Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsPadukuhan Juwangen jadi Teladan bagi Desa Purwomartani

Padukuhan Juwangen jadi Teladan bagi Desa Purwomartani

BERNANEWS.COM –Padukuhan Juwangen menjadi teladan bagi Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman dalam banyak hal. Di antaranya dalam hal pengelolaan dana stimulan maupun dalam hal toleransi beragama.

“Di Padukuhan Juwangen kalau diberikan dana stimulan Rp 200 juta bisa berkembang menjadi Rp 500 juta. Ini terjadi karena Kepala Dukuh mampu mengelola dana stimulan dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat,” kata H Semiono, mantan Lurah Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, saat berkunjung ke Dusun Juwangen, Purwomartani, Kalasan, Minggu (15/3/2020).

Mantan Lurah Desa Purwomartani yang juga maju dalam Pemilikan Kepala Desa (Pilkades) Purwomarani secara serentak 29 Maret 2020 H Semiono (kiri) dta DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan Sutemas (tengah) bersama tokoh umat Katolik Kalasan Hendricus Mulyono alias Mbah Mul (kanan) saat berkunjung ke Padukuhan Juwangen, Minggu (15/3/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernanews.com

Kunjungan itu untuk memenuhi undangan umat Katolik wilayah St Yusuf Juwangen yang merayakan pesta nama wilayah St Yusuf dalam bentuk kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar kapel yang sedang dibangun. Selain H Semiono, juga hadir Anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan Sutemas dan ratusan umat Katolik setempat.

Menurut Semiono, Desa Purwomartani mendorong partisipasi aktif masyarakat dengan memberikan dana stimulan. Dana tersebut hanya sebagai stimulan atau pendorong agar masyarakat berpartisipasi aktif dalam pembanguna di berbegai bidang. Dan Padukuhan Juwangen menjadi teladan Desa Purwomartani karena mampu menggerakkan dan mendorong partisipasi aktif masyarakat sehingga dana stimulan bisa berkembang berlipat-lipat.

Selain itu, menurut calon Lurah Desa Purwomartani yang akan maju dalam pemilihan kepala desa serentak pada 29 Maret 2020 ini, Padukuhan Juwangen juga menjadi teladan dalam toleransi beragama. Ia memberi contoh, di Padukuhan Juwangen ketika umat Islam merayakan Idul Fitri dengan melakukan salat Ied, yang menjaga parkir kendaraan adalah umat Kristiani. Begitu pula sebaliknya, ketika umat Kristiani merayakan Natal, umat lslam yang menjaga keamanan dan parkir. “Ini implementansi nilai-nilai Pancasila yang patut dicontoh,” kata Semiono.

Kapel St Yusuf Juwangen yang dibangun sejak tahun 2018 hingga sekarang belum selesai karena keterbatasan dana, seperti dipotret Minggu (15/3/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD DIY Sutemas mengatakan bahwa apa yang disampaikan H Semiona merupakan pelajaran dan praktik Pancasila yang benar. Dan apa yang dilakukan masyarakat Juwangen patut ditiru warga lain.

Kepala Dukuh Juwangen Aris Tri Cahyono mengatakan, selama kepemimpinan H Semiono di Desa Purwomartani, pemerataan pembangunan sangat dirasakan masyarakat. Ini terbukti, semua padukuhan mendapat dana stimulan meski jumlahnya bervariasi/beragam tergantung kebutuhan. Dan sampai saat ini hampir semua jalan/gang di wilayah Padukuhan Juwangen sudah diaspal.

Selain itu, H Semiono mengayomi seluruh warga tanpa kecuali. “Pak Semiono juga sering menyambangi warga, bersilaturahmi bukan hanya saat pencalonan tapi hampir setiap saat, sehingga warga merasa diperhatikan dan diayomi,” kata Aris Tri Cahyono.

Ketua Panitia Pembangunan Kapel St Yusuf Juwang Bernadus Sumaryono mengatakan, di Padukuhan Juwangen ada 2 masjid besar dan 5 mushola serta ada 4 tempat ibadah umat Kristen.

“Sementara umat Katolik di Padukuhan Juwangen yang berjumlah 250 KK atau 750 lebih umat belum ada satu pun tempat ibadah seperti kapel atau gereja. Karena itu, sejak tahun 2018 mulai dibangun satu kapel dan hingga sekarang belum selesai karena keterbatasan dana,” kata Sumaryono.

Menurut Aris Tri Cahyono, masyarakat Padukuhan Juwangen memang sangat toleran. Ini antara lain bisa dilihat dari adanya kerja sama setiap ada hari raya keagamaan. Umat saling mengunjungi dan bergantian menjaga keamanan/parkir kendaraan setiap ada hari raya keagamaan.

H Semiono mengaku sebagai lurah desa, anggota DPRD atau siapa pun jadi pemimpin adalah milik semua warga sehingga wajib memperhatikan dan melindungi semua warga. Dan semua warga memiliki hak dan kewajiban yang sama yang diatur dalam UU.

Dengan kalimat bijak, H Semiono mengatakan bahwa “kalau kita baik kepada orang lain maka Tuhan akan mengasihi kita. Dan apa pun perbuatan baik kita pasti ada nilai ibadahnya.” (lip)



spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments