Home Opini Menumbuhkembangkan Jiwa Nasionalisme pada Genarasi Muda

Menumbuhkembangkan Jiwa Nasionalisme pada Genarasi Muda

192
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen STIM YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Sejak tahun 1959 lewat Keputusan Presiden Nomor 316 tanggal 16 Desember 1959 bahwa tanggal 20 Mei merupakan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Pada paruh pertama abad 20 di Nusantara (kini Indonesia), rakyat Indonesia mulai menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai “orang Indonesia”.

Waktu itu ditandai dengan dua peristiwa penting, yakni berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1958 dan adanya ikrar Sunpah Pemuda tanggal 28 Mei 1928. Dari sinilah kemudian disebutkan bahwa kebangkitan nasional merupakan cikal bakal persatuan seluruh pemuda di Indonesia, yang bersumpah atas nama Indonesia.

Makna dari Hari Kebangkitan Nasional itu sendiri membuktikan dan menunjukkan bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang menjadi landasan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedang Hari Kebangkitan Nasional yang disingkat dengan istilah Harkitnas pada dasarnya adalah untuk mengenang kembali bagaimana semangat perjuangan bangsa Indonesia tempo dulu untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai bentuk pembangunan.

Jiwa Nasionalisme

Seperti telah diuraikan di atas bahwa makna dari Harkitnas itu sendiri pada intinya adalah upaya yang dilakukan oleh rakyat Indonesia kala itu, terutama kaum mudan, guna membuktikan adanya jiwa nasionalisme, kesatuan dan persatuan yang begitu kentaln dalam hati sanubarinya, agar Indonesia yang telah diproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, benar-benar eksis dalam mengisi kemerdekaan, sehingga tidak dijajah lagi oleh kolonialis ataupun bangsa lain.

Dengan adanya ikrar atau sumpah yang telah dikumandangkan pada tahun 1928 sebelumnya, hal ini semakin membuktikan adanya tekad yang sangat kuat bagaimana para pemuda Indonesia waktu itu ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan suatu negara dan bangsa yang dapat hidup mandiri dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Oleh karena itu dengan alasan apa pun kita mengetahui bahwa begitu solidnya jiwa nasionalisme yang dimiliki rakyat Indonesia waktu itu, yang perlu juga dihargai bagaimana perjuangan yang telah mereka lakukan guna mengusir penjajah di bumi Nusantara, dan mereka sanggup mengisi sendiri kemerdekaan negara dengan segala konsekuensi yang ada dan dihadapi bangsa waktu itu.

Lantas yang menjadi pertanyaan sekarang, masihkan rasa nasionalisme itu tetap dimiliki oleh bangsa dan pemuda kita sekarang ini yang hidup sebagai generasi berikutnya dan kemudian kita kenal dengan generasi milenial untuk mengisi kemerdekaan yang telah diwujudkan oleh para pendiri bangsa?

Bila pada hari ini tepat tanggal 20 Mei 2021, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak masyarakat Yogyakarta tepat pukul 10.00 WIB bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, merupakan suatu bentuk nyata bagaimana menanamkan jiwa nasionalisme masyarakat Yogyakarta pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tantangan dan peluang

Guna menjawab pertanyaan di atas, kiranya tidak salah kalau kemudian kita masing-masing, dan terutama generasi muda bersedia mawas diri atau introspeksi, apakah benar-benar kita sudah memberikan andil pada pengisisan kemerdekaan bangsa ini.

Fakta membuktikan bahwa sekarang ini kita yang masih hidup di zaman revolusi teknologi informasi yang demikian hebat perkembangannya, kadangkala masih menjumpai adanya beberapa tantangan yang dapat menghambat kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini, yang seringkali ditiupkan dengan adanya upaya pemecahbelah kehidupan bangsa dengan isu-isu tertentu seperti kasus SARA (suku, agama, ras, dan antara golongan) ataupun beberapa kasus klithih, yang dapat mengganggu terjalinnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa, atau mengganggu keamanan, serta dapat menurunkan jiwa nasionalisme.

Apalagi dengan adanya pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab, yang kemudian justru memicu terjadinya perpecahan di negeri ini, seperti munculnya kelompok teroris atau pun kelompok radikal lainnya yang benar-benar akan selalu membuat kekacauan di sana-sini yang membuat bangsa ini tidak kondusif terutama dari sisi keamanan. Itulah beberapa tantangan.

Sekarang bagaimana dengan peluang di sisi lain. Kita sadri bahwa sekarang ini adalah aman revolusi tekonologi informasi yang berkembang pesat. Oleh sebab itu menjadi kewajiban kita bersama, bagaimana menyiapkan generasi penerus sedemikian rupa, agar mereka nantinya menjadi generasi yang tangguh dan tanggon, guna mengisi kemerdekaan bangsa ini.

Dengan menyerap teknologi informasi yang demikian pesat perkembangannya, generasi tua harus dapat melakukan penyerahan tongkat estafet kepada generasi penerus atau generasi milenial kita, agar tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak bermanfaat. Mari bersama-sama kita dampingi generasi muda, dan kita arahkan ke hal-hal yang positif dengan melakukan jalinan komunikasi yang menyegarkan dan membahagiakan, jangan tinggalkan generasi muda berjalan sendiri.

Dengan cara semacam ini niscaya generasi muda akan selalu menaruh rasa hormat kepada generasi tua, dan juga menyadari bahwa mereka mempunyai kewajiban untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa ini. Semoga. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here