Home News Pabrik Industri Kimia Perlu untuk Kemandirian Industri Indonesia

Pabrik Industri Kimia Perlu untuk Kemandirian Industri Indonesia

89
0
Audrey Athaya Galuh Kinanti dan Silvi Nursukma Indri, Mahasiswi Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, angkatan 2016. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Penelitian Pra Rancangan Pabrik Natrium Nitrat dari Asam Nitrat dan Natrium Hidroksida dengan Kapasitas 40.000 ton/tahun, mengantarkan Audrey Athaya Galuh Kinanti dan Silvi Nursukma Indri, Mahasiswi Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII angkatan 2016 meraih gelar Sarjana Teknik seusai menempuh ujian pendadaran secara daring (online), Selasa (9/7/2020).
 
Meski di tengah kondisi wabah virus Corona atau Corona Virus Disease (Covid-19), proses tahapan akhir bagi mahasiswa S1 tersebut tetap berjalan khidmat. Tampil sebagai penguji Prof Ir Zainus Salimin MSi, Ir Agus Taufiq MSc dan Dyah Retno Sawitri ST M.Eng.
 
Dalam penelitian kedua mahasiswi tersebut, rancangan pabrik akan didirikan di kawasan industri Cilegon, Banten dengan luas 58.049 m2, dengan jumlah karyawan 300 orang.  “Pembangunan industri kimia yang menghasilkan produk antara ini sangat penting, karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap industri luar negeri. Hal ini pada akhirnya dapat mengurangi pengeluaran devisa untuk mengimpor bahan tersebut, termasuk natrium nitrat,“ kata Audrey dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Kamis (9/7/2020).
 
Dikatakan, pabrik tersebut akan memproduksi metil laktat dengan dua proses. Reaktor pertama dengan kondisi tekanan 1 atm dan suhu 230 oc, reaktor kedua dengan kondisi tekanan 1 atm dan suhu 180 oc. Kebutuhan utilitas yakni air secara kontinyu sebanyak 220.642,8927 kg/jam, steam sebanyak 1.164,0429 kg/jam, air pendingin sebanyak 213.139,2815 kg/jam, air domestik sebanyak 1.474,7627 kg/jam, listrik 354,1540 Kwh dan bahan bakar yang digunakan untuk menggerakkan generator sebesar 196,6509 lt/jam.

(atas ke bawah) Audrey Athaya Galuh Kinanti saat mempresentasikan hasil penelitian di hadapan tim penguji Dyah Retno Sawitri ST M.Eng, Ir Agus Taufiq MSc dan Prof Ir Zainus Salimin M.Si secara daring, Kamis (9/7/2020). Foto : Istimewa

Menurut Audrey, analisis ekonomi pabrik ini menunjukkan keuntungan sebelum pajak sebesar Rp 166.245.332.857 per tahun, setelah keuntungan pajak 25 persen dan zakat 2,5 persen mencapai Rp 124.683.999.643 per tahun.
 
Sementara return on investment (ROI) sebelum pajak 12,18 persen dan setelah pajak 9,13 persen. Kemudaian, Pay Out Time (POT) sebelum pajak 4,96 tahun dan setelah pajak 5,84 tahun. Break Event Point (BEP) sebesar 56,23 persen dan Shut Down Point (SDP) sebesar 20,28 persen, Discounted cash flow (DCF) mencapai 18,07 persen.
 
“Berdasarkan evaluasi ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pra rancangan pabrik metil laktat dengan kapasitas 35.000 ton/tahun layak untuk didirikan,” kata Audrey.
 
Wujudkan Kemandirian Industri di Indonesia
 

Menurut Audrey, pembangunan industri kimia bagi Indonesia sangat penting, karena dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap industri luar negeri. Hal ini pada akhirnya dapat mengurangi pengeluaran devisa untuk mengimpor bahan tersebut, termasuk natrium nitrat.
 
Dikatakan, Natrium nitrat (NaNO3) atau dengan nama lain soda niter, nitrate of soda atau Chile saltpeter merupakan kristal bening tidak berwarna dan tidak berbau. Bahan kimia ini mempunyai sifat-sifat di antaranya mudah larut dalam air, gliserol, alkohol, mempunyai titik lebur pada temperatur 380°C. Pada masa kini , kebutuhan natrium nitrat (NaNO3) di Indonesia semakin bertambah sehingga dapat dipastikan semakin lama kebutuhan natrium nitrat akan semakin meningkat seiring dengan banyaknya industri yang menggunakannya.
 
Metil laktat merupakan produk yang digunakan sebagai bahan baku sintesis dalam bidang farmasi, bahan baku parfum (wewangian) dalam bidang kosmetik dan bidang industri sebagai pembersih bahan eletronik, pembersih kaca, pelarut percetakan, pelarut plastik, pelarut cat dan bahan untuk insektisida.
 
Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan adanya peluang ekspor yang masih terbuka, maka dirancang pabrik metil laktat dengan bahan baku gliserol dan methanol dengan kapasitas produksi 35.000 ton per tahun dan direncanakan beroperasi 330 hari per tahun.
 
Sementara bahan baku pembuatan natrium nitrat (NaNO3) adalah natrium hidroksida (NaOH) didapatkan dari PT Asahimas Subertra Chemica, Cilegon dan asam nitrat (HNO3) dari PT Multi Nitrotama Mulia, Cikampek. Natrium nitrat (NaNO3) merupakan bahan kimia intermediate dalam pembuatan pupuk yang mengandung senyawa nitrogen, dinamit, pembuatan kalium nitrat, refrigerant, korek api, bahan bakar roket, dan pada masa kini natrium nitrat (NaNO3) banyak digunakan sebagai pengawet bahan makanan olahan.
 
Menurut Audrey, untuk mengurangi ketergantungan impor maka pendirian pabrik di Indonesia dipandang perlu untuk memenuhi kebutuhan natrium nitrat (NaNO3) dalam negeri. Keberadaan pabrik sangat diperlukan karena produk yang dihasilkan merupakan produk yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia khususnya.
 
Audrey mengatakan bahwa pendirian pabrik natrium nitrat di dalam negeri memiliki beberapa keuntungan, antara lain dapat memenuhi kebutuhan natrium nitrat dalam negeri dan mengurangi impor, menghemat devisa karena natrium nitrat diperoleh dari industri lokal serta memacu dan mendukung perkembangan industri dengan bahan baku natrium nitrat (NaNO3) dalam negeri.

Dr Arif Hidayat ST MT, Sekretaris Program Studi Teknik Kimia FTI UII, mengatakan, pelaksanaan ujian pendadaran daring kurang lebih sama dengan sidang konvensional. Hhanya saja ada penyesuaian dengan sistem selama pandemi COVID-19.
 
“Alhamdulillah, pada periode Juli 2020, ada 20 mahasiswa atau 10 persen angkatan 2016 yang mengikuti Ujian Pendadaran. Sebuah ikhtiar dari Prodi Teknik Kimia dapat memotivasi mahasiswa untuk lulus tepat waktu atau menyelesaikan studi selama kurang dari atau sama dengan empat tahun. Dan kami berharap ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk segera menyelesaikan studinya,” kata Arif. (lip)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here