Home Opini Misi Kuat Bisnis Selamat

Misi Kuat Bisnis Selamat

151
0
Diah Utari BR, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Masa pandemi mengajarkan banyak hal kepada kita. Salah satunya ujian bagi ketahanan sebuah misi bisnis. Misi suatu bisnis adalah alasan dibukanya sebuah bisnis. Ketika memulai bisnis 16 tahun yang lalu hanya ada satu misi yang saya pegang, yaitu membuka lapangan kerja bagi adik-adik. Panggilan nurani untuk membuat mereka menjadi orang yang berharga dan bermartabat membulatkan tekad untuk membuka sebuah bisnis. Saat itu ada rasa malu untuk mengakui karena dari berbagai pelajaran tentang manajemen yang  telah saya pelajari, misi membuka bisnis biasanya menyangkut keuntungan dan kelangsungan hidup , syukur-syukur pengembangannya.

Kekuatan misi 16 tahun yang lalu saat ini terasa relevan karena kalau misi membuka bisnis adalah keuntungan mestinya tidak akan bertahan, karena selama 16 bulan terakhir ini bisnis membukukan laba minus. Pilihan yang rasional bagi pengusaha adalah menutup bisnis atau berganti bisnis. Akan tetapi ketika misinya adalah membuka lapangan kerja untuk hidup saudara, maka laba menjadi nomer sekian, yang penting biaya operasional bisa tertutup dan gaji karyawan tetap bisa dibayar.  Dan itulah yang terjadi.

Ujian atas kuatnya misi masih belum selesai karena pandemi masih belum teratasi. Lalu akankah menyerah? Semoga tidak. Misi pemberdayaan manusia untuk menjadi bermartabat adalah setinggi-tingginya sebuah misi atau cita cita yang bisa diimpikan seorang pengusaha. Bukan soal keinginan tetapi menyangkut kebutuhan dasar bagi seseorang untuk survive secara fisik dan psikologis. Panggilan mulia inilah yang sebenarnya diemban dan sebaiknya disadari oleh seorang pengusaha/ wiraswastawan.

Ketika misi yang kuat dihidupi maka segala ilmu yang dimiliki akan digunakan untuk memperjuangkannya. Menghidupi misi membutuhkan ilmu dan seni yang banyak ditawarkan oleh ilmu manajemen baik dari aspek pemasaran, operasi, keuangan, sumberdaya manusia maupun  manajemen stratejik. Sesuatu yang wajar jika pengusaha berusaha all out memanfaatkan segala daya dan usahanya untuk bisa mempertahankan usaha dengan bantuan berbagai alat yang ditawarkan oleh ilmu manajamen. Apalagi kalau kita meyakini kata bijak ini ‘Usaha maksimal hasil adalah Karunia’.

Kita percaya bahwa hasil adalah karunia maka didalamnya sudah menyertakan karya keilahian. Bagaimana tidak, ketika berkarya atau berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat manusia maka di situ sudah ada sentuhan partisipasi untuk berkarya bersama sang Pencipta.  Burung-burung di udara pun tidak dibiarkanNya kelaparan apalagi kita manusia ciptaanNya yang sangat dikasihi. Bolehkah kita mempercayai ini ketika menjalankan sebuah usaha? Boleh saja tapi mungkin tidak akuntabel.  Tetapi mari kita sama-sama menunggu. Bisa jadi suatu saat sesuatu yang dianggap tidak akuntabel pada saatnya ternyata akuntabel. Keterbatasan manusia untuk memahami karyaNya mesti diperhitungkan juga dalam hal ini.

Perenungan akhir-akhir ini semakin memperkuat keyakinan akan pentingnya misi yang kuat dan mendasar bagi dibukanya sebuah bisnis. Ketika laporan keuangan dari bulan ke bulan menunjukkan laba minus, mau tidak mau pasti muncul keresahan. Mampukah bertahan? Tetapi melihat kebutuhan mendasar para karyawan, tidak ada salahnya memohon bantuan kepadaNya untuk diberi  rejeki  bagi hidup para karyawan.  Rejeki sudah disediakan bagi setiap orang dengan cara yang kadang tidak dipahami manusia. Demikian juga bagi para karyawan yang bergabung dalam usaha kita. Bagi mereka sudah disediakan rejeki masing-masing.  Pengusaha adalah salah satu perantara bagi hadirnya rejeki bagi karyawannya. Melegakan sekali kesadaran ini.

Sebagai penutup sebuah kesadaran baru, yaitu menemukan misi yang kuat ketika membuka bisnis dan menghidupinya dengan berbagaii lmu manajemen yang dimiliki serta memberi ruang bagiNya untuk ikut berkarya bersama kita para pengusaha. Semoga masa pandemi bisa dilewati dengan selamat dan bisnis tetap bertahan. Karena ketika kita bisa melewati masa sulit ini dan tetap survive sebenarnya kita sudah naik setingkat lebih pandai dan bijak dibandingkan sebelumnya. (Diah Utari BR, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here