Friday, May 20, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsMudik dan Pasar Semarak, Indikasi Pertumbuhan Ekonomi Meningkat

Mudik dan Pasar Semarak, Indikasi Pertumbuhan Ekonomi Meningkat

bernasnews.com — Arus mudik, kegiatan pasar, sektor pariwisata, dan perhotelan selama Ramadan dan Lebaran 1443 H, tahun 2022 sangat semarak. “Apakah ini bisa dibaca sebagai indikator kebangkitan ekonomi nasional 2022,” kata Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.

Dalam pidato iftitah syawalan 1443 Hijriyah di kampus UWM, Senin (9/5/2022), Prof Edy menyatakan arus mudik menimbulkan kemacetan di berbagai tempat, baik di jalanan menuju kampung tujuan maupun kawasan pariwisata.

“Lokasi pariwisata sesak oleh kehadiran pengunjung, dan hotel-hotel di Yogyakarta penuh dengan orang menginap. Situasi demikian tidak terjadi dalam lebaran dua tahun terakhir,” ujar dia.

Menurut Prof Edy, dinamika selama Ramadan dan Labaran tersebut berkaitan dengan indikator pertumbuhan ekonomi nasional. Selama 2020, pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 tahun pertama hanya tumbuh 2,07 persen. Kemudian tahun ke dua pandemi pada 2021, ekonomi nasional hanya tumbuh 3,69 persen.

Dengan geliat pasar di berbagai daerah yang meningkat kegiatannya selama Ramadan dan lebaran, kemudian pariwisata penuh sesak oleh pengunjung, dan hotel-hotel dipenuhi oleh para tamu-tamu dari luar kota, diperkuat lagi oleh tingkat konsumsi yang naik dalam setahun berjalan.

“Apakah suasana peningkatan kegiatan dan transaksi ekonomi di pasar modern maupin tradisional selama Ramadan, mudik, dan lebaran bisa dijadikan indikator kebangkitan ekonom atau indikator, pertumbuhan ekonomi nasional naik? Kita berharap semarak mudik dan berbagai kegiatan ekonomi di sektor pariwisata dan perhotelan menjadi indikator positif pertumbuhan ekonomi nasional 2022 bisa mencapai 5 persen,” kata Prof Edy.

Berkaitan dengan hikmah syawalan, Prof Edy Suandi Hamid menyatakan, bahwa syawal harus menjadi momentum meningkatkan kolaborasi. Dalam mengelola universitas, kerja kolektif menjadi model. Tidak ada satu pun dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan yang merasa paling hebat, paling kuat. Perguruan tinggi bisa maju bila pengelolaannya didasari semangat kerjasama, tolong menolong.

Tak mengajarkan miskin

Sementara, Prof Dr Muhammad, M.Ag dalam tausyiah syawalan menyatakan, bahwa stigma negatif yang diterapkan kepada Islam menyangkut ajaran kemiskinan.

 “Saya mendapat ajaran pada masa lalu, Islam itu agama yang mengajarkan para umatnya boleh miskin harta. Itu kesan yang diciptakan orang lain untuk menandakan ajaran Islam negatif.,” ungkap dia.

Guu Besar Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga itu menyatakan, Islam sangat dekat dengan urusan ekonomi. Dalam praktik rukun Islam, muallaf yang mengucapkan syahadat perlu modal minimal materi (Rp 10 ribu), salat perlu modal ekonomi untuk membeli pakaian, perlengkapan salat, zakat dan haji memerlukan modal uang relatif besar.

“Maknanya, Islam tidak menjauhkan dengan urusan ekonomi, sebaliknya Islam mendorong umatnya peduli untuk meningkatkan kehidupan ekonomi dan menggunakannya sesuai dengan ketentuan agamanya,” jelas Prof Muhammad.

Kemudian Islam mengajarkan pentingnya inovasi tiada henti agar umat Islam makin di depan dalam berbagai sektor. “Apabila ini dilaksanakan, kita bisa membangun kebersamaan, dan meraih keberkahan atau kebaikan-kebaikan.” tegas dia. (*/ Nuning)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments