Home News Menhan RI : Waspadai Ancaman Nonfisik di Era Modern

Menhan RI : Waspadai Ancaman Nonfisik di Era Modern

88
0
Ucapan selamat datang kepada Menhan RI di Kampus UPN "Veteran" Yogyakarta, Selasa (13/8/2019). Foto : Humas UPNVY

BERNASNEWS.COM – Dalam era perkembangan modernisasi dan globalisasi seperti sekarang, selain ada ancaman-ancaman berbentuk fisik baik yang nyata maupun belum nyata, harus diwaspadai pula terhadap ancaman non-fisik yakni ancaman terhadap mindset atau pola pikir Bangsa Indonesia yang berupaya untuk mengubah ideologi negara Pancasila atau yang populer dengan istilah perang modern atau Proxy War.

“Serangan mindset atau perang modern ini akan terus mempengaruhi hati dan pikiran rakyat dengan tujuan untuk membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara. Metode operasional perang ini dilakukan melalui infiltrasi ke dalam dimensi intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya/kultur dan agama, bantuan-bantuan, kerja sama berbagai bidang dan media/ informasi. Muara akhir dari perang modern yang benuansa materialisme ini adalah guna menguasai sumber-sumber daya alam dan sumber perekonomian nasional,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) RI Ryamizard Ryacudu pada acara pembekalan mahasiswa baru UPN “Veteran” Yogyakarta di Auditorium WR Supratman Kampus UPNVY Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (13/8/2019).

Menurut Menhan RI, beberapa contoh negara yang telah hancur dan menjadi kenangan karena idelogi dan simbol persatuannya telah dihancurkan oleh pengaruh ideologi lain, seperti Yugoslavia, Uni Sovyet yang sekarang berubah menjadi Rusi serta negara-negara di Timur Tengah dimana rakyatnya telah kehilangan rasa cinta pada Tanah Air-nya sehingga harus rela mengungsi ke tempat lain yang juga belum tentu diterima. “Ini adalah salah satu contoh negara gagal,” kata Ryamizard Ryacudu.

Para mahasiswa baru UPN “Veteran” Yogyakarta saat mengikuti pembekalan tentang bela negara di Kampus UPNVY, Rabu (13/8/2019). Foto : Humas UPNVY

Dikatakan, pada hakekatnya indikator kekuatan suatu bangsa yang merdeka sangat ditentukan oleh kekuatan persatuannya yang dilandasi ideologi sebagai dasar negara yang melandasi terbentuknya suatu negara. Dengan adanya dasar negara yang kuat, suatu bangsa tidak akan mudah terombang ambing dalam menghadapi permasalahan baik yang dari dalam maupun dari luar.

“Ideologi negara juga merupakan bintang penutunt yang memberikan orientasi, arah perjuangan dan pembangunan bangsa ke depan,” kata Menhan.

Menurut Menhan RI, sebagai bangsa yang merdeka kita patut bersyukur dan bangga karena memiliki ideologi Pancasila sebagai sebuah anugerah yang luar biasa dari Yang Maha Besar sebagai dasar negara, ideologi negara dan pandangan hidup bangsa yang digali oleh para pendiri bangsa.

Setiap negara memiliki konsep ieologinya masing-masing sebagai simbol pemersatu yang khas dan pas untuk negaranya sendiri, seperti Komunisme untuk China dan Korea Utara, Liberalisme untuk Amerika; Monarchi atau Kerajaan untuk Inggris dan Syariah Islam yang berbasis Wahabisme untuk Arab Saudi dan beberapa negara di Timur Tengah. “Tapi di Indonesia, ideologi-ideologi di atas tidak boleh,” tegas Menhan RI Ryamicard Ryacudu.

Menhan RI pada acara pembekalan mahasiswa baru UPN “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) di Kampus Pusat Condongcatur, Depok, Sleman, Selasa (13/8/2019). Foto : Humas UPNVY

Menurut Menhan, saat ini salah satu ancaman yang sangat nyata dan sangat membahayakan terhadap eksisteni dan keutuhan bangsa dan negara adalah ancaman terorisme dan radikalisme. Ancaman ini tidak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut di masyarakat, tetapi juga telah mengoyak persatuan dan persaudaraan kita. Terorisme dan radikalisme yang kita hadapi saat ini adalah ancaman teroris generasi ketiga,” kata Menhan.

Ciri khusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini, menurut Menhan, adalah kembalinya para militant asing ISIS dari Timur Tengah. ISIS pada mulanya hanyalah kekuatan milisi nasional di Irak yang muncul akibat konflik politik di dalam negeri pascapemerintahan Saddam Hussien. “Di sinilah perlu saya tegaskan bahwa ISIS hanyalah buah dari konflik politik domestik Irak-Suriah yang tidak ada kaitannya dengan Islam,” kata Menhan Ryamizar Ryacudu. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here