Home News Merdekakan Anggur di Indonesia, Tatar Fatoni Kembangkan Anggur Impor

Merdekakan Anggur di Indonesia, Tatar Fatoni Kembangkan Anggur Impor

1757
0
Bibit anggur yang dikembangkan oleh Tatar Fatoni. (Foto: dok. pribadi Tatar Fatoni)

BERNASNEWS.COM – Animo masyarakat di Indonesia terhadap pengembangan anggur kian meningkat tiap tahunnya. Di mulai dari budidaya anggur rumahan yang tak lepas dari proses pembibitan yang nantinya akan menjadi ladang anggur yang berkualitas.

Tatar Fatoni, warga asal Yogyakarta ini sudah sekitar tiga tahun berkecimpung di dunia budidaya bibit anggur. Lokasi pengembangan bibit anggur milik Tatar terletak di jalan Kaliurang km 17. Ia mengembangkan bibit anggur yang berasal dari bibit impor untuk ditanam di Indonesia. Jumlahnya sebanyak 250 varietas bibit anggur yang dikembangkan.

“Kita sudah tiga tahun (mengembangkan pembibitan anggur impor). Kita (mengembangkan) ada 250 varian. Kalau saat ini yang paling diminati masyarakat itu jenisnya ada ninel, trans, Giovanni. Itu yang paling diminati itu,” pungkas Tatar pada Kamis (27/2/2020).

Beberapa varietas anggur yang dikembangkan pun berasal dari berbagai daerah di dunia mulai dari Ukraina, Prancis, Italia, Jerman, Filipina, Vietnam, hingga Thailand. Ketika anggur jenis tersebut masuk ke Indonesia, harganya cukup tinggi. Berdasar inilah, Tatar berupaya mengembangkan banyak varietas anggur impor di Yogyakarta.

Tatar Fatoni berfoto dengan tanaman anggur yang dikembangkannya. (Foto: dok. pribadi Tatar Fatoni)

“Yang namanya anggur itu kan buah yang sangat istimewa terus kita mendalami tentang hal itu. Dari beberapa kitab suci beberapa agama kan menyebutkan kalau buah anggur itu adalah buah surga. Buah mewah. Disamping itu fungsinya kesehatan itu banyak banget,” pungkasnya.

“Sebenernya kita ingin memerdekakan anggur di Indonesia supaya tidak impor lagi. Karena memang nilainya tinggi. Buah-buah anggur impor itu kan per kilonya mahal. Terutama yang ada cuma di supermarket-supermarket. Harapan kita supaya tidak impor,” imbuhnya.

Rupanya, bukan hal yang mudah untuk mengembangkan bibit anggur terutama varietas impor. Anggur yang tumbuh di luar Indonesia tentunya punya karakteriristik sendiri dan butuh upaya untuk menumbuhkan di tanah di luar lingkungan asalnya. Untuk itu, Tatar menggunakan Teknik grafting yang adalah metode pencangkokan bibit dengan Teknik sambung.

Beruntung sebelumnya Indonesia sudah memiliki pohon anggur bawaan pada zaman Belanda di masa lampau. Oleh Tatar bagian bawah anggur lokal bawaan Belanda yang hidup di Indonesia diambil bangian batang ke bawah hingga akar kemudian menyambungkannya dengan anggur varietas impor lainnya.

“Kita impor varian mulai dari Ukraina, Prancis, Jerman. Itu terus kita rekayasa dengan grafting. Grafting itu kita akar, batang bawahnya pakai anggur lokal terus kita sambung dengan anggur-anggur import,” ujarnya.

Teknik ini boleh dikatakan berhasil untuk mengembangkan anggur sebab anggur impor yang ditanam memang harus beradaptasi dengan tanah maupun iklim di Indonesia supaya bisa berbuah. Ia mengatakan fungsi dari grafting adalah untuk mengadaptasi tanaman anggur impor dengan lingkungan di Indonesia.

“Hidup harus direkayasa dengan anggur lokal,” ungkapnya.

Salah satu jenis anggur yang dikembangkan oleh Tatar Fatoni. (Foto: dok. pribadi Tatar Fatoni)

Lingkungan tempat mengembangkan bibit anggur milik Tatar juga bisa dikatakan menguntungkan untuk pertumbuhan anggur sendiri. Menurutnya beberapa anggur memang tidak akan bisa bertahan di daerah yang memiliki cuaca panas. Berada di lereng Gunung Merapi bisa dikatakan sebagai nilai tambah untuk mengembangkan bibitnya.

“Pembibitan anggur itu dibutuhkan suhu yang pas. Jadi di tempat yang panas buat bibit anggur itu susah. Kebetulan kita di lereng Gunung Merapi kan udaranya sejuk. Jadi untuk menyambung kayu batang lokal dengan anggur impor itu jadinya lebih tinggi, pas,” ujarnya.

Untuk produksi bibitnya, Tatar mengatakan bahwa usaha pembibitannya mampu memproduksi hingga ribuan bibit dan sudah dipesan dibanyak daerah di wilayah Indonesia.

“Untuk kapasitas 10.000 bibit pun kita sanggup. Tapi butuh katakanlah dua bulan tiga bulan dari awal kita proses pembuatan itu nanti tiga bulan baru siap ditanam di tanah. Konsumen kita ada yang dari Riau, Lampung Sumatera, bali Lombok Sulawesi. Kita kirimnya lewat jasa online. Rata-rata baru jadi tanaman keluarga (Jogja),” pungkasnya.

Melalui usaha pengembangan bibit milik Tatar yang ada di Kaliurang ini, ia berharap bahwa di masa depan Indonesia tak perlu lagi mengimpor buah surga tersebut. Selain bisa menekan harga yang mahal, harapannya petani anggur di Indonesia juga bisa terbantu dan tertarik membudidayakan anggur.

“Harapan kami menanam anggur di daerah sini mudah berbuah supaya petani-petani lokal ini bisa tertarik untuk menanam anggur,” tutupnya.

Tatar Fatoni (+6282243233313) (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here