Home News Meski Ditolak Warga, Para Petugas Kesehatan Tetap Rawat Pasien Corona

Meski Ditolak Warga, Para Petugas Kesehatan Tetap Rawat Pasien Corona

440
0
Ilustrasi dokter dan perawat. (Foto: Shutterstock)

BERNASNEWS.COM – Wabah corona membawa penolakan bagi warga sekitar bukan lah hal baru. Bukan hanya orang yang sudah meninggal atau terjangkit COVID-19 saja yang ditolak, melainkan tenaga medis juga mendapat perlakuan yang sama. Beberapa bahkan ada yang dijauhi oantaran dianggap sebagai pembawa penyakit. Meski begitu tampaknya hal itu tidak mematahkan semangat mereka sebagai garda terdepan untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Seorang wanita Bunga (bukan nama sebenarnya) mengaku bahwa kejadian penolakan itu dialaminya sendiri bahkan teman terdekatnya. Ia yang bekerja sebagai salah satu dokter di sebuah rumah sakit di daerah Sleman menceritakan pengalaman pahit yakni ditolak oleh masyarakat.

Dengan niat mendaftar menjadi tenaga relawan namun saat ini penolakan yang didapatnya. Mencari tempat singgah untuknya saat ini cukup sulit mengingat bertapa sentimen masyarakat saat ini.

“Temenku bantu cari ada kos-kosan di deket RSku. Aku chat dan macem-macem awalnya boleh, bisa tapi sorenya yang punya kos-kosan minta maaf kalau dia dapat WhatsApp dari dukuh setempat yang menyatakan bahwa tidak boleh menerima tamu baru,” ungkap Bunga saat menceritakan perjuangannya mendapat sebuah singgahan pada Kamis (2/4/2020).

Ada terbesit rasa kecewanya pada pandangan masyarakat saat ini. Sebetulnya ia amat menyayangkan masyarakat memiliki banyak stigma akan tenaga medis yang dianggap bisa membawa virus. Namun ia tahu ketakutan masyarakat itu tentu ada alasannya.

“Sudah beredar di media sosial bahwa mereka perawat di RSPI atau RS yang dimana yang kemudian ditolak warga dan kemudian disuruh pergi segala macem dari kontrakannya. Itu sangat disayangkan. Karena warga mengira mbaknya ini bisa berpotensi untuk menularkan kepada ornag sekitarnya.

Beberapa tempat di sekitarnya bahkan kini mulai melakuian penolakan terhadap warga pendatang. Mencari rumah singgah menjadi hal sulit yang kini bisa dilakukan. Pengawasan semakin ketat, masyarakat mulai kepo dengan orang baru mulai dari idrntitas asal, tempat kerja, hingga hal lainnya. Akhirnya menutup jati diri sebagai petugas garda terdepan yang menangani pasien COVID-19 jadi siasat melindungi diri dan menemukan tempat tinggal. Meski ia tahu di benaknya juga ada ketakutan-ketakutan jika nanti masyarakat akan tahu.

“Saya jadi ragu untuk memberitahu ke mereka bahwa saya tenaga medis, saya dokter, mau kerja di RS ini, yang mungkin akan merawat pasien COVID-19, stigma warga pasti beda,” katanya.

Ia mengaku pernah mendapat sebuah rumah untuk disinggahi dari temannya. Namun seorang petugas kompleks langsung menaruh curiga pada bunga. Ditanyainya tentang asal, surat sehat, hingga identitas lainnya.

“Karea saya bukan KTP DIY, ibaratnya mereka menolak saya tinggal di situ. Padahal selama ini tidak di sana, selama ini memang tinggal di kota ini (DIY). saya cuma mau pindah dari daerah sebelah ke sini. Tapi mereka tidak percaya, saya memutuskan untuk tidak tinggal di situ,” ujarnya.

Ia beruntung, salah satu temannya memberikan kesempatan untuk menghuni rumahnya meski memang harus ada pembatasan yang dilakukan. Namun ia tak keberatan ketimbang tidak mendapat tempat tinggal sama sekali.

“Alhamdulillah saya bisa dapat tempat tinggal juga temen saya,” ungkapnya.

Bunga juga bercerita bahwa ada tenaga medis lainnya yang sampai takut pulang ke rumah akibat stigma warga.

“Kita sebagai warga negara yang baik harus berempati bukannya memusuhi. Menyudukan. Tapi yang terjadi seperti hukum rimba, kalau ada yang punya penyakit jadinya malah go away from here, we don’t want you!,” katanya.

Ia sendiri tak menampik bahwa resiko sebagai tenaga medis di tengah situasi ini betul-betul serba salah. Mereka memang tak bisa menghindari resiko terpapar oenyakit dari si pasien.

Dia bener-bener ditolak oleh warga dalam kondisi baik taoi dia takut ouoang ke rumah

“Dia pulang aja takut karena di rumah warga dia di rumah skait juga ngapain ngabisin bed,” ungkapnya.

Namun tak satupun dari hal itu mengecilkan keinginan untuk tetap merawat pasien. Sudah panggilan profesinya, hal itu sudah seharusnya kewajiban mereka.

“Kita juga ga mau (terpapar), kita juga pengennya yaudah melayani pasien melayani orang tanpa harus ketularan” ungkapnya.

Seperti tak dihargai pengorbanannya, ia merasa amat menyesalkan bagaimana masyarakat kini memandang tenaga kesehatan. “Ini tentara disuruh perang, disuruh berdarah-darah dan mungkin akan akan tersakiti akan perlawanan dan ketika pulang akan diusir,” ungkapnya.

Harapannya tak muluk-muluk hanya dapat diterima di masyarakat dan bukan dikucilkan apalagi ‘dibuang’ saja sudah cukup. Menurutnya sudah selayaknya jika para oetugas garda terdepan ini lebih dihargai mengingat perannya dalam misi kemanusiaan menyelamatkan nyawa.

“Kita seharusnya menjadi garda terdepan, kita kayaknya layak deh mendapatkan penghormatan bukan diusir seperti itu,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here