Tuesday, May 24, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeMochtar Lubis, Putra Bangsa yang Begitu Mencintai Indonesia

Mochtar Lubis, Putra Bangsa yang Begitu Mencintai Indonesia

bernasnews.com – Ngopi literasi satu jam bersama Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) edisi kedua pekan ini diisi dengan mengenang Mochtar Lubis. Melalui bincang-bincang siang Satupena DIY dan Radio Vedac 99FM Jogja, Kamis (10/3/2022), tampil sebagai narasumber Ketua Satupena DIY Dhenok Kristianti dengan topik 100 Tahun Mochtar Lubis.

Ketua Satupena DIY Dhenok Kristianti berpendapat, Mochtar Lubis adalah putra bangsa yang begitu mencintai Indonesia serta memiliki rasa kemanusiaan dan religiusitas yang tinggi.

“Dia selalu berani menyuarakan pendapat yang diyakininya benar apapun risikonya. Dia menulis banyak novel, esai, dan puisi, semua itu sebagai sarana menyampaikan kebaikan dan kebenaran,” kata dia dalam siaran pers yang dikirimkan ke bernasnews.com Jumat (11/3).

Acara Satu Jam Bersama Satupena DIY Ngopi Literasi melalui live streaming Radio Vedac 99FM Jogja itu menampilkan pembawa acara Krisma Dewi, pembaca puisi Nunung Rieta, musikalisasi Anna Ratri dan kawan-kawan.

Lewat ketajaman pena

Dhenok Kristianti mengatakan, sebagaimana yang dia pelajari selama ini, Mochtar Lubis adalah penulis, budayawan, dan tokoh jurnalis yang dalam peta pembangunan manusia Indonesia, perjuangannya dilakukan lewat ketajaman pena yang benar-benar terasah. Dalam semua tulisannya, baik esai, cerita pendek, novel, maupun puisi, Mochtar Lubis selalu menuangkan pesan-pesan secara mendalam. Uniknya, caranya menyampaikan pesan sangat beragam. Ada yang menggunakan simbol-simbol, ada yang melalui sindiran, ada pula pesan yang secara langsung disampaikan dengan nada keras.

“Pesan yang disampaikan melalui sindiran, misalnya dalam kumpulan esainya yang berjudul Manusia Indonesia. Di situ, gaya satir Mochtar Lubis terasa sekali. Misalnya saja untuk mendiskripsikan watak manusia Indonesia yang cepat puas dan karenanya tidak suka bekerja keras, ia sampaikan dengan ilustrasi yang menggelitik.

Dikisahkan, dua orang sosiolog sedang berdebat tentang asal usul Adam dan Hawa. Salah satu sosiolog itu yakin Adam dan Hawa berasal dari Indonesia. Pendapat ini mengejutkan sosiolog satunya lagi. Mengapa dari Indonesia, kan manusia pertama menurut kitab suci berada di wilayah Timur Tengah. Eh, dengan entengnya sosiolog itu menjawab, “Yah, coba lihat, kan Nabi Adam dan Siti Hawa hanya memiliki satu buah khuldi, seekor ular — malahan mereka tak punya baju sama sekali — dan toh mereka menyangka bahwa mereka berada di Sorga atau Taman Firdaus,” kata dia.

Menjawab pertanyaan pembawa acara dalam acara itu, Dhenok Kristianti mengatakan, pesan dalam puisi-puisi Mochtar Lubis disampaikan dengan sangat gamblang. Ini menarik, sebab biasanya, justru dalam puisi terdapat banyak bunga kata yang bersifat konotatif.

“Hal ini bisa jadi karena hampir semua puisi Mochtar Lubis bernada protes kepada pemerintahan pada waktu itu. Karena sering menyuarakan pemikiran-pemikiranya yang kritis, dua kali Mochtar Lubis harus merasakan dinginnya penjara. Pada masa Orde Lama hampir sembilan tahun dan pada masa Orde Baru 2,5 bulan. Meskipun begitu, ia tak pernah patah arang dalam mencintai Indonesia. Justru kritikan-kritikannya itu merupakan wujud cintanya yang mendalam kepada Indonesia,” kata dia.

Pada kesempatan ini, Ketua Satupena DIY kemudian membacakan puisi Mochtar Lubis berjudul Cerita dari Luar Tembok. Puisi ini ditulis di penjara dan berbicara tentang tirani kekuasaan.

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments