Tuesday, May 24, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMerayakan Hidup Bersama Literasi

Merayakan Hidup Bersama Literasi

bernasnews.com – Sebuah buku mungil berukuran 11 x 15 cm bertajuk Thanks Giving dari Menit ke Menit : Temukan keajaiban karunia Tuhan di sekeliling kita menginspirasi saya secara khusus. Mengapa secara khusus? Karena buku karya sahabat saya Wishnubroto Widarso (2008) ini selalu menyadarkan saya untuk bersyukur setiap saat.

Ya, hidup memang harus selalu disyukuri. Karena hanya karena kasihNya, kita semua masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan selamat, sehat dan bahagia. Hampir semua insan di bumi ini, lebih dari dua tahun terakhir, mengalami kondisi yang sama yakni pandemi Covid 19. Ada yang sudah dipanggil menghadap Sang Pencipta akibat Covid 19 atau sebab yang lain. Ada yang pernah atau sedang sakit. Ada yang sehat dan terus berusaha hidup sehat.

Tentang sehat yang menjadi karunia, dambaan dan perjuangan setiap insan, saya terkesan dengan motto Dokter Asdi Yudiono yang tertulis di kantornya, Klinik Intan Yogyakarta. Bahwa sehat itu menyenangkan, senang itu menyehatkan.

Selain bersyukur dan berusaha untuk hidup sehat, saya juga terus berusaha belajar dari bacaan literasi. Ada beberapa bacaan yang menjadi favorit saya. Sering saya baca untuk bahan renungan atau refleksi pribadi. Kadang juga saya manfaatkan untuk belajar bersama sesama di kelas,  pelatihan literasi atau di masyarakat.

Saya memiliki prinsip, bersama literasi kita dapat belajar untuk memperbaiki diri. Bermula dari satu kata, satu kalimat, satu alinea dan seterusnya. Artinya, tiada kata yang tanpa makna. Terlebih kalau kata itu dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, saya sedang belajar untuk mengimplementasikan lima kata warisan dari seorang tokoh panutan. Kata itu sederhana teksnya namun sungguh tidak gampang mempraktekkannya. Kelima kata itu adalah : sabar, lembut hati, murah hati, baik hati dan rendah hati.

Betapa kata-kata itu mudah ditulis, mudah dibaca, dan enak didengarnya. Namun jangan anggap enteng karena memang tidak gampang mewujudkannya.

 Untuk menjadi orang benar dan baik, kiranya membutuhkan lima kata itu. Namun apakah kalau sudah melaksanakan lima kata itu, otomatis menjadi pribadi yang benar dan baik? Belum tentu juga. Kiranya masih membutuhkan banyak hal lain.

Sehat dan reflektif adalah bagian dari kualitas hidup. Namun apakah banyaknya harta atau tingginya pendidikan dapat menentukan kualitas hidup seseorang? Menurut Stephie Kleden-Beetz,  tidaklah demikian. Bagi dia, kualitas hidup ditentukan oleh sikap hati, moralitas dan karakter kita.

Kehidupan rohani tidak boleh kalah bersaing dengan penelitian ilmu. Oleh karena itu, lanjut Stephie dalam bukunya Merajut Kata-kata (2011), kehidupan rohani harus terus menerus diasah, dipacu, sehingga tetap “tajam dan berkilat”.

Mendengarkan hidup

Selain kita perlu merayakan hidup karena mendapat karunia dari Tuhan setiap saat, ada ajakan bagi kita untuk mendengarkan hidup. Mengapa perlu mendengarkan hidup? Karena Allah berbicara setiap saat kepada kita.

Berkatalah Santo Ignatius dari Loyola, “Suara Allah yang pernah sekali masuk ke dalam hati, menjadi kuat bagaikan badai dan keras bagaikan guntur. Tetapi sebelum suara itu mencapai hati, suara itu sama lemahnya seperti  napas ringan yang hampir tidak menggerakkan suara. Suara itu menyembunyikan diri dari keributan dan diam di tengah-tengah agitasi.”

Benedictus J Groeschel, CFR dan Bert Ghezzi (2014) mengatakan, bila Anda menguasai seni mendengarkan hidup maka Anda akan mendengarkan Tuhan berbicara dalam pikiran dan hati Anda. Mendengarkan hidup melibatkan sesuatu bentuk mendengar yang selektif. Mendengarkan adalah soal merespons apa yang kita dengar. Dan mendengarkan hidup agar dapat mendengarkan suara Allah berarti merespon dengan pikiran dan hati kita.

Selain yang bersifat tekstual, gambar atau video, literasi yang lebih dahsyat menurut saya adalah literasi kehidupan sehari-hari kita. Dinamika pengalaman pribadi yang sederhana sampai pengalaman empiris, dari bertemu seseorang sampai berdialog, srawung, dan aneka peristiwa yang dapat kita amati dan alami bersama. Sejauh mana kita mampu menangkap maknanya supaya signifikan dalam kehidupan pribadi.

April adalah bulan istimewa bagi penulis. Saya adalah April Man.Tepatnya pada Minggu Pon 17 April 2022, saya genap berusia 64 tahun atau tumbuk ageng. Beberapa teman sekolah atau kuliah, kurang lebih juga berusia sama pada tahun ini atau bahkan tahun sebelumnya.

Menurut referensi yang saya baca, dalam budaya Jawa ada serangkaian upacara tumbuk ageng. Ada upacaya yang dapat dilakukan secara climen, ada yang secara rowa. Artinya dengan sederhana atau meriah. Kalau mengikuti adat ini, ada adegan angon putu, congkogan dan andrawina.

Saya menjalani agenda itu lebih sederhana. Berkumpul bersama keluarga di rumah, berdoa, dan potong kue. Hadir anak, menantu dan cucu dari luar kota. Di hari yang sama, komunitas literasi kami Yuk Belajar Menulis (YBM) yang genap berusia 4 tahun, juga mengkado saya dengan pertemuan sambil buka puasa bersama. Saya bersyukur, senang dan berterima kasih.

Di luar itu, dalam bulan ini saya melakukan safari literasi di beberapa tempat. Acara tersebut didukung manajemen kantor dan berbagai pihak. Sungguh kebersamaan yang membahagiakan dan semoga bermanfaat.

Merayakan hidup kiranya dapat bersama literasi. Tulisan sederhana ini juga untuk mengikat agenda itu supaya momumental.  (Y.B.Margantoro, kakek dari Mikha, Nathan dan Hazel).

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments