Sunday, August 14, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaPaku Bumi Gunung Semeru, Performance Art Minimalis untuk Doa Keselamatan

Paku Bumi Gunung Semeru, Performance Art Minimalis untuk Doa Keselamatan

bernasnews.com – Bau wangi asap dupa membuncah udara, alunan kidung sastra mantra, tarian, dan gerakan wayang Milehnium Wae berukuran jumbo melambai penuh makna, di kaki Gunung Semeru menggetarkan hati bagi para pelaku budaya itu sendiri, maupun siapa pun yang berkesempatan untuk menikmati Performance Art Minimalis, bertajuk ‘Paku Bumi Gunung Semeru’.

Laku budaya ‘Paku Bumi Gunung Semeru’ tersebut berlokasi di Desa Curahkobokan Penanggal, Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada tanggal 9 Juli 2022. Merupakan hasil kolaborasi Rumah Budaya Royal House Yogyakarta, Asosiasi Masyarakat Dansa Indonesia (AMDI), Sanggar Pangawikan Sastra Mantra, Prajna Srikandi, Damar Kedaton, Gangsa Dewa Musik, dan Institut Sangkerta Indonesia Pusat, serta masyarakat sekitar.

Suasana ritual sakral dipandu oleh Mbah Kliwon selaku Juru Kunci Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur. (Foto: Kiriman Ki Mujar Sangkerta)

Kegiatan diawali dengan ritual sakral dipandu oleh Mbah Kliwon selaku Juru Kunci Gunung Semeru, Lumajang,  Jawa Timur. “Usai acara ritual, lalu kami lanjutkan dengan Performance Art Minimalis untuk merespon sekitar area bekas terdampak lahar dan letusan Gunung Semeru setahun yang lalu,” terang Ki Mujar Sangkerta, melalui whats app, Kamis (14/7/2022).

Laku budaya itu, lanjut Ki Mujar Sangkerta, diisi dengan melantunkan kidung sastra mantra berupa doa-doa untuk keselamatan alam semesta raya, doa untuk orang-orang yang meninggal dan korban yang masih banyak belum diketemukan keberadaannya.

Juga doa bagi warga setempat yang selamat dari bencana dahsat tersebut agar kehidupannya lebih baik lagi kedepannya. “Para pengungsi yang masih tinggal dipengungsian bisa secepatnya dapat tempat Hunian Tetap yang layak dan bisa meneruskan kehidupannya secara mandiri tidak tergantung terus menunggu uluran tangan,” kata Ki Mujar Sangkerta.

Gerak visual Wayang Milehnium Wae yang menggambarkan sosok tokoh Patih Gadjah Mada, Raja Hayam Wuruk dan permaisuri, bertujuan untuk mengingatkan sejarah masa lampau yaitu kejayaan Majapahit, yang merupakan gambaran Indonesia. (Foto: Kiriman Ki Mujar Sangkerta)

Kidung sastra mantra terus dilantunkan sambil berjalan, yang diikuti tari improfisasi gerak indah dan gerak visual Wayang Milehnium Wae yang menggambarkan sosok tokoh Patih Gadjah Mada, Raja Hayam Wuruk dan permaisuri, diiringi dengan ilustrasi musik apa adanya dari bunyi benda-benda yang ada disekitar lokasi seperti batu bongkahan lahar gunung, pohon dan ranting yang sudah rapuh terimbas lahar awan panas Semeru.

“Bunyi-bunyian itu direspon oleh Dr. Memet Chairul Slamet dengan musik flutnya, menambah semakin selaras dengan alam. Menarik untuk dinikmati sebagai sebuah pertunjukan alternatif di alam bebas lokasi bencana alam di ketinggian kaki Gunung Semeru,” ujar dhalang wayang kontemporer itu.

Sementara, yang terlibat dalam laku budaya Performance Art Minimalis, bertajuk ‘Paku Bumi Gunung Semeru’ antara lain, kidung sastra mantra: Bambang Nursinggih dan Sukadi; Tari Kidung: Nyai Dewi Bardal Dersonolo; Improvisasi Gerak Indah: Ayik Marcella Apriari Hendraswati, Lisa Sulistyo dan Owi Pristiawati Dwi; Gerak Visual Wayang Milehnium Wa: Emha Irawan. Bambang Haryana dan Uni Nellysri:Ilustrasi Musik: Dr. Memet Chairul Slamet dan Ki Mujar Sangkerta. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments