Home Opini Menggerakkan Perekonomian DIY

Menggerakkan Perekonomian DIY

685
0
Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY/Atma Jogja) dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Dampak Pandemi Covid-19 terhadap perekonomian DIY sampai dengan semester kedua tahun 2020 terbukti signifikan. Berdasarkan data BPS DIY (2020), perekonomian DIY triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 6,74 persen (year-on-year). Kondisi ini berbalik arah jika dibanding pertumbuhan periode yang sama di tahun 2019 sebesar 6,77 persen.

Banyak pihak berharap, termasuk penulis, agar trend pertumbuhan ekonomi negatif tersebut tidak berlanjut pada triwulan III-2020 dan triwulan IV-2020. Bagaimana upaya yang harus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi negatif DIY dapat dicegah seminimal mungkin? Bahkan diharapkan berbalik arah (rebound) ke arah pertumbuhan ekonomi yang positif. Jawaban pertanyaan tersebut menjadi fokus artikel ini.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh permintaan agregat dan penawaran ageregat (Sri Susilo, 2020a). Permintaan agregat meliputi faktor atau variabel konsumsi rumah tangga (masyarakat), investasi swasta, pengeluaran pemerintah, dan net ekspor (selisih antara ekspor dengan impor). Dari sisi penawaran agregat, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah modal fisik, modal insani, modal finansial, modal sumber daya alam,  modal sosial dan kemajuan teknologi.

Agar perekonomian dapat tumbuh maka roda-roda perekonomian harus digerakkan. Bagaimana agar roda-roda perekonomian dapat bergerak? Jawabannya jelas! Baik permintaan dan penawaran agregat harus di dorong untuk beraktifitas kembali secara selektif, bertahap dan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Protokol kesehatan yang ketat mencakup 3M dan 3T. Arti 3M adalah memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Selanjutnya 3T adalah tes (test), telusuri (tracing) dan tanggulangi (treatment). Di samping itu, juga diperlukan 3S yaitu semprot semua sarana yang terkait dengan kegiatan ekonomi.

Dari sisi permintaan agregat, untuk jangka pendek, yang paling dimungkinkan adalah menjaga dan mendorong konsumsi masyarakat. Untuk itu diperlukan agar daya beli masyarakat tidak turun dan hal tersebut dapat dicapai jika harga-harga barang/jasa relatif stabil (terjaganya tingkat inflasi yang rendah). Kebijakan pemerintah untuk mendorong konsumsi kelompok masyarakat miskin, melalui berbagai perlindungan sosial, termasuk bagian dari upaya agar konsumsi masyarakat dapat menjadi salah satu variabel pendorong pertumbuhan ekonomi (consumption led growth). Langkah perlindungan sosial dilakukan melalui bantuan pada masyarakat melalui program keluarga harapan, kartu sembako, bansos tunai, dan kartu pra kerja

Variabel pengeluaran pemerintah (APBN dan APBD) juga dapat diharapkan untuk mencegah pertumbuhan ekonomi yang negatif. Seperti diketahui, berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah pusat, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar roda-roda kegiatan ekonomi. Sejumlah kebijakan yang berupa stimulus fiskal dan non-fiskal, pelonggaran moneter, stimulus perbankan, dan dukungan pemda melalui refocusing serta realokasi APBD. Pemerintah pusat juga telah dan sedang menjalankan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) agar proses pemulihan ekonomi dapat berjalan lebih cepat. Hal ini dikarenakan berbagai program stimulus dan PEN juga menyentuh langsung dan tidak variabel-variabel penawaran agregat.

Jika berbagai stimulus dan program PEN dapat berjalan secara optimal maka penulis yakin pertumbuhan ekonomi negatif/kontraksi DIY di triwulan III-2020 dapat dicegah agar tidak menjadi lebih parah. Jika kondisi tersebut dapat berlanjut maka pertumbuhan ekonomi DIY di triwulan IV-2020 dapat menuju ke arah positif dan diharapkan dapat tumbuh positif meskipun dengan besaran yang relatif kecil.

Industri Pariwisata dan Jasa Pendidikan

Kegiatan industri pariwisata dan jasa pendidikan (khususnya PTN/PTS) dapat menjadi “lokomotif” begeraknya kegiatan ekonomi lain, seperti transportasi, komunikasi, perdagangan, industri pengolahan. Terkait dengan perdagangan dan industri pengolahan termasuk di dalam kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kontribusi total kegiatan pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2019 mencapai 55 persen pada tahun 2019. Dengan rincian kontribusi langsung (sub-sektor hotel & restoran 10,3 persen) dan kontribusi tidak langsung (sub-sektor perdagangan 8,5 persen, transportasi 5,7 persen, infokom 8,2 persen, industri pengolahan 13,1 persen dan konstruksi 9,4 persen).

Jika kontribusi industri pariwisata digabung dengan aktivitas sub-sektor jasa pendidikan maka kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Kontribusi industri pariwisata dan jasa pendidikan maupun sektor pendukungnya pada tahun 2019 berkontribusi 64,6 persen dari pertumbuhan ekonomi DIY. Kedua sektor tersebut memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan.

Dalam jangka pendek untuk sub-sektor jasa pendidikan (khususnya PTN/PTS) belum dapat diharapkan lagi sebagai motor penggerak perekonomian. Kondisi ini terkait PTN/PTS di DIY setidaknya sampai akhir tahun 2020 masih menggunakan sistem kuliah daring (online). Sistem kuliah tersebut menjadikan sebagian besar mahasiswa dari luar DIY belajar dari rumah masing-masing. Seperti diketahui, kegiatan pendidikan tinggi (PTN/PTS) mempunyai efek pengganda yang signifikan. Kegiatan pendidikan (tinggi) akan mendorong aktivitas warung makan, jasa fotocopy dan sejenisnya, jasa laundry, pondokan, dan sebagainya.

Kuliah daring PTN/PTS juga berdampak pada jumlah uang yang masuk (transfer) ke DIY yang menurun nyata. Sebagai gambaran, hasil kajian BI DIY (2020) menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa PTN/PTS (Diploma dan Sarjana) mencapai mencapai 357.554, dan 77 persen merupakan mahasiswa pendatang. Dengan asumsi sebagian besar mahasiswa pendatang pulang kampung dan pengeluaran rata-rata mahasiswa Rp 3.028.850 perbulan maka potensi uang yang beredar di DIY berkurang Rp 833,9 miliar perbulan.

Terkait dengan kondisi maka “lokomotif” penggerak perekonomian DIY dalam jangka pendek adalah industri pariwisata. Kegiatan industri pariwisata secara bertahap selektif dan bertahap dapat didorong untuk beraktifitas kembali. Beberapa kegiatan industri pariwisata seperti penyedia akomodasi, penyedia makanan dan minuman, jasa transportasi, dan kawasan wisata alam terbuka (pantai, hutan, candi, desa wisata, kebun binatang, taman wisata dan sejenisnya) dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat (3M, 3T dan 3S).

Sejauh penulis ketahui, untuk protokol kesehatan dapat dijalankan dengan relatif baik oleh pengelola kegiatan pariwisata. Sedikit catatan untuk menjaga jarak dan kerumunan di beberapa lokasi wisata masih sering terjadi. Untuk itu kebijakan penerapan maksimal 50 persen dari kapasitas pengunjung harus benar-benar diterapkan dengan ketat dan jika perlu mendapat pengawasan dari pihak yang berwenang. Di sisi lain wisatawan kurang tertib dalam mengenakan masker, harus ditertibkan dan jika perlun mendapat sanksi yang bersifat edukasi.

Beberapa aktivitas (penunjang) pariwisata, misalnya homestay, klab malam dengan live music, gedung bioskop dan sejenisnya harus dipertimbangkan dengan cermat dan teliti sebelum dapat dibuka kembali. Untuk homestay/guesthouse/wisma dan sejenisnya yang terletak di wilayah pemukiman/ kampung harus disertai pertimbangan khusus misalnya koordinasi dengan masyarakat setempat. Hal ini terkait dengan kedatangan tamu dari luar kota/daerah, khususnya wilayah yang dianggap rawan virus Corona (Jakarta, Surabaya, Depok, Bogor dan sebagainya).

Untuk klab malam, gedung bioskop dan sejenisnya terkait dengan bangunan yang tertutup dan menjaga jarak/ kerumunan penonton/ tamu. Jika pengawasan terhadap kapasitas pengunjung belum dapat dijalankan dengan baik maka dipertimbangkan untuk ditunda aktivitasnya.

Catatan Penutup

Penulis cukup optimis bahwa pertumbuhan ekonomi DIY triwulan III-2020 dapat dicegah agar kontraksinya tidak lebih dalam. Hal tersebut dimungkinkan jika implementasi dari program stimulus fiskal dan non-fiskal, pelonggaran moneter, stimulus perbankan, program PEN dan dukungan pemda melalui refocusing serta realokasi APBD dapat berjalan dengan optimal.

Di samping itu, kegiatan industri pariwisata dapat didorong kembali menjadi “lokomotif” perekonomian DIY. Hal ini sangat dimungkinkan jika mendapat dukungan penuh dari pemda (DIY dan Kabupaten/Kota) dan pelaku industri pariwisata sendiri, termasuk pemangku kepentingan yaitu Kantor Perwakilan BI DIY, OJK DIY, Akademisi (PTN/PTS), ISEI DIY, KADIN DIY dan Media Massa. (Dr. Y. Sri Susilo, SE, MSi, Dosen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY/Atma Jogja) dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here