Home Seni Budaya Museum sebagai Cermin Peradaban dan Tempat Pembentukan Karakter

Museum sebagai Cermin Peradaban dan Tempat Pembentukan Karakter

369
0
Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY Sumadi SH MH (tengah) menyerahkan kenang-kenangan kepada Drs Octo Lampito (kiri), salah satu pembicara dalam sarasehan HUT ke-49 Barahmus dan Sewindu UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY di Kantor Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (3/9/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Museum merupakan cermin dari peradaban manusia selain sebagai tempat pendidikan yang menyenangkan. Selain itu, museum juga sebagai tempat pembentukan karakter karena museum menyimpan informasi dan sejarah perjuangan masa lalu dan menjadi dasar perjuangan untuk masa depan yang lebih baik.

“Eman-eman kalau museum sebagai tenpat pembentukan karakter anak didik tapi tidak dimanfaatkan. Karena itu ke depan peran museum sangat penting sebagai lembaha pembentukan karakter bangsa. Hanya orang yang tak mau maju yang tidak ke museum, seperti halnya juga hanya bodoh yang tak mau ke perpustakaan,” kata Sumadi SH MH, Plt Kepala Dinas Pendidikan DIY, ketika membuka sarasehan memeringati HUT ke-49 Barahmus DIY dan Sewindu UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY di Kantor Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (3/9/2020).

Menurut Sumadi, museum merupaj tempat untuk belajar untuk masa depan yang lebih baik. Karena itu, bagaimana peran museum agar tidak saja sebagai tempat pendidikan, tapi juga sebagai cerminan peradaban, pusat pendidikan dalam suasana senang dan menyenangkan.

Suasana sarasehan HUT ke-49 Barahmus dan Sewindu UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY di Kantor Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (3/9/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

Ia memberi contoh museum di Jepang dimana anak didik setiap semester diwajibkan untuk berkunjung ke museum. Dan hal yang sama bisa dilakukan di Indonesia dan di DIY khususnya, misalnya belajar tentang kegunungapian di Museum Merapi, belajar kedirgantaraan di Museum Dirgantara TNI AU atau belajar tentang sejarah perjuangan bangsa di museum TNI AD, Monjali dan sebagainya.

Karena itu, menurut Sumadi, pihaknya akan memperhatikan bagaimana museum ke depan agar lebih baik, bisa membumi dan menginspirasi masyarakat.

Sementara Dr R Haryadi Baskoro MA M.Hum, salah satu narasumber dalam sarasehan tersebut, mengatakan, keistimewaan DIY tidak terlepas dari keberadaan museum bahkan museum sebagai penguat Keistimewaan DIY. Sebab, Jogja istimewa karena sejarah dan bukti-bukti sejarah tersebut ada di museum.

Dikatakan, sejarah bergabungnya Jogja ke RI maupun bukti kontribusi Jogja terhadap RI tersimpan rapih di museum, meski belum diketahui pasti di museum mana bukti-bukti tersebut tersimpan. “Jadi berbicara tentang keistimewaan berarti berbicara tentang sejarah. Dan berbicara tentang sejarah adalah berbicara tentang barang bukti sejarah dan barang bukti sejarah itu ada di museum. Dan benang merahnya adalah museum sebagai penguat sejarah keistimewaan DIY,” kata Haryadi Baskoro.

Dikatakan, museum keistimewaan tidak hanya berbicara masa lalu tapi juga masa kini dan masa depan, misalnya bagaimana implementasi keistimewaan, baik tentang keberhasilan maupun kegagalannya. Karena itu, sangat penting adanya Museum Keistimewaan yang memuat tentang keberhasilan, prestasi keistimewaan selama 8 windu dsan sebagainya.

Selain Dr Haryadi Baskoro, tampil sebagai narasumber dalam sarasehan yang dihadiri 50 peserta dari kepala museum anggota Barahmus DIY, guru dan anggota organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang kebudayaan anggota PHRI maupun unsur-unsur pariwisata dan organisasi lainnya itu adalah Rully Andriadi, Arkeolog yang juga Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY yang juga anggota tim ahli cagar budaya DIY, Drs Octo Lampito (Pemred KR) dan Ki Bamban Widoio SPd MPd (Ketua Umum Barahmus DIY).

Menurut Ketua Panitia Sarahan yang juga Sekretaris Barahmus DIY Asroni, sarasehan dimaksudkan untuk membuka peluan sinergitas Barahmus DIY dengan instansi terkait untuk mendukung pelaksanaan UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY.

Selain itu, mensosialsasikan keberadaan UU No 13 tahun 2010 kepaa stakeholder guna mencari celah untuk bersinergi dengan instansi atau lembaga terkait dalam mendukung pelaksanaannya dan

Asroni, Ketua Panitia: tiga kategori museum seni budaya, museum sejarah perjuangan dan mensosialisasikan keberadaan Barahms DIY sebagai aset daerah dalam rangka mendukung pelaksanaan UU No 13 tahun 2012. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here