Home News Organisasi Kampus Jadi Wadah Membangun Relasi dengan Dunia Usaha

Organisasi Kampus Jadi Wadah Membangun Relasi dengan Dunia Usaha

45
0
Acara Stadium General Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UWM, Senin (21/6/2021), melalui daring. (Foto: Kiriman Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Motivasi berorganisasi mahasiswa saat ini mengalami degradasi, banyak kampus mengalami hal tersebut. Padahal organisasi kampus merupakan miniatur mengelola sebuah negara dan masyarakat. Mahasiswa akan mendapatkan banyak hal dengan aktif berorganisasi di kampus. Demikian disampaikan Ihwan Setiawan, SH Alumni Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram (UWM) sebagai salah satu Narasumber acara Stadium General Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UWM, Senin (21/6/2021).

Acara dilaksanakan secara terbatas mengingat kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Stadium General mengangkat tema “Optimalisasi Peran Mahasiswa Demi Terwujudnya Lembaga Kemahasiswaan FISIPOL yang Humanis, Kritis dan Profesional”. Turut hadir Dekan dan para Wakil Dekan FISIPOL serta para mahasiswa FISIPOL yang mengikuti secara daring dan luring. Narasumber yang juga turut mengisi acara yakni Paharizal, SSos, MA selaku Kaprodi Sosiologi dan Latifa Zahra, SIKom, MA selaku Kaprodi Ilmu Komunikasi.

Ihwan mengungkapkan, dunia kerja membutuhkan softskills yang dimiliki para pencari kerja dan pekerjanya. Mahasiswa yang juga akan masuk dalam dunia kerja bisa mendapatkannya dari organisasi kampus. Aktif berorganisasi menjadi kesempatan untuk membangun relasi dengan teman, orang diluar kampus bahkan orang di dunia usaha.

“Organisasi juga bisa menjadi ajang eksistensi diri untuk melatih komunikasi agar lebih percaya diri. Mahasiswa akan terasah jiwa kepemimpinannya, dan hal ini penting karena negara kita saat ini sedang krisis kepemimpinan,” terang Mantan Ketua Senat UWM itu.

Alumni yang juga pengusaha jasa Tour and Travel itu menegaskan, bahwa melalui lembaga kemahasiswaan, mahasiswa dapat mempertajam kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan itu lebih baik daripada mahasiswa hanya menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.

Sementara itu, Paharizal menjelaskan tipe-tipe mahasiswa di kampus yang beragam, seperti mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang), mahasiswa kutu kupret (kuliah-tugas, kuliah-presentasi), dan  mahasiswa kudis kurap (kuliah-diskusi, kuliah-rapat). Selama menjadi mahasiswa, semestinya harus berorientasi pada hardskill dan softskill.

“Dengan menguasai softskills, mahasiswa akan mampu memanajemen waktu, berkomunikasi dengan masyarakat luar. Kejarlah organisasi sebagai perkumpulan untuk meningkatkan kemampuan di luar hardskill, ” kata Kaprodi Sosiologi itu.

Dalam aspek praktis, Latifa menuturkan, organisasi harus memiliki kejelasan tentang aktivitas dan peran yang dilakukan sehingga mahasiswa benar-benar tahu tentang organisasi. Program Kerja (Proker) harus dibahas bersama dalam organisasi, tidak hanya dikerjakan ketua. Organisasi harus berorientasi pada hasil, disamping juga memperhatikan proses yang berjalan.

“Organisasi harus terbuka untuk membangun trust sehingga akan berimplikasi pada relasi. Mahasiswa harus berupaya mencari sponsor ketika menghadapi keterbatasan anggaran, dan di sanalah sikap kritis diperlukan. Sikap kritis mengajarkan kepada mahasiswa untuk mampu melihat celah permasalahan. Selain itu kreatif juga berangkat dari sikap kritis mahasiswa,” papar Latifa. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here