Thursday, June 30, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniNegara Demokrasi, Dapatkah Kritik dengan Cara Parodi?

Negara Demokrasi, Dapatkah Kritik dengan Cara Parodi?

bernasnews.com — Majunya peradaban memberikan dampak besar bagi partisipasi masyarakat dalam mengungkapkan pandangannya di berbagai platform. Tidak terkecuali dalam memberikan kritik yang tajam terhadap pemeritah. Hal ini dapat dilihat dengan semakin maraknya masyarakat yang bergegas menyuarakan suaranya masing-masing melalui media sosial, entah dalam bentuk karikatur, poster, mural, video, atau media lainnya yang kebanyakan mengandung unsur parodi sekaligus sindiran. Atau fenomena tersebut kian ramai disebut dengan istilah ‘meme’.

Namun meme itu sendiri apakah merupakan bagian dari media komunikasi politik terkini? dapat saja dikatakan demikian, karena pada kenyataan saat ini masyarakat berlomba-lomba menyuarakan pendapat sekreatif mungkin agar cepat didengar oleh pemerintah. Ada sebuah kata yang mengatakan, bahwa suara yang kalah harus dengan cara halus menanamkan kritik dengan tenang dan tanpa diketahui. Dan hal itu dapat dijalankan melalui komedi.

Hal menarik dari sebuah komedi adalah mempunyai beberapa wajah yang ditunjukkan sekaligus tersembunyi, satu isi merupakan bentuk guyonan yang membuat banyak orang tertawa, namun di sisi lain juga dapat menjadi senjata ampuh dalam memberikan kritik terutama terhadap kinerja pemerintah saat ini. Cara-cara halus seperti ini akan menjadi jalan terang bagi masyarakat yang terpinggirkan bahkan tidak punya kendali kekuasaan apapun. Tidak lupa juga berbagai parodi dilakukan oleh para komedian untuk menyampaikan kritik tegasnya melalui media massa saat ini, sehingga dapat semakin menggugah rasa ingin tahu dan keinginan masyarakat untuk ikut serta dalam memberikan gagasannya.

Melihat animo masyarakat terhadap pilkada 2024 yang semakin banyak dibicarakan setelah kemarin terjadi perdebatan panjang mengenai isu 3 periode presiden. Hal ini melahirkan ragam tanggapan yang banyak pula, seperti muncul candaan-candaan dari para pejabat politik, guyonan para artis dan komedian. Seperti halnya karikatur yang menggambar anamandemen menjilat kaki presiden dengan kata – kata ‘Presiden tiga periode! Pemilu diundur!” yang menggambarkan sindiran keras bagi pemerintah bagaimana banyak yang memberikan respon dengan cara halus ini.

Jika kita tarik garis melewat batas negara dan melihat bagaimana komunikasi politik yang ada di negara lain, apakah juga sama halnya seperti di Indonensia saat ini ?. Kita ingat pada kasus Donal Trump yang pada waktu itu berusaha untuk menghalangi tangki dari negara Iran menuju Venezuela yang mengemparkan dunia, hingga akhirnya muncul karikatur yang viral di media sosial yang menggambarkan Donal Trump sedang membidik kapal tangki Iran dengan anak panah, namun di belakangnya sendiri ternyata ada anak panah besar yang siap membidik kepalanya.

Ternyata memang parodi dalam bentuk sindiran dan kritikan terhadap kinerja dan gerak gerik pemerintahan khususnya memang tidak hanya ada di Indonesia saja, tetapi juga banyak di negara lain dan juga dijadikan sebagai sarana penyampai gagasan terbaik dengan cara yang halus namun menusuk. Lalu dengan kita tahu bahwa lawan bicara kita adalah para elit politik, sehingga bagaimana kita dalam menyampaikan pesan harus dengan hati-hati dan tenang namun mengena.

Dengan menggunakan teori sensitivitas retorika yang disampaikan oleh Roderich Hart, yang menyatakan bahwa komunikator atau seseorang akan berusaha untuk mengadaptasikan pesan kelawan bicaranya sesuai dengan kondisi sikap lawan bicaranya. Masyarakat menyampaikan kajian pesan untuk pemerintah juga dengan memperhatikan dan menyesuaikannya dengan cara membungkus pesan tersebut dengan cara yang unik demi menggapai tujuan tersebut. Oleh karenanya, bentuk penyampaian sepertiinilah yang justru menjadi sorotan menarik dari sudut pandang public maupun elit politik sendiri. Nah kemudian, bagaimana sebenarnya pesan ini kemudian tidak hanya menjadi angin lalu saja, namun dapat mengubah dan meyakinkan para pemerintah bahwa seperti inilah keinginan dari rakyat.

Jika memang suara rakyat dapat didengar dengan cara seperti ini, maka rakyat memang telah menemukan cara terbaik untuk membuat para elit politik menoleh menuju arah panggilan, mampu dan mau dengan sadar mendengarkan suara rakyat yang terkadang menjerit dan bergelimpang beban. Inilah negara demokrasi, haruskah memang ada jalur parodi dalam memberikan kritik? Atau memang suara rakyat selalu didengar dan dekati? Ataukah memang suara rakyat memang tidak terlalu ingin didengar? Asalkan pembuat kebijakan mampu menyelesaikan urusan dan kemauan mereka sendiri.

Kebebasan bersuara memang mutlak milik rakyat, dalam berbagai media diberikan ruang. Dengan adanya keterbukaan tersebut, harapannya juga dapat diterima dan didengarkan sebagaimana harapan dan keinginan rakyat. Walaupun kerap kali kritik dalam bentuk parodi ini harus berhadapan dengan penguasa secara langsung, dan terkadang memberikan imbas yang merugikan pihak sang pengkritik karena dianggap tidak sopan. Di satu sisi juga perlu diingat kita berada dalam negara demokrasi. Segala aspirasi dan pendapat diterima, karena dengan memberikan kritik artinya rakyat peduli dengan apa yang dikerjakan oleh para elit. (Annalisa Ariyanti, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments