Home News Musibah Susur Sungai di Ciamis, Inilah Respon dari Seorang Anggota DPRD Sleman

Musibah Susur Sungai di Ciamis, Inilah Respon dari Seorang Anggota DPRD Sleman

122
0
Dra. Sri Haryani, MSi (kiri) selaku Anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Fraksi PDI P, Drs. Z. Bambang Darmadi, MM, Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta dan Penulis Buku, serta Tedy Kartyadi, wartawan Bernasnews.com. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Musibah yang dialami oleh siswa MTs Harapan Baru Ciamis, Jawa Barat akibat dari kegiatan susur sungai yang menyebabkan 11 siswa tewas menjadi korban, pada hari Jumat, 15 Oktober 2021.

Hal itu, mengingatkan kejadian serupa yang dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, DIY yang melakukan giat susur sungai dan menyebabkan 10 siswa tewas menjadi korban, Jumat, 21 Februari 2020 lalu.

Demikian disampaikan oleh Anggota DPRD Kabupaten Sleman Dra. Sri Haryani, MSi dalam bincang-bincang santai, Sabtu (16/10/2021), di sebuah resto, Jalan Magelang, Yogyakarta. Juga hadir dalam bincang-bincang santai tersebut Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta Drs. Z Bambang Darmadi, MM.

“Artinya apa? Bahwa peristiwa yang dialami oleh siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman setahun lalu tidak menjadi catatan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Mengingat korban yang cukup besar dan hampir semua media memberitakan petaka susur sungai itu,” ungkap Ninik, sapaan akrab Sri Haryani Anggota Dewan dari Fraksi PDI P.

Seperti telah diketahui, lanjut Ninik, bahwa peristiwa yang dialami oleh dua sekolah itu hampir sama yakni dalam giat susur sungai para siswa tidak dilengkapi dengan peralatan untuk keselamatan, misal baju pelampung. “Juga sebelumnya tidak ada survai kondisi sungai maupun alam sekitar sungai,” ujar anggota Komisi D itu.

Dikatakan, berdasar tata kelola bahwa untuk pendidikan dari tingkat SLTP ke bawah merupakan wewenang pemerintah kabupaten dan apabila kegiatan susur sungai tersebut bagian dari kegiatan ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh siswa maka harus benar-benar ada semacam SOP yang cukup ketat. Penyusunan sistem operasional prosedur (SOP) harus melibatkan berbagai unsur, komite sekolah, guru/ pramuka, hingga instansi terkait semacam SAR, BMKG (Cuaca) dan kebencanaan BPBD.

“Saya tidak menafikan bahwa giat susur sungai itu bagus, bagian dari pembentukan karakter siswa dan mengajarkan siswa untuk cinta lingkungan. Tapi sekali lagi jangan sampai kita bercanda dengan alam. Kabupaten Sleman banyak aliran sungai yang indah menggoda tapi kita harus tetap waspada kondisi hulu yang berada di Merapi,” terang mantan Anggota Ombusdman DIY itu.

Saat Bambang Darmadi bertanya terkait pemberlajaran tatap muka (PTM) di Sleman, Ninik yang juga mantan dosen itu mengatakan, bahwa di beberapa sekolah yang ada telah menyelenggarakan dengan pembatasan waktu maupun pembatasan jumlah siswa (bergilir). Pihaknya juga mengingatkan, dalam PTM prokes harus dilakukan secara ketat karena kita tidak tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. (zbd/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here