Home News MY Esti Wijayati: Moderasi Beragama Cara Merawat Kebinekaan Indonesia

MY Esti Wijayati: Moderasi Beragama Cara Merawat Kebinekaan Indonesia

198
0
MY Esti Wijayati. Foto: Dok Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Sebagai bangsa yang religius, di tengah kita juga terindikasi menguatnya konservatisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme. Bahkan di masa pandemi pula masih muncul kasus-kasus intoleran seperti melarang pendirian rumah ibadah, merusak makam agama tertentu, mengganggu pelaksanaan ibadah umat agama yang berbeda.

Selain itu, muncul eksklusifitas berbasis agama seperti menjamurnya perumahan, kos, yang dikhususkn untuk agama tertentu. Hal ini tentu mengganggu harmoni hidup di masyarakat, karena berarti mengeliminasi agama yang berbeda. Belum lagi ditambah dengan adanya paham takfiri yakni dengn mudah mengkafirkan kelompok lain sehingga seolah-olah boleh melakukan tindakan kekerasan fisik, selain kekerasan psikologis dan kekerasan verbal.

MY Esti Wijayati. Foto : Istimewa

Dengan adanya berbagai masalah yang mengganggu kehidupan beragama yang sangat beragam itu, maka dibutuhkan visi dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan keagamaan dan kebangsaan.

“Saat ini diperlukan sikap umat yang mengedepankan moderasi beragama, menghargai keragaman tafsir dan tidak terjebak pada ekstremisme, intoleransi dan tindak kekerasan,” kata MY Esti Wijayati, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dalam Webinar Penguatan Pendidikan Karakter Kebangsaan dan Moderasi Beragama di Masa Pandemi Covid-19, Sabtu (7/8/2021).

Menurut MY Esti Wijayati dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com, Sabtu (7/8/2021), moderasi beragama diperlukan sebagai cara kita merawat kebinekaan Indonesia. Sebagai bangsa yang sangat heterogen, sejak awal para pendiri bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang telah nyata berhasil menyatukan semua kelompok agama, etnis, bahasa, dan budaya.

Indonesia disepakati bukan negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. Nilai-nilai agama dijaga, dipadukan dengan nilai-nilai kearifan dan adat-istiadat lokal, beberapa hukum agama dilembagakan oleh negara, ritual agama dan budaya berjalin berkelindan dengan rukun dan damai.

“Oleh karena itu bagi saya di tengah pandemi yang membutuhkan kekompakan dan kesolidan seluruh elemen masyarakat, seyogyanya kita mengedepankan kepentingan bersama dalam mengatasi pandemi yang masih tinggi. Kita hadapi dengan menerapkan protocol kesehatan secara ketat, dan segera mendaftarkan diri dalam program vaksinasi yang sedang berjalan,” kata MY Esti Wijyati.

Dikatakan, publik kita sudah melakukannya dengan baik, seperti relawan-relawan Muslim dari Muhammadiyah, NU yang memakamkan jenazah yang beragama Kristen/Katolik maupun agama lain dan sebaliknya. Masing-masing kelompok mesti bekerjasama tanpa melihat latar belakang agama, suku dan ras.

Inilah sesungguhnya karakter kebangsaan kita, dengan mengacu pada Pancasila maka praktik moderasi beragama di tengah pandemi itu sudah terjadi, tinggal kita syiarkan ke publik seluas-luasnya.  

“Harapan saya, kita perlu meninjau ulang beberapa regulasi yang justru berpotensi mendiskriminasi kelompok-kelompok agama yang ada, seperti SKB  2 Menteri tentang pendirian rumah ibadah, agar disempurnakan, sehingga tidak menciderai kebinekaan Indonesia,” kata MY Esti Wijayati. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here