Home Opini Mengkritisi Pencalonan Puan Maharani sebagai Capres RI 2024

Mengkritisi Pencalonan Puan Maharani sebagai Capres RI 2024

145
0
Saiful Huda Ems, Advokat dan Pengamat Politik

BERNASNEWS.COM – Puan Maharani sebagai putri kesayangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri memang sangat wajar untuk dicalonkan oleh PDIP sebagai Calon Presiden 2024. Puan yang pernah menjadi Menteri dan sekarang menjadi Ketua DPR RI itu bisa dianggap memiliki pengalaman yang cukup dalam berpolitik, apalagi PDIP merupakan partai terbesar dan pemenang Pemilu 2014 dan 2019.

Masalahnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia ke depan sangat berat. Uutang negara kita tinggi, pertumbuhan ekonomi masih jauh dari target sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Tentu tidak hanya dialami Indonesia tapi juga mengguncang ekonomi negara-negara di dunia. Bersyukirlah Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Jokowi yang visinya bagus dan pekerja keras, hingga badai Covid-19 ini tidak sampai menghancurleburkan perekonomian Indonesia. Perekonomian kita sampai sekarang masih bisa bertahan, di saat perekonomian negara-negara maju lainnya terguncang bahkan banyak yang jatuh bangkrut.

Oleh karena itu, PDIP sebagai partai politik terbesar di negeri ini harus berpikir keras untuk menyuguhkan kader terbaiknya sebagai Calon Presiden RI 2024. PDIP harus menemukan kader yang memiliki kecakapan memimpin atau leadership yang tangguh sekelas Jokowi, jangan sampai PDIP menggunakan jurus aji mumpung karena partai besar lalu grasa grusu atau gegabah asal mengusung kader tanpa memperhitungkan secara matang peluang untuk menang. Sebab ini akan menjadi preseden buruk bagi masa depan PDIP sendiri. Ia akan menjadi partai gurem jika tidak hati-hati mengusung kader untuk menjadi Capres 2024.

Selain itu, PDIP harus bisa belajar dari keadaan Partai Demokrat Cikeas, yang di-bully orang terus menerus dari subuh sampai isya’ selama berbulan-bulan, gara-gara Partai Demokrat Cikeas tidak bisa melepaskan diri dari Dinasti SBY lawan politik bebuyutan Mbak Megawati. \

Partai Demokrat sempat terbelah dua dan Moeldoko yang gagah dan jenius muncul menjadi Ketua Umum Partai Demokrat yang jauh lebih kompeten dan berwibawa daripada AHY. Meski sayangnya hingga hari ini belum ada titik terang kejelasan mengenai dualisme kepengurusan Partai Demokrat ini, karena dalam pandangan hukum kedua belah pihak (Moeldoko dan AHY) masih sama-sama berhak untuk mengklaim keabsahan kepengurusan, sebelum PN atau PTUN memberikan keputusan yang bersifat inkracht atau tetap.

Ada banyak kader di PDIP yang lebih qualified untuk menjadi Capres 2024, Puan Maharani pun sebenarnya juga qualified, masalahnya Puan ya itu tadi seperti yang sudah saya jelaskan, kecuali jika PDIP mau menanggung resiko terberatuntuk ditinggalkan oleh para pendukung suaranya yang tidak menghendaki kader sekelas Puan jadi Presiden 2024.

Saya pikir masih perlu waktu satu periode Pemilu lagi bagi PDIP untuk mematangkan Puan hingga Puan sangat tepat jika diusung menjadi Capres 2029 bukan Capres 2024. Lawan politik PDIP di Pemilu 2024 dari kelompok Islam Politik (radikalis) juga merupakan figur-figur politisi yang sangat kuat, minimal dari sisi konsolidasi antar tokoh masyakarat, bukan dari sisi kapasitas intelektual dan manajerial atau kepemimpinan dirinya. Jadi lebih baik PDIP mempertimbangkan kembali untuk membatalkan pencalonan Puan Maharani.

Kelompok Nasionalis ke depan harus solid jika tak ingin digerus kelompok radikalis, dan soliditas kelompok Nasionalis itu tak akan terwujud di Pemilu 2024 jika kelompok Nasionalis tidak berhati-hati menyuguhkan Capres yang akan diusung. Ia harus figur yang benar-benar memiliki kecakapan memimpin, berprestasi dan sangat dikenal dan digandrungi mayoritas rakyat.

Kalau hanya pintar saja tapi gak dikenal gak akan menang, kalau hanya populer dan digandrungi mayoritas rakyat saja namun gak pinter, gak punya kecakapan memimpin, Indonesia ke depan juga akan jadi babak belur. Maka dari itu PDIP harus benar-benar menemukan sosok figur yang memiliki keseimbangan keduanya, kecakapan memimpin dan digandrungi rakyat. Ia bisa dicari dari kalangan internal PDIP sendiri, bisa juga dicari dan ditemukan dari luar partai. Kalau untuk kemajuan Indonesia tentu tidak bermasalah bukan? (Saiful Huda Ems, Advokat dan Pengamat Politik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here