Home Seni Budaya Menguatkan Potensi, Komunitas Tari Paradance Gunakan Video sebagai Media Promosi

Menguatkan Potensi, Komunitas Tari Paradance Gunakan Video sebagai Media Promosi

429
0
Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta bersama Komunitas Tari Paradance. (Foto: Dok. Humas UWM)

BERNASNEWS.COM — Ketua Pengabdian Masyarakat, Bagus Ajy Waskyto Sugiyanto, M A, mengatakan, bahwa kesenian merupakan buah dari budaya. Oleh sebab itu pengabdian yang dilakukan kali ini bekerja sama dengan komunitas Tari Paradance. “Salah satu alasan pengabdian ini diadakan bersama dengan Paradance karena kedekatan seni tari dengan masyarakat Yogyakarta,” kata Bagus, Senin (16/3/2020).

Pengabdian kepada Masyarakat dilakukan bersama Latifa Zahra, MA, Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, serta beberapa mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi dan Sosiologi.

Menurut Bagus, tidak dapat dipungkiri bahwa seni tari adalah salah satu kesenian yang memiliki ruang khusus di benak masyarakat. Paradance adalah komunitas yang bergerak sebagai platform untuk gerak karya seni pertunjukan berbasis gerak tubuh dan telah berdiri sejak tahun 2015. Paradance diadakan setiap dua bulan sekali di Balai Budaya Minomartani (BBM).

Nia Agustina selaku founder Paradance, menyampaikan, Paradance adalah festival mini seni gerak dan tari yang memberikan ruang kepada penari-penari pemula untuk mempresentasikan karya mereka di depan khalayak luas.

Paradance memiliki potensi yang cukup kuat untuk menggaet penonton baik dalam maupun luar daerah, namun selama ini para penonton yang hadir didominasi oleh para kolega penari yang akan pentas dan masyarakat Minomartani sendiri. “Sehingga dalam hal ini, promosi yang menarik perlu dilakukan. Salah satunya adalah dengan menggunakan video,” ungkap Nia.

Sementara itu, Latifa Zahra menerangkan, pengabdian ini hadir untuk menjembatani hal tersebut sebagai buah kerja sama antara Prodi Ilmu Komunikasi UWM dan penggiat budaya, dimana kegiatan-kegiatan semacam ini akan sering dilakukan dan dikaji sebagai bahan pengembangan keilmuan.

“Pengabdian dimulai dari diskusi dalam penemuan konsep pesan yang akan ditonjolkan untuk penggarapan video. Sehingga ditemukan bahwa kesederhanaan adalah konsep utama untuk menggambarkan Komunitas Tari Paradance,” ucapnya. Selanjutnya, dilakukan pembahasan desain dan eksekusi sehingga menghasilkan video promosi  yang dapat mereka gunakan dengan target khalayak luas menggunakan media sosial terutama Instagram. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here