Tuesday, May 24, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaNgapem Bareng, Pengenalan Tradisi Budaya pada Generasi Muda

Ngapem Bareng, Pengenalan Tradisi Budaya pada Generasi Muda

bernasnews.com — Tradisi dari leluhur wajib kita jaga dan lestarikan. Generasi muda sejak dini harus dikenalkan kepada tradisi budaya, dengan kondisi tersebut maka warisan tradisi budaya termasuk Ruwahan, dapat dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus.

Hal tersebut disampaikan oleh AM Putut Prabantoro, Dosen Lemhanas RI saat menghadiri giat budaya ‘Ruwah Gumregah’ berupa ‘Ngapem Bareng’ (membuat kue apem secara Bersama) Minggu 27 Maret 2022, di Kampung Budaya Langenastran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta.

“Generasi muda sejak dini harus dikenalkan kepada tradisi budaya,” ungkap AM Putut Prabantoro, yang juga salah satu penggagas Paguyuban Kampung Budaya Langenastran.

Lurah Panembahan RM. Murti Buntoro saat menyampaikan sambutan dalam acara ‘Ruwah Gumregah’ yang diselenggarakan oleh Kampung Budaya Langenastran, Minggu (20/3/2022). Foto: Istimewa.

Giat budaya ‘Ruwah Gumregah’ sempat ditiadakan pada tahun 2020 dan 2021 karena adanya pandemi Covid-19. Oleh sebab masih pandemi maka hanya diselenggarakan acara ‘Ngapem Bareng’, yang diwakili oleh 9 RT, di wilayah RW 03 Kampung Langenastran, Kelurahan Panembahan.

Pada tahun 2022 ini merupakan penyelenggaraan yang ke-4 dan dihadiri serta diresmikan secara langsung oleh Lurah Panembahan, RM. Buntoro Murti. “Kelurahan Panembahan mendukung sepenuhnya acara Ruwah Gumregah dalam bentuk Ngapem Bareng,” kata dia.

Tahun mendatang, lanjut RM Buntoro Murti, acara Ngapem Bareng diharapkan akan melibatkan seluruh warga Kelurahan Panembahan. “Misalnya, diwakili setiap RW yang ada di wilayah Kelurahan Panembahan,” terang dia.

Seperti diketahui, bahwa kata ‘Ruwah’ sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Arab ‘arwah’ yang memiliki makna roh, nyawa, atau jiwa. Secara bebas, ruwah dapat diartikan sebagai arwah atau roh-roh orang yang sudah meninggal dunia. Sehingga ruwahan bisa disebut kegiatan mengenang roh-roh tersebut.

AM Putut Prabantoro, Dosen Lemhanas RI (Kiri nomor 2) foto bersama dengan Ketua Paguyuban Kampung Budaya Langenastran, tokoh masyarakat setempat, pemenang lomba masak apem, dan Ketua Pokdarwis Panembahan Gumregah Y. Sri Susilo (Kanan). Foto: Istimewa)

Ketua Paguyuban Kampung Budaya Langenastran KRT Raditya Wisroyo dalam sambutannya mengatakan, bahwa masyarakat Jawa dikenal dengan banyaknya ritual yang dilakukan dalam berbagai kesempatan. “Seperti ketika menjelang bulan puasa, ada tradisi Ruwahan yang pasti menghadirkan makanan Ketan, Kolak dan Apem,” jelasnya.

Menurut KRT Raditya, tradisi ini sendiri biasanya dilaksanakan bulan Ruwah dalam penanggalan kalender Jawa, atau bulan Syaban dalam kalender Hijriah. Biasanya tradisi Ruwahan ini diselengarakan 10 hari menjelang bulan puasa, yang ditandai dengan membuat sajian Ketan, Kolak dan Apem.

“Nantinya, sajian ini akan dibagikan ke saudara-saurda juga ke tetangga sekitar. Ada pula yang menyelenggarakan Ruwahan ini dengan acara kenduri,” beber KRT Raditya Wisroyo.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Paguyuban Kampung Budaya Langenastran Y. Sri Susilo menambahkan, jika kondisi pandemi semakin membaik maka kegiatan ‘Festival Batik & Bathok’ akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2022, di tempat yang sama.

“Gelaran ‘Festival Batik & Batok’ sudah diselenggarakan pada tahun 2016 dan 2018. Dalam kegiatan tersebut dipamerkan batik Kraton Ngayogyakarta dan Pakualaman, serta batik tulis tradisonal dan modern,” imbuh Y. Sri Susilo, yang juga sebagai Ketua Pokdarwis Panembahan Gumregah. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments