Home Opini Otentitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

Otentitas Kebudayaan Kita Semakin Rapuh?

67
0
Ben Senang Galus, Umat Paroki St Paulus Pringgolayan, Bantul, Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Jika kita bertanya, bagaimana kondisi kebudayaan kita saat ini? Jawabannya tunggal: at death’s door. Mengapa? Jati diri kebudayaan kita yang religius dan humanis serta memiliki peradaban cukup tinggi di dunia, ternyata mencatat banyak peristiwa “penyimpangan”. 

Seperti kita saksikan di layar televisi, di surat kabar, medsos yang menyuguhkan berita-berita, seperti tutur kata,  tingkah laku, moral kita, perangai kita, yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan serta etika peradaban bangsa kita. Dalam kondisi yang demikian “chaos” akan memunculkan “kebudayaan baru ” yang disebut  “quasi culture”,  yang berdampak pada jati diri kebudayaan kita mengalami kerapuhan.

Demikian rapuhnya kebudayaan kita, setidaknya berbagai sebab kemungkinan berikut ini. Pertama, munculnya kesenjangan atau terputusnya hubungan antargenerasi budaya dapat membawa akibat runtuhnya peradaban perkembangan kebudayaan. Oleh karena itu kehidupan kita saat ini dan ke depan diperkirakan tidak mempunyai akar sejarah dengan peradaban masa lampau yang religius dan humanis.

Kedua, warga bangsa kita saat ini semakin menipis perasaan kolektif  dan telah mengalami disharmoni. Kurang menghargai musyawarah atau konsensus dalam mengelola kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menyelesaikan masalah dengan mengabaikan dialog, hal demikian  tidak sesuai dengan jati diri kebudayaan kita yang religius dan humanis. 

“Kekerasan” adalah semacam ideologi baru yang nota bene tidak hanya dilakukan oleh aparat keamanan yang secara sah memiliki monopoli atas perangkat kekerasan (organized violence), melainkan telah dilakukan pula oleh masyarakat kebanyakan.

Ketiga, tidak dapat dipungkiri bahwa proses dinamisasi dan peningkatan, kreativitas terjadi pula di kalangan masyarakat. Masyarakat dihadapkan pada tantangan kehidupan sehari-hari yang serba sulit, sehingga mau tidak mau harus berusaha untuk survive, ditambah lagi suatu kemungkinan terjadinya involusi kebudayaan, yaitu kencendrungan sebagian masyarakat semakin eksklusif.

Keempat, dengan perubahan yang begitu cepat dapat menyebabkan timbulnya gejala disorientasi  kultural, yakni lapisan     dalam  kebudayaan kita “ethico-mythical nucleus” yang merupakan central point of reference, telah mengalami kematian, seperti: moral, peradaban, etika.

Dalam masyarakat luas telah terjadi penyimpangan etika dan moral yang serius, mulai dari rumah tangga sampai kantor pemerintah, kecenderungan mudah terjadi tindakan balas dendam. Demikian pula halnya di sekolah sebagai lembaga penanaman nilai dan iman telah mengalamai anomali.

Dalam arus kuat   perubahan saat ini kita dihadapkan dengan beberapa pertanyaan yang substansial, sanggupkah kita merevitalisasi  jati diri kebudayaan kita? Ataukah dibiarkan begitu merana? Masihkah  moral bangsa kita mempunyai fungsi dan berperan sebagai “ benteng”  terhadap perubahan yang keliru?

Pardigma Perubahan

Indonesia tengah mengalami paradigma perubahan dalam rangka membangun Indonesia baru, di atas komitmen religius dan humanis, keadilan, etika, demokrasi, HAM, setidak-tidaknya itulah yang saat ini kita perjuangkan. Pertanyaannya, akankah   paradigma perubahan sekaligus membawa pergeseran nilai budaya pada warga bangsa kita? Jawabannya dilematis.

 Perubahan  tidak berarti ada mall,  ada jalan toll, banyak hotel berbintang, mahasiswa menenteng hand phone baru, ada baju dan sepatu baru, jalan diaspal, banyak koruptor di tangkap, banyak kendaraan mewah berseliweran di jalan. Namun perubahan itu bisa juga diterjemahkan lain yakni seluruh sistem budaya mengalami kematian alias mandeg.

Kita boleh membangun mall, hotel mewah, jalan tol, namun sedikit diantara kita yang  merasa prihatin dengan kemiskinan, stunting, kelaparan, keadilan, perdagangan perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, ini sama  hal dengan kematian  alias mandeg alias tidak maju. Atau lebih berdosa lagi, kita dengan gigih menyusun program anggaran pembangunan demi  melegitimasi kebudayaan, tapi mutu kebudayaan tetap merosot, dengan kata lain menyusun program demi melegitimasi kebudayaan, tapi tetap tidak memelihara, sama dengan tidak maju alias mandeg. 

Kendati kita sadar bahwa anggaran pembangunan yang kita terima dibiayai dari pinjaman luar negeri (hutang) yang pada akhirnya secara langsung  atau tidak, terarah pada penciptaan dan pengekalan ketergantungan (dependecy of perpetuate ). Manifestasi  dari kondisi seperti ini  pembangunan cenderung tidak menjamah kepentingan kebudayaan dan bahkan menciptakan core area  dan peripheral area di masing-masing daerah, serta tidak mendidik bangsa sendiri untuk mandiri.

Sadar atau tidak sebagai dampak pembangunan, warga bangsa  kita saat ini telah terpisah menjadi tiga komunitas kasta baru (new caste community) yang berbeda tajam. Komunitas pertama adalah core society atau kasta inti (core caste ) dengan ciri-ciri: stabil/kuat ekonominya, terjamin masa depannya, memiliki akses kekuasaan cukup tinggi. Mareka yang masuk dalam kasta ini sebut saja  komunitas sisa-sisa feodal (pejabat negara) dan mereka tetap haus akan kekuasaan, wanita, dan harta. Makanannya kebanyakan dari produk kapitalis.

Kedua, middle society atau kasta setengah pinggiran (semi peripheral  caste) yakni, lahir dari masyarakat campuran antara sisa-sia feodal dan masyarakat idealis, dengan ciri-ciri menggantungkan diri pada idealisme,  masyarakat rasional, mereka tidak membutuhkan penghargaan yang tinggi. Yang termasuk dalam kasta ini adalah para cendekiawan, kaum profesional, seniman, budayawan, rohaniawan, wartawan, penulis, jauh dari kekuasaan atau pengaruh, kesadaran politiknya tinggi, akses ke masyarakat cukup tinggi. Komunitas ini adalah  orang-orang yang “berumah di atas angin“, (WS. Rendra, 1976), tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.

Ketiga, peripheral society atau kasta pinggiran (peripheral caste), yakni tidak stabil, mudah bergeser dari satu sektor ke sektor lain, cepat berpindah pekerjaan, tidak mempunyai idealisme, hidupnya sederhana, berani hidup sengsara, kehidupannya berlangsung dari tangan ke mulut, makanannya  dari produk lima jarinya. Namun mempunyai andil besar terhadap politik dan kekuasaan (contohnya pada waktu pemilu atau pilkada). Komunitas ini kita namakan saja “masyarakat  apung”.

Mereka adalah kelompok yang besar jumlahnya. Mereka ini sebenarnya adalah sasaran pembangunan. Sebagian dalam komunitas ini adalah petani yang menyiapkan makanan bagi negara ini. Namun mereka tidak pernah diperhatikan oleh negara. Tidak mendapat subsidi sedikitpun. Mereka mempunyai tanggungjawab besar terhadap bangsa dan negara ini. 

Pengaruh Beasmtaat

Pola-pola interaksi ketiga tipologi komunitas d atas dikendalikan oleh kekuasaan atau kekuatan modern yang melegitimasi kekuasaan itu. Dengan demikian kesenjagan budaya semakin menampakkan cirinya yang sangat tajam pada tiga komunitas yang telah disebutkan di atas.

Dualisme budaya yang secara faktual berhimpit dengan kesenjangan budaya, ternyata menimbulkan gesekan-gesekan,  justeru karena masih kuatnya pengaruh beasmtaat pada core society. Kecenderungan hidup kapitalistik pada core society, melahirkan tirani kekuasaan, dan menempatkan kekayaan atau kesewenangan sebagai tujuan prilaku dan faktor penentu untuk mengukur seseorang dan kedudukan sosialnya dalam masyarakat.

Gejala ini sekaligus menandai jati diri kebudayaan kita sudah mati, di mana manusia mulai melemah dan mempertahankan transendensinya terhadap kekuasaan dan uang. Dilihat dari perkembangan budaya bukankah gejala-gejala tersebut bertentangan dengan nilai-nilai religius dan humanis?

Dewasa ini banyak aspek penting dari kebudayaan kita mengalami degradasi, karena berbagai faktor, terutama menyangkut nilai, tujuan, latar belakang dan sifat dasar penampilannya. Misalnya dalam kehidupan kebudayaan. Kebudayaan menjadi kehilangan imanennya yang justeru mendewasakan kita dalam bergaul.

Kebudayaan mulai menampakkan dirinya sekadar slogan murni, pada akhirnya kebudayaan akan menjadi transenden dalam kehidupan kita, serta spritualitas kebudayaan akan bermakna utopis. Pergeseran nilai dan fungsi pada akhirnya akan ditolak atau dihindari. Namun pembangunan yang mengabaikan dimensi etis kebudayaan kita secara utuh yang telah mampu menghidupkan orang maka terjadilah cultural counter movement  oleh masyarakat pendukung kebudayaan itu ke arah revivalisme budaya lokal.

 Kita Akarkan

Pertanyaan yang paling mendasar menuju masyarakat Indonesia baru,  dari serangkaian fenomena di atas adalah bentuk budaya yang bagaimana masyarakat Indonesia baru itu akan kita akarkan, karena pengakaran budaya baru itu akan menandai jati diri dan ketahanan budaya Indonesia masa depan. Karena itulah masalah ini sangat kritis dan perlu sikap kehati-hatian.

Pada hematnya jati diri kebudayaan Indonesia, harus ditumbuhkembangkan di atas nilai-nilai moralitas kebudayaan Indonesia, yang diaktualisasikan dengan perkembangan zaman. Ini tidak lain mengisyaratkan agar pembinaan kebudayaan sebagai proses yang berlanjut memang harus secara sadar dan penuh kesadaran dikerjakan.

Sebab masyarakat Indonesia baru itu haruslah hasil “ciptaan” budaya Indonesia sedangkan dikerjakannya harus dengan penuh kesadaran, artinya tidak bisa dipaksakan, melainkan disesuaikan dengan derap perkembangan masyarakat itu sendiri. Dalam kaitannya dengan hal ini tidaklah dapat diingkari bahwa modernisasi telah menumbuhkan momentum perubahan dan pergeseran masyarakat ke arah masyarakat Indonesia baru itu. Adanya modernisasi telah membuka cakrawala yang lebih lebar lagi atas pilihan-pilihan yang bisa diambil terhadap hampir semua hal.

Memilih inilah yang telah ikut mengambil bahagian dalam meningkatkan rasionalitas masyarakat Indonesia, sebab masyarakat Indonesia telah dihadapkan pada alternatif pilihan yang semakin kompleks yang tidak hanya ini atau itu saja

Dalam menyongsong terbentuknya masyarakat Indonesia yang  sangat rasional itu maka sudahlah sewajarnya apabila kita pertanyakan: apakah kemampuan rasional yang semakin tinggi akan berakibat menipisnya kemampuan emosional kebudayaan yang menjadi penopang hidup kita?

Pada hematnya pembinaan kemampuan emosional kebudayaan untuk menumbuhkan kebudayaan harus ditempuh melalui lembaga keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga media (cetak dan elektronik) dan jangan dibiarkan menentukan  arahnya sendiri. Pendidikan budaya yang dilaksanakan secara sadar itu diperlukan untuk menahan dampak negatif dari arus modenisasi. Bahkan kebudayaan diungkap pula dalam bentuk proteksionisme yang pada dasarnya mengandung unsur survival bangsa, namun  kalau tidak terkendali akan menumbuhkan chauvinisme yang sangat berlebihan.

Sehingga apabila di Barat terjadi gerakan kembali ke arah keagamaan yang awalnya dipacu oleh kepahaman harkat manusia, maka di Indonesia hal itu tidak akan dirasakan karena suasana keagamaan nampak jelas tetap menjadi landasan pada semua stratum kehidupan.

Sejalan dengan hal itu, kita merasa yakin bahwa jati diri kebudayaan kita mendatang akan tetap nampak jelas walaupun dengan kadar rasionalitas yang tinggi, melalui upaya-upaya pembinaan kebudayaan yang terencana.

Dengan demikian maka  kebudayaan kita saat ini maupun masa depan harus dibangun di atas komitmen nilai-nilai imanen kebudayaan Indonesia, penciptaan masyarakat mandiri (civil society), demokrasi, penanaman kesadaran tentang perlunya iptek yang humanis dan ramah terhadap lingkungan budaya, pengembangan etos kerja. Pokoknya membangun ketahanan budaya Indonesia secara arif dan kreatif serta menempatkan martabat manusia sebagai rohnya, maka mustahil  kebudayan kita akan mati.

Pada hematnya pembinaan kemampuan emosional untuk menumbuhkan kebudayaan baru tadi secara terus menerus ditempuh melalui keluarga, pendidikan di sekolah, lembaga politik, lembaga pers, lembaga keagamaan, dan seterusnya dan  jangan dibiarkan menentukan arahnya sendiri. Pembentukan melalui lembaga tadi harus dilaksanakan secara sadar  dan terus menerus  untuk menahan dampak negatif dari pengaruh kebudayaan Barat. Maka ketahanan budaya dan jati diri kebudayaan kita   akan menjadi kuat dan tak terkoyak oleh kontamininasi budaya Barat. (Ben Senang Galus, penulis buku, “Kosmopolitanisme, Satu Jiwa Satu Negeri, tinggal di Yogyakarta).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here