Home News Mudik Saat Pandemi Covid-19 Menambah Beban Moral Orangtua

Mudik Saat Pandemi Covid-19 Menambah Beban Moral Orangtua

36
0
Prof KH Nasaruddin Umar MA Ph.D, Imam Besar Masjid Istiqlal, di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Sabtu (23/5/2020). Foto : covid19.go.id

BERNASNEWS.COM – Aktivitas mudik pada saat pandemi Covid-19 justru dapat menambah beban moral baru bagi orangtua yang ada di kampung halaman. Karena mudik pada masa pandemi COVID-19 seperti sekarang berpotensi mengundang kekhawatiran bagi tetangga orangtua di rumah.

“Kalau kita mudik sekarang, kasihan (orangtua), memberikan beban moral terhadap orangtua kita. Banyak pengalaman yang kita terima dari kampung. Akhirnya orangtuanya dikucilkan gara-gara (menerima) tamunya, anaknya dari Jakarta, misalnya,” kata Prof KH Nasaruddin Umar MA Ph.D, Imam Besar Masjid Istiqlal, di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Sabtu (23/5/2020).

Dikatakan, kehadiran pemudik dari kota besar seperti Jakarta akan membuat tetangga orangtua di kampung menjadi takut tertular virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Sebab, aktivitas mudik juga sangat berpotensi membuat seseorang menjadi pembawa virus, meski tanpa gejala atau tidak menunjukkan sakit, kepada orangtua dan lingkungan sekitarnya. “Ini gara-gara tetangga kita membawa tamu dari kota. Ini kita was-was,” ujar Nasaruddin seperti dikutip dalam covid19.go.id.

“Jadi kita mungkin pulang kembali kota, orangtua kita masih dikucilkan tetangga. Jadi kalau kita mudik sekarang, itu sangat membebani orang tua kita di sana (di kampung),” imbuhnya.

Oleh karena itu, Nasaruddin mengimbau masyarakat untuk tidak mudik dan tetap di rumah saja agar tidak membebani orangtua di kampung halaman. “Sudah mereka hidup rukun, tapi kehadiran kita malah justru membuat orang tua kita itu nanti dikucilkan. Kita sudah kembali ke Jakarta, orang tua kita dikucilkan. Apalagi kalau misalnya ada yang sakit di tempat itu. Jangan-jangan dikutuk, dilaknat orang tua kita. Naudzubillah mindzalik. Jadi bukan membawa kebahagiaan tapi seperti membawa malapetaka,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin juga berharap agar masyarakat tetap sabar menunggu hingga keadaan menjadi lebih baik. Tentunya dia juga meminta masyarakat agar berdoa dan bersama-sama melakukan upaya pencegahan, sehingga berakhirnya Bulan Suci Ramadan juga memberi keberkahan bagi umat muslim.

“Ramadan berarti menghanguskan (sesuatu yang buruk), semoga kepergian bulan Ramadan juga menggulung habis virus corona ini. Siapa tahu ada keajaiban atas doa yang kita panjatkan,”kata Nasaruddin. (lip)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here