Home News Pameran Me, Myselft, & I #3, Seniman Timbul Raharjo Berkonsep Transvestate Art

Pameran Me, Myselft, & I #3, Seniman Timbul Raharjo Berkonsep Transvestate Art

613
0
Seniman kondang Timbul Raharjo menggelar pameran karyanya dengan tajuk Me, Myselft, & I #3, tanggal 30 Agustus - 13 September 2020, di Museum Sonobudoyo, Jalan Pangurakan, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Tahun 2020 pandemi Covid-19 membuat perubahan waktu pameran Me, Myselft, & I #3 yang semula akan dilaksanakan tanggal 25 Maret 2020 akhirnya harus menunda (postpone) digelar pada, tanggal 30 Agustus – 13 September 2020, di Museum Sonobudoyo, Jalan Pangurakan, Yogyakarta.

Pandemi Covid-19 telah memunculkan new normal melalui protokol kesehatan, antara lain, pakai masker, cuci tangan dan pembatasan fisik hubungan antar manusia. Ada yang menanggapi tenang-tenang, namun ada yang kawatir berlebihan.

Seniman Kriya dan Lukis Timbul Raharjo di antara beberapa karyanya yang terpajang di gallery miliknya di kawasan Kasongan, Bantul. (Foto: Istimewa)

“Metode pameran pun mengalami perubahan yang semula off line saja kemudian dibuat kombinasi on dan off line, sebuah era baru cara berpameran,” ungkap seniman kriya dan lukis kondang Timbul Raharjo, melalui rilis yang dikirim ke Bernasnews.com, Selasa (25/8/2020).

Menurut Timbul Raharjo, pameran yang digelar ini sebagai bagian dalam memerangi pandemi Corona. Karena akibat yang ditimbulkan telah menjalar pada sendi sistem ekonomi dan psikologi. Dan Yogyakarta sebagai tujuan wisata, sektor ini memberi pengaruh ekonomi yang signifikan.

Secara psikologi, pandemi ini menjadi momok yang memeberi ketakutan pada masyarakat. “Pameran ini diharapkan menjadi setitik cahaya untuk ikut serta dalam menarik kunjungan wisata ke Yogyakarta. Sehingga protokol Covid-19 selalu dilakukan dengan pola budaya baru yang disebut dengan new normal. New normal dalam pameran ini adalah metode pelaksanaan pameran dan pengaturan kunjungan,” tutur Timbul.

Dunia internet menjadi sarana penting dalam menikmati pameran ini, lanjut Timbul, namun seni perlu dilihat secara langsung sehingga rasa atau jiwa yang dipancarkan dari pameran itu dapat dengan baik menyatu dengan pemirsanya. New normal menjadi tabiat dalam perilaku kita dalam antisipasi berbentuk protokol Covid-19.

Dr. Timbul Raharjo, M.Hum sedang mengamati sebuah karyanya untuk persiapan pameran. (Foto: Istimewa)

Sementara dalam pameran yang bertajuk Me, Myselft, & I #3 tersebut, Timbul Raharjo dalam berkesenian akan lebih berkonsep pada transvestite arts. Konsep transvestite art menegaskan karya-karya seni Timbul Raharjo mempunyai peran ganda sebagai fine art sekaligus applied art yang berposisi di antara keduanya. Dengan menampilkan 50 karya bertema transvestite arts.

Sangat intens menggali potensi pembahanan dan teknik. Ditambah kehidupan dalam dunia usaha seni, lambat laun tercipta karya yang memang mengabdi pada pasar yang lebih luas. “Boleh jadi, pameran ini memunculkan prasangka negatif sebab dianggap tidak termasuk ranah fine art meskipun menggunakan cara-cara penciptaan yang sama,” ujar Timbul.

Karya yang dipameran adalah hasil penciptaan seni rupa melalui proses pembacaan trend perkembangan seni rupa dunia, sehingga pola pikir bisnis menjadi kental. “Transvestate art menjadi gueding proses penciptaan seni yang dibuat melalui pertimbangan matang agar karya-karya dapat diterima pasar seni rupa dunia. Jika banyak peminatnya karya dibuat lebih dari satu berpola limited edition. Dunia penciptaan fine art  dan dunia applied art telah meracuni karya dalam Me Myselft & I #3 ini,” pungkas Timbul Raharjo. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here