Home News Merajut Kebhinekaan Bersama SMA Bopkri 2 Yogyakarta

Merajut Kebhinekaan Bersama SMA Bopkri 2 Yogyakarta

663
0
Suasana zoom meeting bertajuk "Ngobrol Kebhinekaan di Era Abu-abu" dalam HUT ke-72 SMA Bopkri 2 Yogyakarta, yang diikuti 284 partisipan dari berbagai daerah, Sabtu (21/8/2021) pagi. Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM – Menandai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72, SMA Bopkri 2 (Boda) Yogyakarta mengadakan jumpa siswa, guru, karyawan dan alumni lintas angkatan melalui zoom meeting bertajuk Ngobrol Kebhinnekaan di Era Putih Abu-abu, Sabtu (21/8/2021) pagi

Sekolah yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman 87 Yogyakarta ini juga telah melabelkan diri sebagai Sekolah Multikultural Indonesia (SMI). Hal ini dilatarbelakangi dengan sejumlah siswa-siswinya yang berasal dari berbagai daerah dan pulau di Indonesia. Pun dengan beragam suku, agama, ras, adat, beragam karakter, bahkan penyandang disabilitas.

Kepala SMA Boda Yogyakarta Dr Sri Sulastri MPd mengatakan, sebagai sekolah berlabel SMI, pihaknya terus melakukan beragam kreativitas dan inovasi dalam proses belajar mengajar. “Ini event yang baru pertama kali kami lakukan. Kita harus menyadari dengan latar belakang siswa yang beragam tentu butuh perhatian khusus agar para siswa yang belajar di Boda mampu beradaptasi dan saling menghormati satu sama lain. Sehingga sekolah ini mampu menjadi sarana mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa,” terangnya.

Sulastri memaparkan, justru dengan perbedaan yang ada, para siswa, guru, karyawan bahkan alumni yang kini tersebar di berbagai daerah dan bidang pekerjaan, kian merasakan manfaat saat berinteraksi dengan publik di Indonesia yang juga beragam. 

Flyer zoom meeting HUT ke-72 SMA Boda Yogyakarta. Foto: Istimewa

Sebagai salah satu alumni yang lulus tahun 1986, Kadiv Humas Polri  Irjen Pol Prabowo Argo Yuwono, mengatakan rasa bangganya bisa bersekolah di SMA Boda Yogyakarta. “Saya merasa bangga bisa bersekolah di SMA Bopkri 2. Sekolah ini telah menempa saya untuk saling menghargai perbedaan satu sama lain,” kata dia.

Sementara alumni yang lain, Wahyu Wibisono mengatakan, banyak hal yang diperoleh saat bersekolah di Boda Yogyakarta. “Saya jadi bisa kenal dengan teman-teman dengan beragam karakter, mulai dari yang nakal, ada yang pinter hingga yang santun,” ujar Wakil Direktur sebuah NGO “Sheep Indonesia” ini.

Sedang alumni 2012 yang juga penyandang disabilitas Manila Kristin mengungkapkan, saat sekolah di SMA Boda dirinya kian percaya diri dalam mengembalikan bakatnya. “Sekolah dan teman-teman saling menghargai perbedaan. Kami saling bantu. Bahkan saat saya harus naik tangga menuju laboraturium di lantai tiga, sejumlah teman ikut mengangkat kursi roda saya,” ungkap Manila Kristin, yang saat ini bekerja sebagai Staf IT di UKDW Yogyakarta.

Hal senada disampaikan alumni Toni Sianipar MBA, yang saat ini menjadi Arsitek Perencanaan Strategis Pariwisata Nasional. “Saat SMA inilah saat yang tepat untuk membuka wawasan bagi para siswanya. Sekolah multikultural seperti Boda membawa banyak pengalaman bagi saya dalam menjalankan pekerjaan profesional di dunia kreatif,” tandasnya. 

Sekolah multikultural menjadi sebuah rumah bersama bagi beragam kalangan untuk menempa diri dan melatih empati. Juga  mengasah kecerdasan di tengah beragam perbedaan latar belakang. Dengan terus menghargai perbedaan dan mampu meramunya dalam dinamika persekolahan, maka Kebhinnekaan  Indonesia dengan beragam entitas budaya ini kian dirasakan melintas batas generasi. (AG Irawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here