Home Opini Munas I HIMPKA Menuju Seabad Tamansiswa, Transformsi dan Futuristik Tamansiswa

Munas I HIMPKA Menuju Seabad Tamansiswa, Transformsi dan Futuristik Tamansiswa

205
0
Jontra Sihite, Anggota Steering Committee (SC) Munas HIMPKA I, Ketua Majelis Mahasiswa UST Yogyakarta tahun 2006 dn Alumni Fakultas Psikologi UST Yogyakarta. Foto: Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM – Een voor Allen maar Ook Allen voor Een. Satu untuk semua, tetapi semua untuk satu juga (Ki Hadjar Dewantara). Hampir 100 tahun lalu Tamansiswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara (KHD) dengan penekanan pada perjuangan pendidikan dan kebudayaan.

Ada dua titik waktu yang menandai perjuangan KHD, yaitu tahun 1922 (era kolonial) dan setelah Indonesia merdeka ditandai dengan Rapat Umum Besar (RUB) tahun 1946 . Dalam RUB ini dibahas apakah Tamansiswa akan dilanjutkan atau selesai karena tujuan Indonesia merdeka telah selesai.

Tujuan awal pendirian Tamansiswa adalah menuju Indonesia merdeka dan dituangkan dalam Protokol 1922 (Perjuangan). Setelah merdeka, RUB 1946 memutuskan untuk melanjutkan perjuangan Tamansiswa guna mengawal Indonesia Merdeka dengan Protokol 1947 (Mengisi Kemerdekaan).

Kini sampai dimana Tamansiswa melanjutkan cita-cita KHD dalam mengisi Kemerdekaan Indonesia? Bagaimana penerapan Trilogi Pendidikan yang digagas oleh KHD bagi kemajuan Pendidikan Nasional? Adakah strategi maupun kontribusi Tamansiswa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat Indonesia?

Transformasi dan futuristik Tamansiswa wujud mencerdaskan kehidupan bangsa sesui dengan UUD 1945 melalui pendidikan, namun perdebatan konsep pendidikan nasional kita dalam membendung “arus globalisasi” sekitar 3-4 dasawarsa lalu, belum menemukan titik temu. Ganti Menteri ganti policy (kebijakan), sehingga sistem pendidikan kita, entah itu kurikulum, fasilitas, kualitas pengajar, metode pengajaran hingga output pendidikan, menjadi perdebatan panjang yang belum selesai.

Padahal KHD secara tegas menolak istilah intelektualisme (kognisi dan angka-angka) namun bagi KHD karakter anak didik tidak kalah penting untuk diasah (afeksi) maupun budi pekertinya. Tiba-tiba era disrupsi (Revolusi Industri 4.0) yang pertama kali diperkenalkan oleh Clayton Christensen datang menelikung di saat kita masih terjebak dalam kungkungan perdebatan “sistem seperti apa yang paling ideal” dan diperparah dengan Pandemi Covid-19 dengan sekian aturan dan kebijakan internasional dan nasional yang mengitari protokol tersebut.

Jadilah kita menghadapi era “double disrupsi”. Grand Theory yang sudah ada maupun teori-teori yang mapan, sepertinya sudah saatnya ditinjau ulang agar mampu menjawab tantangan pendidikan kita hari ini. Jadi perdebatannya bukan lagi sekdar lagu lama “globalisasi” namun “penantang baru” itu bernama disrupsi. Kita apresiasi jargon Kemendikbudristek di bawah Menteri Nadiem Anwar Makarim tentang “Merdeka Belajar”.

Nadiem menegaskan “Merdeka Belajar” bukanlah “kebebasan mutlak” namun lebih kepada minat dan bakat peserta didik sehingga tolak ukur evaluasinya tidak disama-ratakan. Nadiem sendiri dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa istilah “Merdeka Belajar” terinpirasi dari Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantar.

Nadiem berpendapat, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan semangat dan cara mendidik anak Indonesia untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirnya dan merdeka raga/tenaganya. Artinya dengan jargon “Merdeka Belajar” diharapkan nilai-nilai ajaran KHD berdenyut dalam Sistem Pendidikan Nasional kita.

Merdeka belajar menjadi pandu utama, kompas nilai-nilai untuk membuka jalan terbaik bagi wajah pendidikan nasional kita. Transformasi Tamansiswa dalam konteks ini, agar ajaran KHD yang tekstual kemudian dikontekstualkan dengan tantangan era sekarang.

KHD memiliki konsep Sifat-Bentuk-Isi-Irama (SBII). Penekanan di sini sangat urgent dalam menjawab tantangan zaman. Artinya Trilogi Pendidikan KHD : ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan) metode dan implementasinya harus beradaptasi dalam menjawab tantangan bagi era double disrupsi sekarang.

Trilogi pendidikan KHD di sisi lain semestinya dapat menjadi nilai filosofis bagi penyelengaraan sistem perpolitikan di republik ini, sehingga perpolitikan nasional kita dapat mengkikis dinasti politik maupun oligarki politik.

Namun yang tidak kalah penting Tamansiswa juga harus futuristik (melihat jauh ke depan) agar ajaran-ajaran KHD mampu melintasi zaman ke zaman. Tamansiswa sudah seharusnya menjadi laboratorium bagi penerapan ajaran-ajaran KHD bahkan menjadi antitesa bagi kegagalan maupun belum optimalnya sistem pendidikan nasional kita dalam membaca tantangan kekinian.

Transformasi & Futurustik Tamansiswa ke depan, diharapkan bukan lagi sekdar bicara pendidikan dan kebudayaan, sosial-kemasyarakatan dalam arti luas tapi juga harus berkontribusi bagi perekonomian bangsa melalui usaha-usaha produktif.

Himpunan Keluarga Tamansiswa (HIMPKA) adalah rumah bersama yang bukan terbatas berbasis lumni, keluarga, namun terbuka bagi semua pecinta Tamansiswa. Jadi HIMPKA bukan bicara Persatuan Tamansiswa yang ekslusif namun HIMPKA bersifat inklusif bagi semua insan maupun pecinta Tamansiswa.

HIMPKA melalui Transformasi & Futurustik Tamansiswa diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga 4 pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan agar kelak tercapai masyarakat “Tertib Damai Salam dan Bahagia”. Selamat buat Ferry Batubara yang terpilih sebagai Ketua Umum HIMPKA periode 2021-2026. (Jontra Sihite, Anggota Steering Committee (SC) Munas HIMPKA I, Ketua Majelis Mahasiswa UST Yogyakarta tahun 2006 dn Alumni Fakultas Psikologi UST Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here