Home News Lembaga Noken Solutions Gelar Penemanan bagi Mahasiswa Papua di Jogja

Lembaga Noken Solutions Gelar Penemanan bagi Mahasiswa Papua di Jogja

69
0
Elna Febi Astuti, Founder Noken Solutions.Foto : Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM –Lembaga Noken Solutions mengundang kaum muda untuk mengikuti kegiatan Mental Development mulai 8 Mei sampai dengan 30 Mei 2021 di Horaios Malioboro Jalang Gowongan Kidul 57 Kota Yogyakarta. Kegiatan dilakukan setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 16.00-21.00 WIB.

Founder Noken Solutions Elna Febi Astuti SH kepada Bernasnews pada Jumat 7 Mei 2021 mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk membangun mentalitas, terutama bagi kaum muda. Sebab, saat ini terjadi perubahan mentalitas dan etika manusia yang cenderung menurun dalam menghadapi dinamika hidup sosial kemasyarakatan.

Menurut Elna, manusia butuh keseimbangan karena keseimbangan merupakan sarana penting untuk mencapai kesejahteraan, baik jiwa maupun raganya. Manusia yang seimbang bertindak secara tepat untuk kebaikan dirinya sendiri dan orang di sekitarnya, mampu belajar dari kesalahan dan menikmati hari-harinya sebagai proses pengembangan diri sepanjang hidup. Pilihan-pilihan manusia seimbang akan mendukung pola hidup jasmani maupun rohani yang sehat, sehingga keharmonisan relasinya dengan diri sendiri, manusia dan alam sekitar serta dengan Sang Pencipta menjadi terjaga.

Dikatakan, keseimbangan seseorang bisa dilihat dari lima aspek, yaitu yang sifatnya fisik, mental, emosional, energetis dan spiritual. Ketidakseimbangan di satu aspek mempengaruhi keseluruhan keseimbangan seseorang. Sebagai contoh, seorang pembelajar mudah menyerah sebelum tugas selesai, atau malah sebaliknya, segala tugas yang dikerjakan harus sempurna seribu persen.

Elna Febi Astuti. Foto : Dok Pribadi

Atau, saat ada masalah, salah seorang pengurus organisasi mengatakan “mengapa semua ditimpakan pada saya?”; atau sebaliknya ada pengurus lain yang mengatakan “ini semua salah saya.” Ini adalah kondisi-kondisi tidak seimbang di ranah mental dan emosi yang hambatannya bisa ditemukan di aspek lain, misalnya fisik. Bisa jadi sisi otak kiri tidak berkomunikasi dengan lancar dengan sisi otak kanan karena postur tidak seimbang, atau ada hambatan neurovaskuler (sirkulasi darah di otak dan organ-organ tubuh lain).

Contoh lain, seorang wirausahawati mengatakan “Aku dulu nggak seperti ini. Dulu aku ceria dan bersemangat; sekarang aku merasa capai saat bangun pagi dan malas menghadapi pekerjaanku. Aku sudah berusaha berpikir positif, tapi aku lebih sering sedih berkepanjangan, bahkan kadang aku ingin segera pergi saja dari dunia ini. Aku merasa sangat berdosa karena pikiran ini”.

Saat pikiran positif tidak membantu orang ini menjadi baik, bisa jadi hambatan dia tidak berada di sisi kesadaran, tetapi jauh di alam bawah sadarnya, sebuah luka batin sejak dalam kandungan ibunya. Dalam posisi seimbang, seorang pembelajar atau pengurus organisasi bisa merasakan seluruh dirinya berpikir dan bergerak secara serentak, dan mampu berhenti sejenak untuk merenung saat ada yang terasa kurang beres.

Menurut Elna, dalam kegiatan ini akan diawali dengan renungan pembuka, dimanak peserta diajak untuk menyelami tantangan spiritual dalam hidup sehari hari. Setelah itu dalam penyeimbangan kelompok, dengan teknik kinesiologi dilakukan pemetaan terhadap hambatan-hambatan yang umum ada dalam kelompok tersebut. Bisa jadi misalnya, ditemukan pola-pola emosi terpendam yang umum seperti khawatir dan marah. Bisa juga ada hambatan yang termanifestasi dalam bentuk ketidaknyamanan tubuh seperti kepala terasa berat atau nyeri di bagian tubuh tertentu misalnya.

Elna Febi Astuti. Foto : Dok Pribadi

Hambatan-hambatan tersebut diseimbangkan langsung dengan gerakan-gerakan braingym, terapi touchfor health berupa sentuhan di titik-titik energi di tubuh (salah satunya titik akupresur Cina), atau terapi warna. Selanjutnya dalam renungan pemeriksaan batin peserta akan diajak untuk memahami lebih jauh hambatan-hambatan dalam diri dengan berdiskusi.

Setelah penutupan, peserta diberi kesempatan untuk melanjutkan proses penyeimbangan dengan melakukan Penyeimbangan/Konseling pribadi. Setelah hambatan-hambatan yang umum ditemukan dalam kelompok diangkat dalam sesi penyeimbangan kelompok, peserta sekarang berkesempatan untuk mendalami hambatan-hambatan keseimbangan yang lebih spesifika dalam diri peserta tersebut dalam konseling pribadi.

Saat konseling, hambatan pribadi digali dan yang muncul diterapi saat itu juga. Dalam satu proses penyeimbangan kelompok dan konseling pribadi tidak semua hambatan bisa mengemuka. Biasanya ada hambatan-hambatan yang tersimpan pada lapis-lapis ketidaksadaran yang dalam, sehingga memerlukan beberapa kali penyeimbangan untuk bisa mencapai semua atau sebagian besar hambatan seseorang.

“Peserta akan senantiasa didorong dan dilatih untuk bertanggungjawab pada keseimbangannya sendiri, sehingga dia bisa menjadi pribadi yang mandiri,” kata Elna. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here