Home Ekonomi Menggerakkan Ekonomi Lokal

Menggerakkan Ekonomi Lokal

163
0
Y. Sri Susilo,Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Dikusi Kritis Media Yogyakarta #04 digelar, Sabtu (25/07/2020), di Kafe Taru Martani,Yogyakarta, menghadirkan narasumber Miyono (BI), Ni Made Dwipanti Indrayanti (Pemda DIY), Huda Tri Yudiana (DPRD DIY), Y. Sri Susilo (ISEI DIY), Cahyadi Joko (Pelaku Ekonomi), dan pelaku usaha dari ASITA DIY. Sebagai moderator Dwi Suyono (Koordinator Diskusi). Topik yang diusung adalah “Quo Vadis UMKM DIY?”.

“UMKM di DIY terdampak Pandemi Covid-19 secara signifikan,” jelas Y. Sri Susilo. Menurut Susilo, UMKM di DIY terdampak baik dari sisi penawaran/ produksi maupun sisi permintaan. Dari sisi penawaran, pasokan bahan baku baik domestik maupun impor terhambat. Sedangkan dari permintaan, banyak pesanan dibatalkan dan jumlah pembelian turun drastris,

“Untuk menggerakkan UMKM di DIY harus dimulai dari menggerakan kegiatan industri pariwisata dan jasa pendidikan. Kedua kegiatan ekonomi tersebut menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di DIY,” ungkap Y. Sri Susilo.

Industri pariwisata di DIY harus mulai digerakkan secara selektif, terbatas dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, lanjut Susilo menambahkan, pengertian selektif adalah adanya prioritas untuk lokasi pariwisata yang dibuka misalnya wisata pantai, wisata hutan, wisata candi dan sejenisnya. Prioritas diberikan kepada kegiatan pariwisata di tempat yang terbuka. Untuk itu perlu didukung kegiatan hotel dan restoran, jasa transportasi, UMKM dan sebagainya.

Pengertian terbatas adalah lokasi wisata yang telah dibuka tersebut dibatasi baik jam operasi, jumlah pengunjung, jumlah pengelola, dan kegiatan pendukung seperti warung-warung makanan di sekitar lokasi wisata. Selanjutnya perlu juga diterapkan protokol kesehatan secara ketat, baik wajib mnegnakan masker, cek suhu badan, cuci tangan, dan jaga jarak, sertai hindari kerumunan.

“Jasa pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, harus mulai berani menerapkan kuliah offline (luring) secara terbatas,” usul Y. Sri Susilo. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang besar di DIY dapat melakukan uji coba kuliah offline (luring) secara selektif dan terbatas. Bebarapa mata kuliah di program studi dipilih dengan jumlah 10 mahasiswa yang berdomisili di DIY  dapat dicoba kuliah luring.

Kuliah tersebut juga sekaligus dikoneksikan melalui Zoom atau MS Teams sehingga dapat diakses melalui Youtube oleh mahasiswa baik di dalam maupun luar kota secara online (daring). Jika uji coba tersebut lancar, maka dapat dicoba dengan mengundang secara terbatas dan bertahap mahasiswa yang tinggal di luar DIY. Kondisi ini secara perlahan dapat menggerakkan ekonomi lokal di DIY.

“Lembaga pemerintah dan swasta juga harus berpartisipasi untuk menggerakkan ekonomi lokal DIY,” ajak Susilo. Partisipasi tersebut dapat direalisasikan dengan mulai melakukan rapat dan sejenisnya secara luring, terbatas, dan di luar kantor (misalnya hotel). Individu dan rumah tangga juga dapat berpartisipasi, misalnya dengan makan di restoran, berwisata lokal dan sejenisnya.  “Satu hal yang wajib ditaati adalah protokol kesehatan yaitu kenakan masker, cuci tangan, jaga jarak dan hindari kerumunan,” tegas Y. Sri Susilo. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here