 2020. Area pameran dikemas seperti sel penjara dengan beberapa simbol yang diletakkan di sana.

Sebelumnya ,karya lukis Miftah Rizag berupa Solo Exhibition “Hitam Diatas Putih” dipamerkan di Semarang pada 2014 dan Solo Exhibition “Sahabat Pensil” di Salatiga pada 2014.

Karya-karya yang ditampilakan dalam pameran kali ini, lahir dari latar belakang peristiwa kelam dalam keluarga besarnya. Peristiwa yang berakibat pada satu perasaan yang sama, yakni keterpisahan. Suatu perasaan yang kemudian membangkitkan keputusasaan, suatu perasaan tidak berguna karena ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang menimpa keluarga besarnya, juga keluarga kecilnya.

Masalah yang terjadi kepada Miftah berawal dari kasus yang menimpa ayahnya, yang demikian memukul batinnya. Sebagai anak tunggal, ia tidak memiliki saudara kandung untuk berkeluh-kesah ataupun berembuk. Ia hanya mampu berdialog dengan ibu dan istrinya yang berujung pada perdebatan, selebihnya menyalahkan dirinya sendiri. Kehidupannya menjadi liar hingga berujung pada perpisahan dengan keluarga kecilnya, terutama dua anak yang sangat disayanginya.

Namun secara tiba-tiba Miftah melakukan suatu hal yang luar biasa, yaitu pengalihan emosi dan keputusasaan menjadi suatu energi positif untuk menyalurkannya melalui mediasi seni. Apakah media ekspresi seni yang dipilihnya bisa meluapkan emosinya secara bebas? Apakah segala permasalahan yang menimpa keluarga besarnya merupakan inspirasi yang kemudian diekspresikan menjadi sejumlah lukisan abstrak sudah sesuai sesuai dengan emosinya?

(Baca juga : Pameran Lukisan Mengenang 78 Tahun Pelukis Ida Hadjar)

Miftah memang merasa “terpenjarakan” oleh perasaannya sendiri sehingga memerlukan semacam “pengalihan” emosinya. Di sinilah titik penting pameran tunggalnya kali ini, yaitu suatu temuan bahwa suatu emosi keterputusasaan bisa menjadi energi positif dalam menumbuhkan semangat berkarya, ketika alam ketidaksadaran berhasil dikelola oleh alam kesadaran, pada akhirnya mampu melahirkan karya-karya lukisan abstrak, buah dari kebangkitan semangat dan daya kreativitasnya. 

Jenis lukisan yang dipilih Miftah dalam menyalurkan emosi ketidaksadarannya adalah lukisan bergaya abstrak. Karya-karya lukisan abstrak Miftah bertitik tolak dari masalah kejiwaan yang menimpa dirinya. Dalam menganalisis karya-karya seni abstraknya, AA Nurjaman yang merupakan kurator Pameran Terpenjara menggunakan metode psikoanalisis sesuai dengan titik masalah yang menginspirasinya.

Frustasi, histeria, phobia telah menjadi gangguan neurosis, berupa kecemasan, kehilangan dan kekhawatiran yang menjadi suatu penyakit yang serius pada kestabilan jiwanya, yaitu berupa represi akibat datangnya berbagai tekanan yang menimpanya secara beriringan dan terus-menerus. Represi ini telah menimbulkan ambivalen dari dua perasaan yang sama-sama kuat di dalam pikirannya; di satu sisi ingin melakukan sesuatu, sementara di sisi lain menolaknya.

Miftah sedang menjelaskan tentang karya lukisnya, Sabtu (29/8/2020). Foto : Mari Vita Puji

Berdasarkan kejadian-kejadian mengenaskan yang dialami langsung oleh Miftah dan keluarga besarnya yang telah membangkitkan rasa putus asa, maka proses kuratorial pameran ini menggunakan pendekatan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang berpijak pada mekanisme dasar psikis manusia.

Karya-karya Miftah bisa dianalisis melalui teori psikoanalisis sehubungan dengan beberapa tindakan yang hampir fatal akibatnya, antara lain pernah duduk di tengah jalan rail menunggu kereta yang akan mengakhiri hidupnya. Di lain waktu ia juga pernah naik ke atas bukit dan berniat menjatuhkan diri dari ketinggian tebing.

Selebihnya, setiap mengingat permasalahan yang menimpa keluarganya, ia melarikannya dengan menenggak minuman beralkohol. Beruntung Miftah sadar, bahwa di balik beberapa peristiwa yang membuatnya tenggelam dalam perasaan yang menghanyutkan sampai ke alam bawah sadarnya, ia memiliki potensi melakukan sesuatu, yakni berkarya seni.

Miftah Rizaq dilahirkan di Semarang dari keluarga Muhammad Abdul Ghani, sempat mengenyam pendidikan hingga ke tingkat Perguruan Tinggi (Politeknik Negeri Media Kreatif) jurusan Periklanan/Advertising. Sejak SMA ia suka berbisnis dan bekerja membuat beragam poster iklan dan melukis wajah. Pekerjaan profesional terakhirnya adalah Creative Director di salah satu kantor Digital Agency yang ada di Yogyakarta. Kegemaran lainnya bermain musik hingga konser di beberapa kota besar.

Tahun 2019 ia mulai membuat karya-karya lukisan yang mengarah ke bentuk abstrak. Hingga karya-karya lukisan yang dipersiapkan dalam pameran tunggalnya kali ini dimantafkannya bergaya abstrak. Miftah suka berpuisi, beberapa karya lukisan yang dipamerkan kali ini berlatarkan puisi. Puisi memang identik dengan lukisan abstrak. Melalui lukisan abstrak, Miftah mengekspresikan pengalaman melalui sapuan kuas, kerokan pallete, garis-garis dan cipratan-cipratan ekspresif, juga grafiti-grafiti puitisnya.

Periode awal

Karya-karya awal yang dihasilkan Miftah dan ditampilkan dalam Pameran Terpenjara antara lain, karya lukisan berjudul Kaget 2020 yang terinspirasi oleh kejadian yang membuatnya ternganga setengah sadar ketika mendengar kabar, bahwa keluarganya tiba-tiba saja ditimpa masalah besar.

Karya lukisan berjudul “Bersyukur 2020”. Foto : Maria Vita Puji

Karya lukisannya berlatar belakang warna-warna hijau muda, kuning muda, biru muda dalam posisi polesan vertikal sebagai simbol harapan kehidupan ke depan yang lebih baik. Tetapi tiba-tiba kita melihat ekspresi torehan warna-warna merah, kuning, putih, hijau muda dan biru tua yang demikian keras.

Torehan warna-warna ekspresif itu sebagai ungkapan rasa kaget yang menjadikan degup jantungnya terasa berhenti. Lama Miftah merenung sehingga waktu terasa begitu lambat, seperti ungkapan graffiti yang ditorehkannya, “pagiku terasa agak lambat”.

Pada lukisan berjudul Malu 2020, Miftah mengekspresikan beban rasa malu yang benar-benar tak tertanggungkan. Ia pun mengespresikannya dengan polesan-polesan warna-warna merah, kuning, hijau, hitam coklat, biru, sehingga warna-warna itu tercampur menjadi agak menghitam sebagai perpaduan beragam perasaannya.

Di atasnya tercecer cipratan zig-zag beragam warna beserta garis-garis hitam. Terdapat gambaran simbol berupa goresan garis tali-temali yang bisa menjerat anggota tubuhnya yang paling rawan. Pada lukisan yang berjudul Marah 2020, terdapat latar belakang lukisannya berwarna biru muda sebagai simbol ketentraman dan keluasan sebagai gambaran pengalaman sebelumnya. Kemudian polesan warna-warna hitam, hijau, putih, dan merah menimpanya. Ungkapan kemarahan Miftah ditegaskan dengan grafiti “sampai mendidih meledak-ledak”.

Gambaran sebab-musabab kemarahannya yang terus-menerus sampai mengarah ke kegilaan diungkapkan melalui karya lukisannya berjudul Ironi”2020, yang dilatari oleh warna hitam yang dilabur putih transparan di atasnya sehingga kesannya menjadi warna abu-abu.

Blok-blok warna merah dan ungu disapukan di beberapa bagian bidang latar, yang ditimpa oleh cipratan dan goresan warna putih. Karya lukisan ini terbentuk karena perasaan kecewa yang amat dalam terhadap para penegak hukum. Betapa ia selalu ditawari untuk bekerja sama demi mendapatkan remisi, dan sebagainya. Kata “ironi” sendiri mengacu pada suatu logika, bahwa penyelewengan hukum di negeri ini justru dimulai dari para penegak hukum.

Pada karyanya berjudul Tangis yang Jauh 2020, Miftah menampilkan backgroud hitam bergradasi merah di bawahnya, yang kemudian ditimpa oleh polesan dan cipratan ekspresif warna hijau muda kebiruan, merah, merah muda, jingga dan kuning. Ada beberapa garis berwarna putih yang membentuk abstraksi pesawat, abstraksi golok dari polesan warna hijau muda kebiruan dan putih, dan polesan warna merah muda. Lukisan “Tangis yang Jauh” terinspirasi, ketika ia terbang dari Jogja ke Bali sebagai ungkapan rasa sesak di dadanya yang menuntut jiwanya melakukan pelepasan.

Pada karya lukisan yang berjudul Mabuk 2020, Miftah mengekspresikan cipratan-cipratan warna merah, kuning, hijau muda dan biru muda pada posisi zig zag dan vertikal di atas latar belakang yang berwarna coklat, ungu dan biru yang tercampur sehingga agak menghitam.

Kemudian ditimpa garis yang menyerupai tali-temali sebagai gambaran rasa putus asa karena kasus mendadak di keluarga besarnya yang kemudian merembet ke keluarga kecilnya. Miftah lupa diri dan penyalurannya tidak lain hanyalah alkohol dan alkohol. Sampai suatu titik, semua yang dijalaninya itu tak berarti apa-apa karena tidak mampu melupakan apalagi menyembuhkan luka hatinya.

Akibat yang paling parah dari kasus keluarga besarnya terungkap dalam karya Hampir Gila” 2020. Karya berjudul “Hampir Gila” dilatari oleh warna ungu kehitaman sebagai simbol perasaan berat yang disertai halusinasi. Kemudian sapuan-sapuan ekspresif warna-warna ungu kemerahan, ungu, biru, coklat muda, pink dan hijau muda membentuk blok-blok di beberapa tempat, di atasnya tergores garis menyerupai tali temali disertai grafiti “kadang waras, kadang tidak”.

Menurut ilmu psikologi, tekanan jiwa semacam ini disebut skizofrenia. Pada titik inilah terjadi represi (tekanan) yang sangat kuat dari dalam dirinya, yakni di satu bagian harus melakukan sesuatu, tetapi di lain pihak menolaknya.

Karya “Hampir Gila” sejalan dengan lukisannya yang berjudul Galaksi Masuk Angin 2020 Pada lukisan ini kembali polesan ekspresif warna ungu melatari lukisan yang ditimpa oleh sapuan-sapuan warna ungu, putih, biru, merah, kuning dan coklat muda yang kemudian terjadi percampuran dari warna-warna yang disapukan menyerupa desingan galaksi luar angkasa seperti dikhayalkan Miftah.

Perasaan ekspresif yang diekspresikannya didasari perasaan insomnia yang akut. Perasaan insomnia itu dipicu pula oleh perasaan dinginnya tembok penjara yang selalu menghantuinya.

Perode tengah

Karya-karya berikutnya dikategorikan sebagai periode tengah, yaitu ketika kejadian yang menimpa keluarga Miftah mulai disadarinya sebagai kejadian alami.  Pada lukisan berjudul Rumah yang Berbeda 2020 terinspirasi oleh perpisahan Miftah dengan kedua anaknya.

Karya lukisan berjudul “Shankara 2020”. Foto : Mari Vita Puji

Nuansa cinta dan keterpisahan diwujudkan oleh dua blok warna merah dan coklat muda di penjuru kiri atas dan kanan bawah. Dua blok itu masih terhubung goresan berbentuk tali sebagai ikatan keluarga. Abstraksi benang kusut dan amplop adalah sebentuk gambaran tanggung jawab. Ikatan batin antara anak dan ayah bisa terbaca pada grafiti berwarna merah di bagian bawah.

Pada lukisan berjudul Jaga Jarak 2020 latar belakang atau background lukisan dikuasai warna kuning sebagai perlambang keagungan, namun juga terdapat warna hitam pada sepertiga bagian kanannya sebagai lambang kegelapan jiwa. Terdapat bayangan dua orang seperti sedang berbincang-bincang.

Semula Mifta menganggap bahwa penjara sebagai tempat penebus kesalahan, tetapi ternyata di dalamnya banyak sekali intrik politik. Jaga jarak di masa pandemi, di dalam penjara, menjadi jaga jarak yang sesungguhnya, yaitu permusuhan satu sama lain.

Pada karya lukisannya  yang berjudul Teriak” 2020, didasari hasrat kematian. Tetapi akhirnya keberanian untuk mati itu perlahan-lahan berkurang, tergantikan kembali oleh hasrat hidup. Ia sempat duduk di jalan rail, menunggu kereta, sekali libas, pasti lewat. Pernah pula naik ke atas tebing, dan seperti mendengar perintah “lompat saja”, tak ada yang perlu disesali lagi. Ia teriak sekeras-kerasnya.

Dan yang terjadi justru timbulnya semangat baru, seperti bisa dilihat melalui warna-warna yang tampil, hijau muda, kuning dan merah muda, yang justru warna-warna kehidupan, pertumbuhan dan semangat. Hasrat kematian terwujud sedikit saja yaitu dengan goresan warna hitam, sedangkan polesan dan goresan warna putih menjadi bentuk penetralisir antara hasrat hidup dan hasrat mati.

Periode akhir

Karya-karya lukisan yang mengungkapkan periode akhir dari memperlihatkan betapa pentingnya kesadaran dalam jiwa manusia. Karya lukisan berjudul Shankara 2020, berlatar kuning sebagai perlambang keagungan yang tersapu warna hitam menyerupai bentuk huruf “S” yang tertimpa oleh warna kuning, merah yang disapukan seperti tertiup angin.

Karya lukisan berjudul “Hampir Gila” 2020. Foto : Maria Vita Puji

Karya lukisan ini melambangkan keagungan tempat berdo’a. Apapun yang menimpanya tidak akan mampu merubah keagungannya yang demikian indah. Karya “Shangkara” sejalan dengan karya lukisan yang berjudul Tidak Boleh Takut 2020 yang berpijak pada cerita sang ibu mengenai ayahnya yang selalu memberi wejangan bahkan membimbing untuk tidak boleh takut dalam menghadapi apapun.

Karya berikutnya berjudul Denyut dan Debar 2020, berlatarkan polesan ekspresif warna hitam dan putih ke arah horizontal. Di atasnya ditimpa polesan dan cipratan warna-warna kuning, hijau, biru muda dan merah menyala. Karya ini terinspirasi oleh kesadaran tentang masalah yang dihadapi, seperti degup jantung yang tiada henti.

Pada karya lukisan yang berjudul Bersyukur 2020, terlihat polesan warna horisontal dari coklat kemerahan, putih kebiruan dan putih kecoklatan. Kemudian digoreskan garis-garis zig-zag vertikal dari beragam warna. Terdapat penggambaran cahaya dari kedua sisi sebagai simbol, bahwa semua cobaan merasa sudah terlewati karena kesadaran hati mengenai kuasa Tuhan.

Miftah bersyukur masih diberi kekuatan untuk menghadapi semua yang terjadi. Pakaian ayahnya yang membangkitkan kenangan pahit, dilarung di sungai supaya tidak mengingatkan pada kejadian yang sudah terlewati.

Di sinilah titik pentingnya Miftah berkarya seni, yaitu terjadinya sublimasi energi negatif skizofrenia, menjadi energi positif berupa pengolahan energi kreatif, berkarya seni. Kini Miftah sudah merasa tenang dan bisa menerima keadaan, bahkan ia menyatakan bahwa berekspresi menciptakan karya seni baginya merupakan terapi yang tak ternilai.

Berkarya seni adalah bentuk lain daripada sajadah bersyukur baginya. Dan berkarya seni adalah katarsis kehidupan diri yang mewarnai perjalanan hidupnya untuk pulang. Pulang adalah niatan hati yang terdalam. Pulang ke kehidupan yang lebih baik. (Maria Vita Puji, penikmat seni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here