Home Ekonomi OJK dan Ekonom Yogyakarta: Mobilitas Salah Satu Kunci Pemulihan Ekonomi

OJK dan Ekonom Yogyakarta: Mobilitas Salah Satu Kunci Pemulihan Ekonomi

136
0
Suasana Diskusi Informal OJK dengan para Ekonomo Yogyakarta, Sabtu (5/6/2021) malam, di Hotel Royal Ambarrukmo, Jalan Adisutjipto, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santosa didampingi dengan beberapa Deputi Komisoner menenyelenggarakan diskusi dengan para Akademisi, khususnya Ekonom yang berdomisili di Yogyakarta, Sabtu (5/6/2021) malam, di Hotel Royal Ambarrukmo, Jalan Adisutjipto, Yogyakarta.

Hadir dalam diskusi tersebut Mardiasmo, Mantan Wamenkeu/FEB UGM; Wihana Kirana Jaya, Guru Besar FEB UGM; Eko Suwardi, Dekan FEB UGM/Ketua ISEI Cabang Yogyakarta; Bagus Santosa, FEB UGM; Gunawan Sumodiningrat, Guru Besar Emeritus FEB UGM; Rimawan Pradiptyo, FEB UGM; Jaka Sriyana, Guru Besar FBE UII; Bogat, FEB Unbraw/Waket 2 ISEI Cabang Yogyakarta; Rudy Badrudin, STIE YKPN/Waket 3 ISEI Cabang Yogyakarta; Irwan Tri Nugroho, FEB UNS dan Y. Sri Susilo, FBE UAJY/Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.

Selaku tuan rumah dalam diskusi itu adalah Kepala OJK DIY Jimmy Parjiman. Pertemuan dan diskusi tersebut merupakan yang kedua kali pada tahun ini. Sebelumnya pada bulan Maret 2021 juga telah dilakukan pertemuan sejenis. Sebelum di Yogyakarta, Wimboh Santosa telah mengunjungi Solo. Setelah kota Yogyakarta, Ketua Dewan Komisoner OJK dan jajarannya akan mengunjungi Bandung dan kota lainnya di Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santosa. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

“Kami OJK harus sering turun ke lapangan untuk menjaring asprirasi dari pelaku usaha, akademisi dan masyarakat terkait program pemulihan ekonomi karena Pandemi Covid-19,” jelas Wimboh. Menurut Wimboh, dengan terjun ke lapangan dapat diperoleh informasi yang lebih akurat sebagai bahan untuk mengevaluasi sejauh manakah efektivitas kebijakan dan program yang telah dijalankan.

“OJK sendiri melakukan gerak cepat untuk mendukung pemulihan ekonomi dengan memberikan dukungan penuh kepada korporasi, termasuk UMKM,” ungkap Wimboh. Terkait dengan hal tersebut, lanjutnya, OJK mempertemukan peran perbankan kepada kebutuhan industri melalui kebijakan restrukturisasi kredit atau pembiayaan.

Dalam diskusi dengan para Ekonom Yogyakarta dapat dicatat beberapa hal sebagai berikut,  Pertama, untuk perekonomian DIY membuka akses mobilitas kegiatan ekonomi secara bertahap menjadi salah satu kunci pemulihan ekonomi. Mobilitas tersebut harus diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin tinggi. Mendukung kebijakan Gubernur DIY terkait strategi kusir andong dalam pemulihan ekonomi yaitu tarik-ulur tali kekang untuk mengendalikan laju lari kuda. Kebijakan dan program pemulihan ekonomi juga harus mempertimbangkan sungguh-sungguh  kepentingan kesehatan (waras) dan ekonomi (wareg).

Kedua, pelaku usaha di DIY, khususnya UMKM disamping membutuhkan dukungan restrukturisasi kredit atau pembiayaan namun juga membutuhkan kucuran modal kerja dengan regulasi yang lebih luwes. Dengan kondisi usaha saat ini, banyak usaha yang berhenti namun juga ada yang mulai beroperasi karena adanya permintaan dari pasar. Namun mereka tetap mengalami kendala pembiayaan. Bagi usaha yang prospektif, misalnya produk ekspor dukungan pembiayaan harus diberikan dengan kemudahan dan regulasi yang fleksibel.

Sementara itu, Y. Sri Susilo di akhir acara diskusi mengungkapkan, bahwa acara pertemuan atau diskusi OJK dengan Ekonom merupakan tradisi yang baik dan sebaiknya rutin dilakukan. “Berharap, ke depan sebaiknya dalam forum diskusi tersebut juga mengundang pelaku usaha agar diskusi lebih representatif dan komprehensif,” imbuh dosen yang hobi gowes itu. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here