Home News Museum Sonobudoyo Pameran Rajata, Bertajuk Perak dan Kisah di Antaranya

Museum Sonobudoyo Pameran Rajata, Bertajuk Perak dan Kisah di Antaranya

108
0
Pameran Rajata bertemakan “Perak dan Kisah di Antaranya” diselenggarakan oleh Museum Sonobudoyo, tanggal 4 - 25 Agustus 2020, pukul 09:00 - 21:00 WIB, di Gedung Pameran Temporer, Jalan Pangurakan (Titik Nol), Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Rajata adalah sebutan perak dalam bahasa Sanskerta. Perak amat lekat dengan Yogyakarta seiring dengan bertumbuhnya Kotagede sebagai sentra kerajinan perak yang diperkirakan sudah muncul sejak periode Kerajaan Mataram Islam, abad 16 Masehi.

Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli, SE, MM saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Pameran Rajata, Perak dan Kisah di Antaranya, Selasa (4/8/2020), di Gedung Pameran Temporer, Jalan Pangurakan (Titik Nol), Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Sementara Kunstambachtsschool atau Sekolah Seni Kerajinan “Sedyaning Piwoelang Angesti Boedi” didirikan oleh Java Institute yang diresmikan pada tanggal, 1 Maret 1940, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, salah satu pelindung sekolah KGPAA Prabu Suryadilaga yang kemudian menjadi Adipati Paku Alam VIII. Sekolah ini turut andil dalam perkembangaan ornamen seni hias kerajinan perak.

“Pameran ini menceritakan perjalanan perak sejak berabad-abad silam. Sejarah membawa cerita perak dan Sonobudoyo pada satu benang merah melalui Kunstambachtsschool. Melalui pameran ini berharap industri perak terus lestari di Yogyakarta dan Kotagede, khususnya,” ungkap Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli, SE, MM dalam sambutan pembukaan Pameran Rajata, Selasa (4/8/2020).

Kurator Museum Sonobudoyo, Karin sedang menjelaskan salah satu koleksi yang dipamerkan kepada pengunjung dalam acara pembukaan pameran Rajata, Perak dan Kisah di Antaranya, Selasa (3/8/2020). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com.

Pameran Rajata bertemakan “Perak dan Kisah di Antaranya” diselenggarakan oleh Museum Sonobudoyo, tanggal 4 – 25 Agustus 2020, pukul 09:00 – 21:00 WIB, di Gedung Pameran Temporer, Jalan Pangurakan (Titik Nol), Yogyakarta. “Pameran ini merupakan kali pertama dalam pandemi Covid-19 sehingga dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Jumlah pengunjung yang masuk di dalam ruang pameran dibatasi sebanyak 25 orang, dengan durasi lebih kurang 30 menit,” jelas Setyawan.

Tea Set atau perlengkapan minum dengan pernik-pernik ukiran khas milik Museum Sonobudoyo yang ikut dipamerkan. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Menurut Setyawan, pameran kali ini bukan mencari pengunjung tetapi untuk belajar bersama dengan masyarakat dalam menyikapi tanggap darurat Covid-19. Sebelumnya Museum Sonobudoyo juga telah mengikuti simulasi protocol kesehatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta maupun Dinas Pariwisata DIY.

Salah satu koleksi Museum Sonobudyo perlengkapan minum berbahan perak dengan sepuhan emas. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

“Pengunjung wajib pakai masker, sebelum masuk ruang pamer cuci tangan dan pengukuran suhu badan dengan thermogun yang dilengkapi kamera video. Juga soal keamanan, keselamatan dan koleksi sangat kami perhatikan, mengingat 10 tahun lalu museum pernah kehilangan koleksinya yang sangat berharga,” tandasnya.

Pengunjung pameran wajib memakai masker dan sebleum masuk ke dalam ruang harus mencuci tangan dan periksa suhu badan dengan thermogun yang dilengkapi dengan rekaman kamera video seperti tampak dalam foto. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Sementara Kepala Seksi Koleksi, Konservasi dan Dokumentasi Museum Sonobudoyo, Ery Sustiyadi, ST, MA menjelaskan, bahwa puluhan karya rajata (perak) yang dipamerkan itu merupakan hasil konservasi. Juga beberapa koleksi dari Java Institute dan pengadaan “baru” dari seorang kolektor di Kotagede.

“Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 banyak pemilik barang-barang perak menjual secara kiloan pada pengrajin di Kotagede untuk dilebur lagi. Namun ada seorang kolektor yang peduli membeli beberapa produk perak lawasan dan diserahkan kepada Museum Sonobudoyo,” pungkas Ery Sustiyadi. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here