Home Seni Budaya Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta, Kumpulan Orang Suka Menari

Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta, Kumpulan Orang Suka Menari

379
0
Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta sedang berlatih menari, Jumat (31/1/2020), di Pendapa Museum Gamel, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Berawal dari rasa keprihatinan melihat Bangsal Mandungan kagungan dalem Kraton Yogyakarta yang terlihat sepi dan kumuh sehingga munculah pemikiran bagaimana kalau dibuat ramai dimanfaatkan sebagai tempat latihan menari (beksan) untuk kegiatan warga. Hal itu disampaikan oleh Adjeng Mithayani selaku penggagas berdirinya Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta, Jumat (31/1/2020), di Museum Gamel, Jalan Gamelan Kidul, Yogyakarta.

“Saya asli dan lahir di kampung dekat Bangsal Mandungan, sewaktu malam merenung melihat kondisinya kotor dan seperti itu terbesitlah pemikiran untuk menghidupkan dengan kegiatan beksan (tari), lantas paginya saya mohon izin kepada Kraton. Sempat mendapat izin diparengke untuk latihan di bangsal beberapa kali berkisar satu setengah bulan,”papar Adjeng.

Adjeng Mithayani (kiri) sedang membantu mengenakan kain pada seorang penari. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Dikarenakan ada sesuatu hal berkaitan dengan kepentingan Kraton, latihan beksan kemudian dipindahkan oleh Adjeng ke Pendapa Kantor Kelurahan Panembahan. “Di Pendapa Kelurahan Panembahan sempat berlatih dua kali, mengingat tempat juga padat dipakai untuk kepentingan pemerintahan kelurahan. Kemudian saya mengajukan izin ke Dinas Kebudyaan DIY agar bisa menyelenggarakan latihan beksan atau tari di Pendapa Museum Gamel ini,”ungkapnya.

Melatih gerakan tangan dan kaki sebelum latihan menari. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta sebagai sebuah organisasi berdiri pada tanggal 4 Oktober 2019, meski usia masih bisa disebut seumuran jagung namun anggota pesertanya telah mencapai 70 orang, dari lintas usia dari usia muda dan sepuh, latar belakang peserta pun bermacam-macam.

“Kepersertaan awal mulanya hanya untuk kepentingan di lingkungan Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton tetapi dalam perkembangannya menjadi terbuka untuk umum. Anggotanya ada yang dari Sedayu, Bantul, Gamping, bahkan ada beberapa pedagang Pasar Legi yang ikut berlatih menari di sini,” terang Adjeng.

Seorang bocah penonton ikut menirukan gerakan para penari. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta, lanjut Adjeng, merupakan kumpulan orang-orang yang suka menari, mayoritas anggota bukan penari tapi punya niat melestarikan budaya dan semua rajin berlatih beksan. Kebanyakan belajarnya dari nol, dari belum tahu ngithing, nyempurit, ngruji, ngepel, hingga bisa melakukan tari. Sementara visi misi paguyuban ini adalah, nguri-nguri (melestarikan) budaya, ngrabuk yuswa (memperpanjang usia), berbentuk paguyuban karena bertujuan sebagai keluarga besar yang saling melengkapi.

Berlatih beksan Tari Nawung Sekar. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

“Dari awal persiapan sampai terbentuknya paguyuban ini semua saya lakukan sendiri tapi ibarat lidi kalau hanya sebatang nggak bisa untuk sapu, maka saya mengajak teman-teman dari komunitas penari, yaitu hadirnya Mas Tunggul dan Mas Nyemit yang membantu mengajar menari,”imbuhnya.

Adjeng Mithayani (kanan) sedang membetulkan gerakan tangan seorang penari. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Sementara jenis tarian yang diajarkan adalah jenis tari klasik Jawa, yaitu Tari Kenyo Tinembe sebuah tarian yang menggambarkan sosok remaja yang beranjak dewasa mulai gemar bersolek, ngadi busana, ngadi salira. Dan tari Nawung Sekar yang menggambarkan keceriaan seorang remaja. Tari Nawung Sekar, karya Retno Nuryastuti menurut rencana akan dipentaskan ala flash mob guna ikut menyemarakan Selasa Wage, 18 Februari 2020, di Titik Nol Malioboro, Yogyakarta.

Berlatih beksan Tari Kenyo Tinembe. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

“Untuk bergabung dalam Paguyuban Langen Beksan Yogyakarta silakan datang setiap hari Jumat, jam 16:00 WIB, di Museum Gamel. Tidak ada biaya pendaftaran karena bukan sekolah tari, hanya setiap hadir latihan beksan dipungut Rp 10.000,-. Selain bentuk nguri-nguri budaya, menari adalah olah rasa, juga sebagai olah raga yang menyehatkan,” pungkas Adjeng. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here