Thursday, June 30, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMerdeka Belajar dalam Semangat Baru dan Semangat Kebangsaan

Merdeka Belajar dalam Semangat Baru dan Semangat Kebangsaan

Oleh: DR Bernardus Agus Rukiyanto SJ

bernasnews.com – Indonesia telah mengalami krisis pembelajaran dalam waktu yang cukup lama. Hasil studi dan juga hasil ujian Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa banyak anak Indonesia yang tidak mampu memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar.

Dalam penelitian PISA tahun 2019, Indonesia menduduki posisi ke-74 dari 79 negara. Di samping itu, terdapat kesenjangan pendidikan yang mencolok antar wilayah dan kelompok sosial di Indonesia. Hal ini diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda lebih dari 2 tahun ini.

Untuk memulihkan keadaan ini, diperlukan perubahan yang sistemik, salah satunya melalui kurikulum sekolah.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengembangkan Kurikulum Merdeka dengan tujuan utama untuk memulihkan pembelajaran dari krisis yang sudah lama dialami anak-anak Indonesia.

Kurikulum Merdeka ini diberikan kepada satuan pendidikan sebagai opsi tambahan dalam rangka melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan ini akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Esensi Kurikulum Merdeka adalah pendidikan berpatokan pada esensi belajar, di mana setiap siswa memiliki bakat dan minatnya masing-masing. Tujuan merdeka belajar adalah untuk memitigasi ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 secara efektif. Untuk saat ini Kurikulum 2013 tetap dapat digunakan sembari sekolah bersiap-siap untuk menerapkan kurikulum baru ini.

Setiap satuan pendidikan dapat menerapkan Kurikulum Merdeka secara bertahap berdasarkan kesiapan masing-masing. Pengertian Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa dan mahasiswa bisa memilih pelajaran yang diminati.

Kurikulum Merdeka yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Kurikulum Prototipe ini dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel dan berfokus pada materi esensial serta pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Kurikulum Merdeka diharapkan mampu mendukung pemulihan pembelajaran akibat pandemi Covid-19 yang memunculkan learning loss.

Karakteristik Kurikulum Merdeka: Pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila; Fokus pembelajaran pada materi esensial akan membuat pembelajaran lebih mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

Guru memiliki fleksibilitas untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi sesuai kemampuan siswa dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Guru dapat bebas memilih, membuat, dan mengembangkan format RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). RPP wajib memuat tiga komponen yaitu, tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. Sedangkan komponen lainnya hanya bersifat melengkapi saja.

Yogyakarta sebagai kota pendidikan dengan gembira menyambut Merdeka Belajar ini. Kurikulum ini memicu sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi untuk mengembangkan pembelajaran secara kreatif dan inovatif.

Kota Yogyakarta yang juga menyandang sebagai kota kebudayaan tentu dapat menjadi tempat belajar yang kreatif karena para siswa dan mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai macam sarana dan fasilitas budaya yang ada.

Situasi dan kondisi masyarakat yang beragam juga dapat menjadi tempat belajar ilmiah (penelitian) yang baik. Tempat belajar tidak terbatas di dalam ruang kelas, namun bisa memanfaatkan berbagai tempat di setiap sudut kota. Dengan demikian situasi pembelajaran sungguh akan menyenangkan.

Semangat Baru

Spirit Paskah mengajak kita untuk bangkit bersama dengan Kristus, memperbarui kehidupan kita dengan semangat baru. Merdeka Belajar berfokus pada asas kemerdekaan dalam menerapkan materi yang esensial dan fleksibel sesuai dengan minat, kebutuhan, dan karakteristik dari peserta didik.

Kurikulum Merdeka lebih berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan.

Dengan spirit Paskah, diharapkan para siswa dan mahasiswa mempunyai semangat baru dalam belajar karena materi yang akan dipelajari benar-benar sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Mereka bisa lebih fokus pada materi esensial, dan bisa belajar dengan gembira.

Semangat Kebangsaan

Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Di sini, para siswa dan mahasiswa dapat memilih pelajaran apa saja yang ingin dipelajari sesuai dengan bakat dan minatnya.

Dengan demikian para siswa dan mahasiswa bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangan yang paling baik dalam berkarya bagi bangsa dan negara. Dengan begitu para siswa dan mahasiswa dapat mendukung kebangkitan dalam hidup berbangsa dan bernegara. (DR Bernardus Agus Rukiyanto SJ adalah Dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik, USD, Ketua Ikatan Dosen Katolik Indonesia (IKDKI) wilayah Yogyakarta)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments