Saturday, May 21, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniMengurangi Sampah Mulai dari Pikiran

Mengurangi Sampah Mulai dari Pikiran

bernasnews.com – Pada 2005 silam tragedi sampah terjadi di Jawa Barat. Timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 longsor dan merenggut 147 korban jiwa serta menghapus 2 desa dari peta.

Peristiwa ini menjadi tonggak Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari. Peristiwa tersebut mengingatkan kita agar tidak mengulangi kejadian yang sama di tempat lain di Indonesia.

Penutupan akses masuk Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) oleh warga setempat, menghebohkan publik. Tak ayal, penumpukan sampah terjadi di banyak tiitik dan lokasi pinggir serta bahu jalan.

Mengurai persoalan sampah tak boleh hanya di akhir (hilir). Kita harus objektif. Sumber sampah (hulu) harus juga diberi tanggungjawab mengelola dan mengolah sampahnya sendiri.

Ada beragam cara, mulai dari pilah sampah organik dan anorganik bahkan menyediakan wadah khusus untuk sampah yang berkategori berbahaya innfeksius (medis ) hingga berpikir saat membeli barang, pastikan minim sampah pasca pemakaian. Untuk yang terakhir ini perlu tertib berpikir yang kuat dari tiap individu.

Kepraktisan telah membuat sebagian orang emoh repot! Bahkan untuk berpikir agak panjang sedikit pun ogah. Marilah kita bijak sedikit, bahwa pembungkus makanan dari plastik terus saja menjadi konsumsi publik. Dampak yang paling berat yang harus menanggung, ya alam ini. Plastik habis pakai langsung buang. Residu plastik tidak mudah terurai. Bahkan tak terurai.

Kontaminasi yang ditimbulkan mengganggu produksi unsur hara penyubur tanah. Di samping secara estetika juga mengganggu. Lalu jika diambil dan dibuang juga akan membebani tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Yang ujung-ujungnya mencemari lingkungan juga. Jelas, tak ada untungnya menggunakan plastik pembungkus barang dan makanan padat.

Sudah lama, sejumlah referensi lahir dan dikenalkan di tengah publik perihal mengelola dan mengolah sampah. Pertanyaan reflektifnya: kenapa ilmu yang sama bisa diterapkan di sejumlah negara lain? Ya, warga mereka sangat disiplin dalam melihat sampah. Aktivitas yang berpotensi penghasil sampah diminimalkan. Ini yang belum terjadi di negara kita. Disiplin diri masih lemah.

Tak jarang dalam acara workshop persampahan dibarengi dengan beragam simulasi praktis dan praktik langsung dengan warga setempat dilakukan. Juga dengan dukungan biaya yang tak sedikit dari pemerintah, tidak membuahkan perubahan pola pikir yang signifikan. Lagi-lagi, persoalan kemauan untuk terus konsistensi dan disiplin kendur seiring waktu. Pola pilah sampah organik dan anorganik yang sederhana dan simpel pun tidak bertahan lama.

Mulai saat ini, dari pikiran sendiri, kita harus berbenah. Yang dibutuhkan dalam mengelola dan mengolah sampah, ya hanya kemauan kuat dan disiplin diri yang tinggi. Ini hanya bisa lahir dari pikiran (mindset) personal dengan edukasi yang cukup. Mulai dari personal yang konsisten, lalu merambah ke ruang keluarga. Dan menjadi kebiasaan warga di lingkungan RT setempat.

Tak perlu regulasi khusus. Maka edukasi berbasis bukti dan keteladanan menjadi sangat urgensi untuk dilakukan terus-menerus. Harapannya kebiasaan mengelola sampah menjadi kesadaran tiap personal dalam kesaharian.

Mengutip tulisan penyair dan esais Amerika Serikat Ralph Waldo Emerson (1803-1882): satu ons tindakan bernilai satu ton teori. Ini bisa diterjemahkan secara bebas bahwa praktik sekecil dan sesederhana apa pun jauh lebih penting daripada teori. Ini yang harus diperlakukan pada pengelolaan sampah. (AG Irawan, Pegiat Sungai dan Lingkungan)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments