Home Opini NTT Sebagai Integrating Force Indonesia

NTT Sebagai Integrating Force Indonesia

146
0
Ben Senang Galus, pemerhati pendidikan, tinggal di Yogyakarta)

BERNASNEWS.COM – Dalam globalisasi otoritarianisme dan kekerasan kadang kala memiliki daya tarik yang hebat bagi sebagian orang yang sedang bergulat menghadapi dunia yang berubah dan situasi dislokasi kultural. Simbol dan ritual tradisional menjadi kehilangan kekuatan sebagai pembawa makna lingkungan. Mereka juga semakin jauh dari kehangatan kekerabatan.

Dalam situasi yang serba cepat dan kompleks, reaksi semacam itu bisa dimaklumi, apalagi krisis global juga membawa manusia pada titik kritis. Jika fundamentalisme akhirnya berubah menjadi ungkapan kekerasan dan otoritarianisme, maka upaya untuk mengeliminasinya pun harus dimulai dengan kepekaan empati. Di sinilah agama harus menyediakan orientasi pencerahan bagi manusia di tengah zaman yang sedang berubah. Usaha ekumenis (pewartaan) yang jujur sangat diperlukan dalam proses pemaknaan hidup. Keadaan semacam ini menjadi tantangan bagi semua suku bangsa di NTT.

Dalam ajaran budaya apapun telah mengisyaratkan secara jelas perlunya hubungan pada level global diantara bangsa dan suku di bumi, sehingga hubungan antar bangsa merupakan sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, nilai-nilai budaya yang diisyaratkan secara jelas harus ditransformasikan dalam konteks globalisasi yang terjadi pada saat ini agar menjadi pegangan hidup bagi setiap masyarakat dalam membangun relasi sosial yang di kembangkannya.

Semua kebudayaan datang ke dunia membawa pesan perdamaian. Hal ini menunjukkan bahwa perdamaian merupakan sebuah doktrin yang sangat penting dalam semua budaya. Dalam sejarah peradaban Kristen, persentuhan Kristen dengan kebudayaan lain (Islam) misalnya, justru menghasilkan peradaban baru yang monumental.

Keadilan merupakan salah satu konsep semua kebudayaan yang paling utama dalam relasi sosial. Keadilan adalah prinsip hidup kebudayaan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Konsep keadilan dalam Kristen, misalnya, juga sangat dekat dengan konsep wasath dalam Islam, yaitu sikap seimbang dan menengahi dalam semangat moderasi dan toleransi.

Kedekatan dengan konsep wasath meniscayakan semua pemangku kebudayaan untuk aktif berbuat sesuatu untuk menengahi ketidakadilan yang saat ini sedang terjadi di Indonesia dengan sikap moderat dan toleran. Inilah juga yang dimaksud dengan pemberdayaan. Demikianlah transformasi nilai kebudayaan dalam konteks globalisasi.

Kebudayaan adalah tempat kembali bagi orang-orang modern menemukan martabat dan jati diri kemanusiaan. Dalam kebudayaan orang bisa menemukan ruang kontemplatif bagi pencerahan manusia. Oleh kerena itu nilai kebudayaan tentang kemanusiaan harus ditransformasikan untuk memberikan pencerahan hidup bagi manusia yang dikekang dan ditindas oleh sistem yang diciptakannya sendiri, agar pribadi modern di era global mampu membebaskan dirinya dari jebakan keduniaan (provanisme) tanpa harus meninggalkan gelanggang dinamika peradaban dunia.

Doktrin kebudayaan termasuk agama, misalnya, menegaskan bahwa dalam diri manusia terdapat sifat-sifat Nabi, Rasul, dan Guru, oleh karenanya manusia dituntut untuk memandang dan menyikapi kehidupan dunia secara positif dan aktif, sehingga meninggalkan gelanggang peradaban dunia tidak dibenarkan dalam kebudayaan-kebudayaan/agama-agama.

Seruan pada kebaikan adalah membangun karya-karya kemanusiaan yang agung pada peradaban manusia, ajakan berbuat menata dunia baru ialah membangun kebudayaan luhur yang menjunjung tinggi harkat kemanusiaan dan mendekatkan diri kepada Tuhan, dan pencegahan perbuatan tercela ialah membebaskan manusia dari kehancuran moralitas kemanusiaan.

Merekonstruksi Ke- NTT-an

Berbeda dengan kota besar lain di Indonesia, NTT berdiam berbagai ragam etnis, bahasa, agama, budaya, sehingga kita bisa menyebutnya sebagai kota multikultural. Faktor itulah yang menyebabkan berbagai suku, agama, budaya memilih NTT sebagai tempat yang paling aman untuk tinggal dan berusaha.

Selain daya tarik itu pemerintah daerah maupun penduduk setempat  tidak pernah menolak warga dari daerah lain yang ingin melakukan kegiatan ekonomi, sosial dan budaya maupun aktivitas keagamaan, dan sebagainya. NTT itu dinamis, terutama sikap masyarakatnya yang bisa memahami berbagai macam perbedaan, melebihi daerah lain di Indonesia. Yang lebih menarik lagi perkembangan NTT lebih spesifik karena di sini ada idealisme budaya, dan semua itu tidak ada di kota lain, apalagi Jakarta yang sudah sangat industrialis dan cenderung kapitalistik.   

Mereka semua bisa belajar hidup tanpa ada perbedaan asal usul kesukuan, agama maupun ras. Dan itulah barangkali kelebihan masyarakat NTT maupun para pemimpinnya di sini yang mencurahkan banyak energi untuk memberi semangat kepada semua orang dari kalangan etnis apa pun untuk membangun NTT dalam perdamaian.

Namun demikian, sejalan dengan perkembangan kota lain di Indonesia, realitas multi tersebut  berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi “ke-NTT-an”  sebagai integrating force Indonesia yang mengikat seluruh keragaman etnis, bahasa, budaya, agama tersebut di daerah ini.

Kita tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa NTT sebagai kota multikultural  kadang memperlihatkan kecenderungan kurang “bersehabat” karena hubungan  tu nampaknya hanya bersifat “semu”.

Begitu semunya hubungan itu, sehingga tidak jarang  muncul “konflik bersekala kecil” yang berdampak pada proses akulturasi budaya berjalan lambat. Karena setiap kelompok sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, tanpa adanya kesediaan ruang dialog untuk memecahkan kebuntuan hubungan itu, mendorong tumbuhnya konflik yang mengarah pada perpecahan yang bisa menimbulkan  semacam collective efferescence atau keadaan yang meluap yang dialami oleh kelompok.

Walaupun itu tidak nampak ke permukaan, namun perlu diwaspadai untuk ke depannya. Karena mungkin saja NTT saat ini hidup rukun dan damai, ada pihak lain yang mengganggu ketentraman itu.

Sesungguhnya “konflik” mencerminkan latar belakang kondisi sosial dan kebudayaan masyarakat kita pada umumnya dalam menghadapi proses akulturasi dan perkembangan kebudayaan yang berlangsung amat pesat. Walaupun para “pendatang” dari luar daerah mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dalam arti luas, akan tetapi perubahan yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat, menyebabkan kehilangan akal sehat dalam menghadapinya dan itu adalah suatu hal yang ”wajar” bagian dari dinamika perkembangan kawasan.       

Walaupun jumlah warga yang memilih tindak kekerasan sebagai protes terhadap perubahan lingkungan yang kurang menguntungkan itu tidakbesar, namun dampaknya sangat luas. Masyarakat NTT yang pada umumnya hidup rukun dan damai, akhirnya terseret untuk ikut melakukan kekerasan sebagai pilihan untuk menghadapi tantangan ketika cara-cara konvesional tidak efektif  lagi.

Konflik semacam ini, bisa mungkin sangat rentan karena kelompok kepentingan yang terdapat dalam masyarakat mempunyai kepentingan sendiri dan ingin supaya kepentingan itu didahulukan dari pada kepentingan kelompok lainnya. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa kalau kita mau membuat masyarakat NTT menjadi  lebih baik, lebih harmonis dari pada sekarang, pengetahuan atau pemahaman kita terhadap  etnis lain mutlak diperlukan. Hanya dengan pengetahuan atau pemahaman itu kita dapat mendekati permasalahan pokok yang dihadapi bangsa kita.

Bercermin pada Sejarah

Untuk mengingat kembali memori kolektif kita, sudah sepatutnya kita bercermin pada sejarah awal menyatunya republik ini. Untuk itu saya mengajukan sebuah pertanyaan eksitensial, motivasi apa yang mendorong berbagai suku bangsa, agama, ras, dan bahasa menyatakan dirinya dan memilih NTT sebagai tempat berkebudayaannya? 

Yang mendorong memilih NTT sebagai tempat berkebudayaan atau berusaha/berekonomi ialah, ikatan kukuh  antarsuku,  agama, ras, bahasa, karena NTT mempunyai semangat dan filosofi moral yang sama untuk membentuk masyarakat bersatu.   Semangat kebersamaan dan nilai-nilai moral itulah yang menjadi pilihan utama para warga dari daerah lain, yakni masyarakat indisoluble and permanent nation

Emile Durkheim dalam karya klasiknya Essays in Sociological Theory mengatakan Each nation has its own moral Philosophy conforming to its character, artinya setiap bangsa mempunyai falsafah moral masing-masing yang sesuai ciri-ciri khusus bangsa itu. Karena nilai-nilai moral yang kita miliki, sebenarnya adalah nilai-nilai yang diakui bersama oleh kelompok tempat kita berada (human concience that we must integrally realize is nothing else than the collective concience of the group which we are the part).

Semakin majemuk masyarakat, semakin majemuk fungsi-fungsi di dalamnya, semakin majemuk pula nilai-nilai yang disepakati untuk dijadikan tali pengikat mereka dalam kebersamaan, itulah watak khas kebudayaan yang ada di NTT. Jiwa kehidupan sosial suatu masyarakat (NTT) bersumber dari dua hal: adanya pembagian fungsi diantara sesama anggotanya dan adanya kesamaan pandangan tentang nilai-nilai moral.

Pandangan tentang nilai-nilai moral itu akan berkembang sesuai dengan perkembangan kemajemukan dalam masyarakat itu sendiri. Ada yang berubah, ada juga yang dipertahankan. Jika unsur kesamaan hilang dari seseorang, maka ia dilihat sebagai bukan orang kita atau ia berbeda dari kita.

Jika kehilangan kesamaan itu terjadi pada sisi yang dianggap sebagai fundamental, maka dapat merusak kelangsungn hidup  itu sendiri. It is impossible for offense againts the most fundamental collective sentiments to be tolarable without the disintegration, seakan melegitimasi deakulturasi budaya, karena masih ada sekelompok etnis tertentu memandang etnis lain sebagai suatu golongan yang tidak mempunyai akar dalam masyarakat dengan ciri etnis, bahasa yang sama sekali berbeda dan begitu juga bentuk-bentuk kebudayaannya.

Dalam rangka merekonstruksi ke-NTT-an sebagai integrating force Indonesia, beberapa pendekatan berikut barangkali bermanfaat untuk kita acu. Pertama, pendekatan eksistensialisme, yaitu pendekatan historis masalah lalu, masa kini dan masa depan menuju kejayaan bangsa. Pendekatan eksistensialisme kita dapat bercermin pada obsesi pendekatan konflik budaya dari Samuel Huntington, yang mengatakan bahwa “… In an increasingly globalized world… there is an exacerbation of civilizational, societal and ethnic self-consciousness”. 

Pendekatan ini secara eksplisit ingin mengatakan kepada kita bahwa titik tolak eksistensi suku-suku bangsa di NTT dengan tetap hidupnya budaya peaceful co-exixtence sebagai belahan lain  dari peradaban mondial, tetapi secara implisit kita temukan penegasa-penegasan historis menjadi dasar pembentukan bangsa beradab.

Kedua, setiap lembaga pendidikan di NTTsudah mulai merintis model pendidikan multikultural (multiculturel based learning) di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi, mengingat beragamnya latar belakang warga belajar. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya rekonstruksi sosial terhadap begitu kuatnya fenomena divergen-disintegratif, yaitu rasa kedaerahan, identitas kesukuan, keakuan dan kekitaan, dan the right to culture, baik dalam tataran perorangan maupun suku bangsa, yang telah menimbulkan fragmentasi kelompok dan menyebabkan pergeseran-pergeseran horisontal yang tidak dikenal sebelumnya.

Melalui pendidikan multikultural dapat dijadikan sebagai strategi budaya dalam menanamkan sikap egaliter terhadap keberadaan kelompok lain  dan selanjutnya untuk mereduksi ekskalasi gerak-gerak divergensi menjadi gerak-gerak konvergensi ke arah kohesi nasional. Maka saya yakin NTT sebagai integrating force Indonesia yang mengikat seluruh keragaman etnis akan terwujudd dan menjadi sumber inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Untuk itu kepemimpinan lokal harus mengambil perannya, dan bagi kita tantangan semacam ini merupakan suatu tuntutan kurikuler yang harus terwujud di ruang-ruang kelas.

Wacana ini dilatarbelakangi oleh sebuah pemikiran semakin  menguatnya rasa kesukuan yang berlebihan, yang melahirkan ketidakharmonisan dalam kehidupan bangsa yang pluralistik, di mana konflik horisontal ternyata tidak saja berlatar belakang ekonomi melainkan juga sosial budaya, agama, dan suku.

Ketiga, mewujudkan perubahan struktural di bidang sosial – ekonomi dalam arti transformasi dari ketimpangan menjadi keseimbangan diantara berbagai macam etnis yang ada dengan pola hubungan dialogis. Sedangkan untuk mendorong proses akulturasi budaya perlu diciptakan suasana yang mampu mendorong berbagai suku bersikap lebih terbuka dengan penduduk asli. Sikap ini tidak cukup hanya dibebankan kepada salah satu   etnis saja, tapi juga aparatur pemerintah dalam bentuk kebijaksanaan pelayanan umum. Sebab, tidak jarang terjadi kebijaksanaan yang diberikan intansi pemerintah justeru tidak mendorong usaha akulturasi budaya.

Keempat, suku, etnis, dan kebudayaan mana pun harus menjadi orang  NTT di NTT. Dengan cara demikian kita menjadi ”berada, bereksistensi, diakui, diterima sebagai anak kandung NTT. Intinya di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak berada, berarti memahami/mendalami kebudayaan NTT. Jadi tanpa ada sikap ragu-ragu. Jangan  lagi melulu dikalangan seetnis (eksklusif, mengelompok) atau membentuk etnis “ baru”.

Caranya mudah sekali belajar bahasa-bahasa di NTT, belajar kebudayaan NTT,  ikut kerja bakti, ikut pesta adat (kunduren), ikut sawalan, ikut pengajian bersama, ikut koor di lingkungan atau gereja, ikut melayat jika ada yang meninggal dunia, ikut gotong royong di RT/RW, ikut menjaga tempat ibadah. Tindakan demikian sangat membantu pendekatan masyarakat setempat juga mungkin melalui perkawinan. Demikian pula semua orang yang datang ke NTT berusaha memamahi lebih mendalam mengenai filosofi hidup orang NTT, yakni “Katong Besaudara”

Tanpa melakukan itu semua, maka perbincangan tentang akulturasi budaya, toleransi kehidupan beragama justeru akan selalu berakhir dengan sebuah pertanyaan; masihkah diperlukan mempersoalkan masalah akulturasi budaya, toleransi hidup beragama? Hal ini layak diajukan sebagai pertanyaan, mengingat NTT beragam etnis diperlukan adanya kesadaran sosial sebagai sebuah entitas nilai yang luhur dan mulia. Tanpa pertanyaan seperti itu, refleksi diri dan kemampuan mengkalkulasikan akultural budaya, toleransi beragama justeru akan menyudutkan pandangan kita ke arah parokialisme dan sinkretisme pemikiran.

Oleh karena itu kami mengajak semua pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk pengambil kebijakan di NTT untuk terus menerus mengaktualisasikan nasionalisme kultural, mengingat NTT masyarakatnya multikultural. Semua itu akan melaksanakan dialog kultural dalam konteks nasionalisme yang tidak menetap dan kaku bagi sebuah NTT sebagai integrating force Indonesia, demi melanjutkan makna akulturasi budaya, toleransi beragama bagi tegaknya hubungan harmonis antaretnis, antarbudaya, antaragama, antarbahasa bagi tegaknya NTT City of ToleranceNTT is the City of the Future Indonesia. (Ben Senang Galus, penulis buku “Kosmopolitanisme Satu Negeri Satu Jiwa”, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here