Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMenulis dengan Hati

Menulis dengan Hati

bernasnews.com – “Menulislah dengan hati, bukan dengan pikiran. Dengan hati, proses menulis akan lebih mudah dan hasilnya akan mudah dipahami oleh yang membaca. Sebaliknya, menulis dengan pikiran, prosesnya terasa berat dan hasilnya pun umumnya tidak enak dibaca dan sulit dipahami. Menulislah seperti orang yang sedang marah, keluar dan mengalir begitu saja, tanpa outline dan editing yang berbelit-belit.”

Itulah kata-kata bertenaga yang disampaikan Prof. Imam Suprayogo pada acara zoominar bertajuk Membangun Tradisi Menulis yang diselenggarakan oleh Komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) berkolaborasi dengan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, Ahad 3 Oktober 2021.

TULISAN INI memang hanya sekedar curhatan. Namun curhatan dengan hati, dengan harapan tidak sekedar memperoleh simpati ataupun empati. Kesan di hati menjadi tujuan utama. Menulis dengan hati tidak sekedar coretan. Namun menulis dengan hati supaya sampai ke hati dan refleksi bersama tentu saja.

Ini curhatan seorang Ibu. Ibu bagi semua warga sekolah. Guru, karyawan, siswa, bahkan orang tua siswa. Kali ini curhatan saya sampaikan untuk teman-teman guru dan karyawan SMP Negeri 3 Mlati, Sleman, Yogyakarta. Saya akan menyebut Bapak/Ibu guru dan karyawan dengan “kalian” dalam tulisan ini.

Rasa bangga dan bahagia menyertai goresan pena ini. Rasa itu selalu ada di setiap perjumpaan kita. Kalian adalah partner kerja, teman bercerita kala suka maupun duka, bahkan kadang guru bagiku.

Curahan hati kali ini saya bagi dalam empat bagian. Keempatnya saya singkat menjadi OPEN. Dapat dimaknai open dalam Bahasa Inggris yang bermakna ‘buka’, artinya terbuka atau membuka hati. Dapat juga dimaknai dalam Bahasa Jawa yang berarti memiliki sifat open atau ngopeni. OPEN singkatan dari optimis, potensi, empati, dan no dendam. Mari kita mulai curhatan kali ini.

1. Optimis

Awal kita bertemu, terperanjat aku ketika dari hulu sampai hilir berpandangan bahwa anak-anak di sekolah ini tidak dapat diajak maju. Kalimat “Cah kene ki ora iso diajak maju” cukup sering saya dengar.

Hal itu sangat bertentangan dengan mind set yang sudah tertanam dalam benak saya. Semua anak memiliki potensi/kecerdasan/bakat masing-masing. Potensi tersebut dapat dimaksimalkan melalui pembelajaran dan pembiasaan. Pembelajaran dan pembiasaan yang terprogram, dilaksana-kan dengan konsisten, dipantau, dan dievaluasi secara berkala akan menghasilkan siswa berkarakter hebat.

Pagi-pagi beberapa kelompok anak datang ke sekolah langsung bermain bola di lapangan. Ketika bel masuk berbunyi mereka berlarian dalam kondisi baju basah kuyup oleh keringat. Sebagian berlari ke arah kantin untuk jajan, sebagian lain menuju kamar mandi. Setelah itu baru mereka berjalan pelan-pelan menuju kelas sambil bersenda gurau. Otomatis terlambat masuk kelas, tidak siap belajar, bahkan mengantuk (tertidur) saat pembelajaran.

Itu satu contoh kondisi awal pertemuan kita.

Usaha membentuk siswa berkarakter hebat memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun pelan tapi pasti kita dapat menanamkan karakter-karakter hebat. Dan itu terbukti, saat ini disiplin anak makin baik. Prestasi meningkat. Salah satu bukti, rata-rata nilai Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2017/2018 sebesar 263,92 menjadi 278,08 pada tahun pelajaran 2018/2019. Secara rinci peningkatan nilai masing-masing mata pelajaran dapat dicermati pada tabel berikut.

Data Nilai Rata-Rata UNBK 2017/2018 dan 2018/2019

Peningkatan ini ditampilkan karena saya ingin menunjukkan bahwa kebersamaan kita yang belum satu tahun sudah membuahkan prestasi. Jika dibandingkan dengan prestasi sekolah-sekolah unggulan memang belum ada artinya. Namun hal itu sangat berarti bagi SMP Negeri 3 Mlati, Sleman. Kami menjadi semakin percaya diri dan optimis.

Peningkatan tersebut dapat diraih berkat kerja sama, kerja keras, dan kerja cerdas kita semua. Seluruh stake holder berperan aktif dalam memaksimalkan potensi dan kompetensi siswa. Optimis kita dapat membawa para siswa meraih prestasi di berbagai bidang. Kita juga optimis dapat membentuk karakter unggul siswa-siswa.

2. Potensi

Sebagai SMP Negeri termuda di Wilayah Mlati yang nota bene secara akademik in put siswanya paling rendah di antara ketiga sekolah negeri, terkadang menimbulkan rasa rendah diri. Namun rasa itu tidak perlu ada. Prestasi tidak selalu di bidang akademik. Karakter juara itu yang harus ditanamkan dalam diri.

Karakter juara akan menimbulkan semangat juang dan semangat untuk melakukan hal-hal terbaik yang dapat dilakukan. Kita melakukan sesuatu ora mung sak-sak e lan ora mung sak tekane.

Merangsang semangat kerja/juang dengan menonjolkan/ memunculkan potensi. Itu hal yang terus saya lakukan sepanjang waktu. Kalian ada dan penting karena potensi, kompetensi, dan peran masing-masing.

Pandai memanajemen teman-teman, tempat curhat anak-anak, terampil IT, mengajar dengan sangat runtut, pintar menulis, dan sebagainya. Saya sungguh bangga dengan kalian. Saya yakin kita akan mampu mewujudkan anak-anak berkarakter juara.

3. Empati

Dulu ada guru yang sedikit-sedikit minta anak dikeluarkan dari sekolah, hanya karena pelanggaran yang sebenarnya masih dapat dibina dengan sabar dan bijaksana. Melanggar peraturan, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, ataupun jahil pada teman. Tidak ditindaklanjuti sebagaimana mestinya seorang pendidik terhadap anak didiknya.

Hanya satu ataupun dua guru yang seperti itu, tetapi cukup mengganggu. Hal itu akan menimbulkan kesan negatif yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup oleh anak tersebut. Sejarah yang tidak bagus terukir di benak anak itu.

Guru yang bersangkutan tidak mau menggali lebih lanjut latar belakang ataupun permasalahan yang dihadapi anak. Langsung men-judge anak tersebut dengan predikat “nakal” atau “malas”. Bahkan menghindar untuk bertemu dengan anak yang bersangkutan dengan mengorbankan teman satu kelas. Meninggalkan ruang kelas hanya karena satu orang yang dicap “nakal”. Oleh karena itu, kuajarkan pada kalian apa arti empati.

Empati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Atau dengan kalimat lain, empati diartikan sebagai kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat dari sudut pandang orang tersebut, dan juga membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang tersebut.

Dengan ber-empati, kita dapat menentukan langkah yang tepat dan bijaksana untuk menindaklanjuti permasalahan anak-anak. Mengajak anak yang bersangkutan dan atau orang tuanya untuk berdiskusi. Menyepakati aturan/rambu yang dirumuskan bersama dalam diskusi. Kemudian bersama-sama saling mendukung dan mengingatkan untuk taat aturan.

4. No Dendam

Kalian semua ada di hatiku. Meskipun demikian aku merasa bahwa  marah itu kadang diperlukan. Marah dalam arti tegas. Ketegasan yang dilandasi dengan ketulusan hati.

Kadang ada yang  lupa menepati waktu, tidak tanggap dengan kondisi dan situasi, melayani anak tidak maksimal. Sebagai Ibu saya wajib mengingatkan. Kadang dengan nada agak tinggi. Namun semua tidak pernah kusimpan dalam hati. No dendam. Karena kita adalah partner. Apapun harus kita lakukan demi kepentingan terbaik anak-anak.

Saya selalu berusaha memahami kalian secara utuh.  Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Mari kita gali bersama kelebihan/potensi kita untuk membantu anak-anak memaksimalkan potensi dan kompetensinya.

Di akhir curhatan ini, sekali lagi, saya sampaikan rasa bangga dan bahagia. Gayung bersambut. Apapun yang menjadi tekad bersama, kita perjuangkan bersama pula. Terima kasih kerja sama, kerja keras, dan kerja cerdas selama ini dan selamanya.

Mari kita lakukan terbaik yang dapat kita lakukan. Semua untuk kepentingan terbaik anak-anak. Salam sehat dan selalu semangat! ***(Dra. Nurhidayati, M.Pd., Kepala SMP Negeri 3 Mlati. Sleman, DIY)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments