Home Seni Budaya Pameran Papua Design Weeks Menampilkan Karya Seni dan Budaya Mahasiswa Papua

Pameran Papua Design Weeks Menampilkan Karya Seni dan Budaya Mahasiswa Papua

171
0
Para mahasiswa menampilkan tarian pada pembukaan pameran Papua Design Weeks.Photo by Pamor

BERNASNEWS.COM – Pameran Papua Design Weeks menampilkan sedikitnya 20 karya seni dan budaya mahasiswa Papua di Jogja. Pameran yang digelar di Sangkring Art Space, Nitiprayan mulai 10 Januari 2021 sampai 21 Januari 2021 pukul 11.00 sampai 17.00 sore itu juga dilakukan secara virtual.

“Pameran produk seni dan budaya Papua diselenggarakan secara virtual agar dapat diakses publik secara luas tanpa rasa khawatir terhadap ancaman kerumunan di situasi pandemi ini,” kata Elna Febi Astuti SH, Ketua Pelaksana Pameran, dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Senin (11/1/2021).

Ika Permana Sari selaku perwakilan dari Hati Btari menyerahkan PDW Award kepada Bob Ahale mahasiswa dari asrama Yahukimo. Photo by Pamor

Dikatakan, selaras dengan gagasan awal diselenggarakannya rangkaian kegiatan Papua Design Weeks, agenda pameran semata untuk mengungkap eksistensi dan kekayaan budaya masing-masing entitas kultural di Tanah Papua. Dan depan ingin menggugah dan meningkatkan jiwa entrepreneur anak muda Papua dalam menciptakan desain produk dan menemukenali peluang media promosi digital di era kemajuan teknologi.Menurut Elna Febi, pameran yang merupakan agenda akhir dari rangkaian kegiatan Papua Design Weeks menyajikan kurang lebih 20 produk seni dan budaya yang dibuat sendiri oleh teman-teman mahasiswa Papua.”Kami membuat ukiran Asmat selama satu Minggu setiap habis belajar secara daring,” kata Jhon Kaisma, salah satu peserta Papua Design Week dari Mappi.

Pendeta Pieter Leonard, Ika Permana Sari foto bersama dengan Jhon Kaisma dari Mapi dan Bob Ahale mahasiswa dari Asrama Yahukimo usai penyerahan Papua Design Week Award. Photo by Pamor

Masing-masing asrama menyuguhkan karya seni dan budaya yang menjadi ciri khas daerah. Produk seni dan budaya khas daerah akan memberikan tambahan pemahaman kepada publik mengenai ikon seni dan budaya otentik dari masing-masing entitas dan suku/marga yang ada di Papua.

Selain itu, dalam pameran ini juga dihadirkan karya seni dan budaya kontemporer yang lahir sebagai manifestasi estetik dan refleksi nilai yang bersifat kritis terhadap sistem ekonomi-sosial-kultural yang melingkupinya. Hal ini menjadi menarik, manakala proses pembuatannya berhasil divisualisasikan sehingga tidak kehilangan roh dan gagasan otentik para empu-nya.

Dengan kata lain, beberapa produk karya seni kontemporer justru telah melampaui anggapan bahwa seni dan budaya hanyalah ekspresi dari tradisi hidup dan masa lalu suatu masyarakat, namun jauh berkembang menjadi harapan dan cita-cita kebudayaan di masa depan.Menurut Elna Febi, merawat kebudayaan beserta entitas-entitas aslinya adalah manifestasi dari semangat mengayomi nilai-nilai kemanusiaan. Maka tidak jarang, nilai-nilai kemanusiaan acapkali ditemui dalam bentuk seni dan budaya yang menjadi buah pikir dari manusia pembuatnya.

Pendeta Pieter Leonard menyerahkan Papua Design Week Award kepada Jhon Kaisma dari Mapi.Photo by Parmo

Di sisi lain, Melville J Herskovits dan Bronislaw Malinowski secara tegas pernah mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat, sangat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri (cultural-determinism).

“Hal tersebut seolah menegaskan pentingnya peran manusia dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan melalui kebudayaan. Maka, seringkali ungkapan back to nature, back to our original culture, back to structure to get the best our future menjadi lecutan semangat bersama untuk melestarikan kebudayaan,” kata Elna Febi. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here