Home News Model Pendidikan Liberal dan Ketrampilan Perlu Kolaborasi

Model Pendidikan Liberal dan Ketrampilan Perlu Kolaborasi

408
0
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla alias JK (kiri) bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan) saat berkunjung ke Kraton Yogyakarta, Sabtu (16/11/2019). Foto : kumparan.com/tugujogja

BERNASNEWS.COM – Model pendidikan liberal (liberal education) dan model pendidikan ketrampilan (education skill) perlu berkolabarasi untuk mendorong kemajuan suatu bangsa. Karena model pendidikan liberal menemukan teknologi atau inovasi, sementara model pendidikan membentuk ketrampilan untuk menghasilkan produk.

“Amerika Serikat menerapkan model pendidikan liberal sehingga hampir semua teknologi dan inovasi di dunia dihasilkan atau muncul dari Amerika. Sementara model pendidikan ketrampilan ada di Eropa sehingga banyak produk yang dihasilkan Eropa dengan menggunakan teknologi dari Amerika,” tutur HM Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI yang juga Ketua Dewa Penasihat BKSPTIS, pada Seminar Kebangsaan dan Moderasi Islam di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Sabtu (16/11/2019).

Selain HM Jusuf Kalla, tampil sebagai pembicara dalam seminar sekaligus Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKSPTIS) itu adalah Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD yang juga Anggota Dewan Penasehat BKSPTIS.

Menurut HM Jusuf Kalla, kalau Amerika menerapkan model pendidikan liberal yang menghasilkan inovasi dan Eropa menerapkan model pendidikan ketrampilan atau skill yang menghasilkan produk, lalu Indonesia menerapkan model pendidikan seperti apa. Untuk menjawab pertanyaan itu maka perguruan tinggi Islam harus berkembang dengan baik dan mempunyai arah inovasi dan menjaga keterampilan mahasiswa untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran serta masa depan yang baik.

“Jika PTI bersatu memberikan bekal ketrampilan kepada jutaan mahasiswa, maka akan menjadi kekuatan yang kuat dan dahsyat untuk memajukan bangsa dan masa depan yang lebih baik,” kata HM Jusuf Kalla.

Sementara Ketua BKSPTIS Prof Syaiful Bakri mengatakan bahwa saat ini, perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta memiliki tantangan yang sama. Ada empat hal yang menjadi tolak ukur untuk menguatkan pengelolaan perguruan tinggi, yakni kualifikasi atau kualitas model pembelajaran, menjadi perguruan tinggi (PT) profesional, riset dan mendidik mahasiswa menjadi entrepreneur (wirausaha).

“Yang pertama harus meningkatkan kualifikasi kualitas model pembelajaran, karena di perguruan tinggi model pembelaran adalah paling utama. Kemudian keinginan untuk menjadi PT profesional dalam segala penilaian sampai pada output alumni yang profesional di masyarakat, bermanfaat dan berguna,” kata Syaiful Bakri.

Kemudian, menurut Syaiful Bakri, adalah menjadi perguruan tinggi riset sehingga hasil penelitian bisa dijadikan ekolaborasi dalam bisnis oleh koorporasi. “Jadi, tidak hanya untuk kegemilangan ilmu di menara puncak gading tapi bisa diaplikasikan dalam dunia bisnis. Dan PT bisa mendidik mahasisa menjadi entreprenuer. Inilah tantangan dalam pengelolaan PT dan tantangan terdekat adalah internasionaliasi keilmuan,” kata Ketua BKSPTIS ini.

Semua itu, menurut Syaiful Bakri, akan miskin jika tidak diikuti dengan model gairah apa yang disebut dengan Islam yang mempengaruhi ilmu pengetahuan. “Jadi perlahan-lahan kita kembalikan bahwa apa yang ada di dalam Islam sesungguhnya adalah keunggulan yang tidak terbantahkan. Itulah tugas berat BKSPTIS,” kata Syaiful Bakri.

Rektor UII Fathul Wahid ST MSc PhD selaku tuan rumah mengatakan bahwa Seminar Kebangsaan dan Moderasi Islam yang diselenggarakan di kampus UII ini merupakan momen tepat. Sebab, setelah berakhirnya pesta demokrasi, segenap elemen bangsa perlu dirangkul dan dipersatukan kembali demi menatap tantangan bangsa di masa depan yang kian kompleks. “Kalangan perguruan tinggi Islam dapat berperan untuk turut menggaungkan nilai-nilai kebangsaan dan persatuan,” kata Fathul Wahid.

Dikatakan, sinergi dan kerja sama di antara PTIS merupakan poin penting dalam rakernas kali ini. Melalui penyelenggaraan rakernas diharapkan pimpinan PTIS dapat saling mengenal, berbagi sudut pandang, merumuskan kerja sama yang memungkinkan untuk dilakukan secara bersama-sama, bersinergi, menggalang semua energi positif demi memajukan universitas Islam masing-masing. “Sebagaimana ungkapan bijak yang mengatakan, pergilah sendiri jika ingin cepat, dan pergilah bersama jika ingin jauh,” kata Fathul Wahid. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here