Home Opini Menyambut Munas ke-1, HIMPKA Oase bagi Tamansiswa?

Menyambut Munas ke-1, HIMPKA Oase bagi Tamansiswa?

376
0
Jontra Sihite, Anggota Steering Committee (SC) Munas HIMPKA I, Ketua Majelis Mahasiswa UST Yogyakarta tahun 2006 dn Alumni Fakultas Psikologi UST Yogyakarta. Foto: Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM – Salam dan Bahagia Himpunan Kelurga Tamansiswa (HIMPKA) adalah sebuah narasi. Narasinya adalah narasi keresahan sekaligus semangat dan harapan. Tamansiswa yang awalnya didirikan sebagai Badan Perjuangan Pendidikan dan Kebudayaan oleh Ki Hadjar Dewantara (KHD), namun setelah Orde Baru, kemudian orde “seolah-olah” reformasi hingga era disrupsi sekarang (Revolusi Industri 4.0), apakah perjuangan pendidikan dan kebudayaan itu sudah berakhir?

Jika misalkan Perjuangan Pendidikan dan Kebudayaan sudah sampai ke titik akhir, sudah sampai dimana posisi organisasi Tamansiswa? Namun, jika ternyata perjuangan itu belum berakhir, upaya apa yang akan dilakukan oleh Tamansiswa? Dimana Tamansiswa saat terjadi persoalan sosial kebangsaan di republik tercinta ini?

Apa mau dikata, jangankan membicarakan persoalan-persoalan nasional, persoalan internal saja mungkin cukup pelik. Faktanya dapat dilihat dari tumbuh-kembangnya yayasan-yayasan di bawah naungan perguruan Tamansiswa. Bahkan bisa dianggap cukup “mengkuatirkan”.

Tiba-tiba suatu ketika, Harian Jogja memberitakan “Yayasan Taman Siswa yang selama ini concern dengan dunia pendidikan di Indonesia terancam bangkrut” (Harian Jogja (14/5/2012). Tentunya berita itu “mengejutkan” khalayak. Kemudian menjadi tajuk “Selamatkan Taman Siswa” di harian Solopos.com (15/5/2012).

Sekolah-sekolah Tamansiswa kini tidak difavoritkan, kalah bersaing dengan sekolah-sekolah negeri maupun sekolah-sekolah swasta lainnya bahkan kalah jauh dengan sekolah-sekolah berbasis agama. Patut untuk diduga, bahwa ada persoalan sistem dan SDM yang mengitarinya.

Organisasi pusat Tamansiswa entah seperti apa strateginya untuk mencoba keluar dari “bayang-bayang” agar sekolah-sekolah maupun yayasan-yayasan binaannya tidak menjadi pilihan ataupun opsi yang kesekian di mata masyarakat. Bahkan satu-dua dekade lalu di Yogyakarta, mendengar keluh kesah para pamong bahkan mungkin guru/dosen seolah yayasan Tamansiswa “berjarak” dengan kesejahteraan dan terjebak dengan istilah “pengabdian”.

Padahal sangat mungkin situasi itu disebabkan oleh kondisi dan usaha perekonomian yayasan yang kurang optimal namun dibenturkan dengan jargon “pengabdian”. Kita tidak perlu menggunakan pendekatan teori ekonomi Karl Marx ataupun teori Maslow tentang hiraki kebutuhan dasar manusia maupun istilah “Logis tanpa Logistik menghasilkan Anarkis” ataupun pendekatan Teologis “Bekerja adalah Ibadah”.

Namun pengabdian dan kesejahteraan seyogianya berjalan seiring, bukankah mensejahterakan Pamong/SDM Tamansiswa merupakan bagian dari mensejahterakan rakyat Indonesia? Kan pada akhirnya semuanya menuju “Masyarakat-Tertib-Damai-Sejahtera”.

Ajaran-ajaran KHD semestinya tidak semata dilihat melalui pendekatan filsafat idealisme yang cenderung tekstual, namun perlu di “kontekstualkan” sesuai perubahan zaman, jadi tidak terjebak romantisme sejarah masa lalu. Ingat ajaran-ajaran maupun nilai-nilai KHD bukan lagi milik tunggal Tamansiswa, namun sudah menjadi milik bangsa.

Lihat bagaimana jargon Kemendikbutristek “Merdeka Belajar” ala Nadiem Anwar Makarim. Bahkan ajaran-ajaran KHD kini telah menjadi milik dunia. Bagaimana dengan penerapan Sifat Bentuk Isi dan Irama (SBII) ala Tamansiswa dalam membaca generasi Indonesia 1 dekade ke depan di pusaran era “Double” Disrupsi sekarang?

Begitu banyak orang yang mungkin bukan berasal dari keluarga besar Tamansiswa, namun mencintai ajaran-ajaran KHD dan menunggu Tamansiswa berbuat lebih besar bagi kemajuan bangsa dan negara ini. HIMPKA ada untuk menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita KHD.

Jadi HIMPKA bukan merupakan kompetitor bagi lembaga-lembaga otonom yang sudah ada di lingkungan Tamansiswa layaknya PKBTs, Wanitas, dan lain-laing. Namun HIMPKA adalah oase. Ibarat mata air di padang tandus, saat kenyataan perubahan zaman yang terus menerus menggilas roda kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, HIMPKA memposisikan diri sebagai “Rumah Bersama”.

Harapan terbesarnya adalah HIMPKA dapat menjadi oase sesungguhnya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang dikuasai oleh kaum oligarki dan penyelenggaraan negara yang semakin menjauh dari implementasi nilai-nilai Pancasila .

Selamat Munas ke-1 HIMPKA Tamansiswa untuk Indonesia. Salam. (Jontra Sihite, Anggota Steering Committee (SC) Munas HIMPKA ke-1, Alumni Fakultas Psikologi UST tahun 2007, tinggal dan bekerja di Pakpak Bharat, Sumut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here